
Apabila banyak pasangan pengantin baru memilih Bali sebagai destinasi bulan madu, berbeda dengan Raffa dan Clara. Keduanya memilih kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya pernikahan mereka dan sekaligus tempat bulan madu mereka berdua.
Mengambil cuti untuk waktu yang lama tidak masalah bagi Raffa, karena ia bisa mempercayakan urusan Paradise Hotel kepada Rino, sahabat sekaligus orang kepercayaannya di kantor.
Sementara Clara, karena ia telah menikahi sang CEO Paradise Hotel maka ia pun mendapatkan hak khusus untuk juga bisa mengambil cuti bulan madu.
Satu usai pesta pernikahan benar-benar dihabiskan Raffa dan Clara hanya berdiam di dalam kamar. Lantaran aktivitas pasangan suami istri yang benar-benar membuat Clara kesulitan untuk berjalan. Rasa perih dan panas menjalar dari pangkal pahanya hingga ke seluruh kakinya. Pinggangnya pun begitu terasa pegal, seperti encok rasanya.
Di hari pertama bulan madu mereka, baik Raffa dan Clara benar-benar menghabiskan waktu untuk beristirahat dan recovery. Berbeda dengan Clara, Raffa justru nampak tak kelelahan sama sekali. Sang pemilik wajah tampan itu justru terlihat fresh dengan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya.
"Kamu capek Sayang?" tanya Raffa sembari mendekati Clara yang rebahan sembari menyelonjorkan kedua kakinya.
"Banget Mas... capek banget rasanya. Kamu ngelakuinnya enggak tanggung-tanggung sih." gerutu Clara kepada suaminya itu.
Raffa semakin mendekat, tangannya mulai memijat kaki istrinya yang terasa capek itu. "Melakukan segala sesuatu jangan setengah hati, jangan tanggung-tanggung, harus all out." ucapnya tanpa beban.
Clara hanya memijit-mijit pelipisnya. "Dulu Mama hamil itu ngidam apa ya Mas? Kok anaknya bisa percaya diri tinggi gini. Narsis kamu itu, Mas." jawabnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Raffa hanya tertawa mendengar perkataan Clara. "Kamu ada-ada aja, tidak ada hubungannya antara ngidam dan aku yang percaya diri." ucapnya sembari memincingkan matanya. "Bukankah sudah pernah kukatakan, hanya kepadamu lah semua sisi lain dari kepribadianku terungkap, Clara. Tidak mungkin aku berlaku seperti ini kepada orang lain. Kamu pun begitu, bersamaku, kamu bebas menjadi dirimu sendiri. Aku bisa menerima semua tentangmu. Semua kepribadian yang selama ini kamu sembunyikan, bukalah denganku. Tunjukkan dirimu yang sebenarnya denganku. Aku suamimu, aku sudah berjanji menerimamu apa adanya."
Perkataan Raffa memang benar. Bersama pasangan kitalah, kita bebas menjadi diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengenakan topeng untuk menyembunyikan sesuatu di wajah kita atau pun berusaha menjadi orang lain dengan karakter topeng yang kita kenakan. Pasangan hidup kita, orang yang akan menemani kita bukan hanya hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Pasangan hidup yang akan menemani kita sepanjang hayat, kepadanya lah kita bisa menjadi diri kita sendiri. Pasangan yang sudah tentu menerima kita apa adanya, pasangan yang akan melengkapi kekurangan kita dengan kelebihannya, pasangan yang akan menggandeng tangan kita untuk melangkah bersama.
Clara terharu dengan ucapan Raffa. Ia menyadari bahwa mungkin kenyamanan yang membuat Raffa bebas menjadi dirinya sendiri di depan Clara. Pria itu tidak perlu berpura-pura mempertahankan image dan citranya.
"Terima kasih ya Mas, karena sudah mau menunjukkan dirimu, sisi lain dari dirimu kepadaku. Sama sepertimu, aku pun tidak akan sungkan untuk membagi hidupku, keseharianku denganmu. Aku akan menjadi sebuah buku yang terbuka yang bisa kau baca kapan saja. Terpampang jelas di sana setiap halaman, bab, alinea, kalimat, dan kata. Tidak perlu lagi yang aku sembunyikan karena buku ini hanya ada satu di dunia, dan kamu pemiliknya." ucap Clara dengan sungguh-sungguh.
Raffa menghentikan sejenak pergerakan tangannya yang tengah memijit kaki Clara. Tangannya terulur mencubit gemas hidung Clara. "Istri siapa sih sudah pinter berkata-kata puitis kayak gini?"
Menahan tawa, Clara menjawab ucapan Raffa. "Aku belajar darimu. Bukankah katamu barusan, aku bebas menjadi diriku sendiriku. Kamu akan menerima apa pun tentangku."
"Aku bukan merayumu, Mas. Aku hanya mengatakan dengan suatu analogi bahwa aku akan menjadi buku yang terbuka. Sebuah buku yang terpampang jelas setiap halaman, bab, alinea, kata, bahkan hingga tanda bacanya. Buku yang bisa kau baca setiap saat. Akulah buku itu, dan kamu pemiliknya." ucap Clara sembari menangkup wajah Raffa dengan kedua tangannya.
"Hm-hm, baiklah karena kamu adalah buku yang terbuka, bersiaplah untuk buka-bukaan denganku." jawabnya sembari terkekeh geli.
Clara merotasi bola mata dengan malas. Entah mengapa Raffa begitu antusias menggodainya dengan ucapan yang sudah pasti kemana arah dan jurusannya. "Kalau diajak bicara pasti arahnya ke sana. Males deh." ucap Clara sembari mengerucutkan bibirnya.
Raffa semakin tertawa melihat istrinya itu. "Jangan dimaju-majuin bibirnya, nanti aku samber kamunya protes. Padahal kamu duluan yang memulai."
"Isshh, apa sih Mas. Gak jelas banget. Ya udah, aku tidur aja. Capek... bicara kamu malahan tambah capek." jawab Clara seraya membenamkan dirinya ke dalam tempat tidur dan bergelung di bawah selimut.
Gemas. Raffa pun justru turut serta bergelung di bawah selimut bersama Clara. Pria itu dengan gemas menciumi wajah Clara. Sementara Clara benar-benar dalam mode malas saat ini.
"Ya sudah, aku enggak bercanda lagi. Kamu mau tidur? Sini aku peluk... Istirahat. Seharian ini kita di hotel saja ya, besok kita jalan-jalannya. Mau pengen kemana aja aku anterin, bikin list dulu tempat mana aja yang pengen kamu datengi. Makanan apa yang pengen kamu coba mumpung kita di Bandung." ucap pria itu lembut.
Clara sedikit mengangkat wajah, melihat wajah Raffa. "Euhm, sebenarnya ada tempat yang pengen aku datangi." ucapnya.
Raffa memincingkan matanya. "Tempat mana yang pengen kamu datengi? Kita bisa ke sana jika kamu mau, kita kan masih punya banyak hari cuti. Yuk, kita datengi bareng-bareng. Kemana?"
Sedikit tersenyum, Clara berkata. "Singapura." ucapnya penuh keyakinan.
Raffa gemas dan mencubit hidung Clara yang mancung itu. "Aku sudah tahu, pasti kamu ingin beli es potong Singapura yang harganya 1 dollar itu kan? Ngaku...."
Clara terkekeh geli. "Ketahuan banget ya..." Jeda sejenak. "Sebenarnya bukan hanya itu, Singapura menjadi tempat dengan banyak kenangan bagi kita berdua. Bahkan, hubungan kita berdua pun bermula dari sana kan? Singapura harus masuk dalam satu list tempat memorable buat kita berdua, Mas."
Raffa tersenyum. "Iya, hubungan kita bermula saat kita di Singapura. Aku akan selalu mengingatnya. Jadi, kamu mau ke Singapura? Aku bisa mencarikan tiketnya sekarang untuk berangkat besok. Mau??"