When My Love Bloom

When My Love Bloom
Mengurai Cerita



Clara masih nampak tertegun dengan tindakan Raffael yang tiba-tiba. Sikap Raffael tidak seperti biasa. Memang dalam lima tahun terakhir, Raffael selalu baik kepada Clara. Namun, Clara merasakan ada perubahan sikap dari Raffael semenjak, Clara menyetujui menjadi pacar pura-puranya dalam acara reuni SMA nya.


Jarak yang begitu dekat dengan Raffael, tentu membuat Clara berdebar-debar. Hatinya dag dig dug tak karuan. Bahkan ia sengaja menahan nafasnya, lantaran terlalu grogi dekat dengan Raffael.


Untung momen persekian detik itu sudah berlalu, sehingga Clara bisa kembali bernafas lega, dan Raffael tengah bersiap menjalankan mobilnya.


"Kita mampir makan dulu ya Clara? Aku telah melewatkan makan siang tadi, sehingga perutku lapar." Ucap Raffael sembari fokus mengemudikan mobilnya.


"Ah, iya Pak..." Sahut Clara sembari ia menganggukkan kepalanya.


"Kau ingin makan apa Clara? Kita bisa berhenti di rumah makan yang ada."


Clara tertegun kembali mendengar pertanyaan Raffael. Bukankah dia yang lapar, tetapi mengapa ia justru menanyakan Clara ingin memakan apa. Mengapa dalam tiga hari, Raffael begitu berubah menjadi aneh dan tidak seperti biasanya.


"Bagaimana Clara, kau ingin makan apa? Kenapa hanya diam saja?" Kali ini Raffa kembali menanyakan kepada Clara apa yang ingin ia makan.


"Apa saja tidak masalah, Pak Raffa. Lagipula, saat ini Bapak yang lapar. Jadi, pasti Pak Raffa bisa memikirkan salah satu menu makanan untuk dimakan."


"Hmm, begitu ya? Baiklah, aku yang akan menentukan akan makan apa, asalkan kau menemaniku makan."


"Baik Pak Raffa."


Raffa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekali pun perutnya kelaparan, tapi ia tak ingin terburu-buru. Justru ia ingin sedikit lebih lama bersama Clara, apalagi sudah hari lamanya ia meninggalkan pekerjaannya dan menemani Papanya ke Tanjung Pinang. Saat bersama dengan Clara seperti inilah yang dinantikan, Raffa. Meskipun demikian, ia masih mencoba bersikap sewajarnya. Sekali pun ia bahagia, wajahnya pun biasanya saja, tidak terlihat raut kebahagiaan di sana.


Akhirnya, Raffa menghentikan mobilnya di salah satu restoran yang menjual steak. Ia ingin memakan Beef Steak sore ini.


"Ayo Clara, kita makan ini. Tiba-tiba aku ingin makan steak."


"Baik Pak..."


Clara pun turut mengikuti atasannya itu masuk ke dalam restoran.


Raffael memilih Tenderloin Steak dengan tingkat kematangan Medium Well, dan Clara juga memilih menu yang sama.


"Bagaimana pekerjaan di Tanjung Pinang, Pak? Apakah lancar?" Tanya Clara membuka obrolan. Keduanya memang sering kali membicarakan hal tentang pekerjaan satu sama lain. Bahkan sering kali, Clara juga memberikan saran-saran untuk Raffa.


"Kemarin kami hanya mengecek lokasi lahan saja. Papa berniat mengembangkan bisnis perhotelan ke sana. Dan, Papa juga memintaku untuk mengurus proyek di sana. Jika aku mau, tentu aku akan sering-sering ke Tanjung Pinang. Aku mengiyakan untuk menolong Papa, tapi jika untuk menetap di sana aku belum bisa. Aku masih enggan meninggalkan kota ini."


Raffa memang nampak berpikir, dan ia tentunya tidak boleh gegabah. Bertahan di kota ini karena masih ada yang perlu ia kejar selain kesuksesan bisnis. Ia ingin memenangkan hati sekretarisnya sendiri. Namun, baru saja ia maju satu langkah, Papa nya sudah terlebih dahulu meminta Raffa untuk meng-handle bisnis di luar pulau.


"Lalu, bagaimana menurut Pak Raffa sendiri?" Tanya Clara sembari mengamati Raffa yang duduk di depannya.


"Aku justru lebih tertarik mengembangkan bisnis ke kota Batam. Kota itu berhadapan langsung Negara Singapura, terdapat pelabuhan internasional untuk penyebrangan ke Singapura dan Johor Bahru, Malaysia. Mengembangkan bisnis ke kota Batam menurutku lebih menguntungkan."


"Saya setuju dengan pemikiran Pak Raffa. Mengapa Anda tidak mencobanya Pak? Merealisasikan ide itu jauh lebih baik, sehingga tantangan yang ada di depan pun dapat diprediksi dan dihadapi." Ucap Clara dengan penuh keyakinan.


Clara terdiam, wajahnya pun menunduk. Jujur, ia tak berani menatap Raffael. Tentu ia ingat, waktu lima tahun lalu, ia dengan penuh keyakinan akan siap ditempatkan di mana saja. Namun, sekarang tentu untuk berpindah ke kota lain apalagi di luar pulau, ia membutuhkan izin dari kedua orang tuanya. Sekalipun ia telah lama hidup sendiri di ibu kota, tetapi izin dari Ayahnya tetap ya utama.


"Saya sendiri tentu tidak keberatan Pak Raffa..." Jeda. "Akan tetapi, saya tetap membutuhkan izin dari Ayah dan Ibu saya, terlebih untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama di luar kota yang letaknya berada di luar pulau juga."


Clara hanya mencoba menjelaskan pemikirannya, dan ia tentu berharap Raffa dapat menerima alasannya.


"Tentu izin dari kedua orang tuamu penting, Clara. Namun, jikalau bisa ikutlah denganku, saat aku memulai mengembangkan bisnisku nanti. Karena... aku bisa sampai di titik ini karena dukunganmu. Kau telah bekerja sangat baik selama ini." Ucap Raffa dengan sungguh-sungguh.


"Iya Pak Raffa..."


Sekian belasan menit mereka bercerita, akhirnya pelayan menyajikan Tenderloin Steak yang semula telah ia pesan.


Raffa nampak mengiris tipis-tipis daging tenderloin di piringnya dengan pisau dan garpu. Seluruh bagian daging telah terpotong, sehingga memudahkan untuk dimakan.


"Ini Clara, makanlah. Kau akan lebih mudah memakannya." Raffa menyerahkan piringnya dengan daging yang telah diiris tipis dan rapi, dengan pelan-pelan ia memberikan piring itu kepada Clara, dan ia mengambil piring Clara dengan daging sapi yang masih utuh.


Betapa terkejutnya Clara dengan perlakuan Raffa. Lagi-lagi ia tak menyangka bahwa Raffa, atasannya yang selama ini dingin justru rela mengiris tipis-tipis dagingnya lalu memberikannya untuk Clara.


"Ah, Pak... Tidak usah. Saya bisa sendiri." Ucap Clara ingin menahan piring di depannya.


"Tak apa-apa. Ayo, makanlah." Raffa justru memberikan senyuman manis kepada Clara.


"B... Baik Pak... Maaf, merepotkan Pak Raffa."


"Aku tidak repot sama sekali Clara. Ayo, makanlah. Mumpung masih hangat."


"Iya Pak. Terima kasih..."


Dengan perlahan, Clara mulai menikmati Beef Tenderloin Steak itu. Mengecap rasanya perlahan, menikmati tekstur dagingnya.


"Wah, steak ini memang enak." Gumam Clara dalam hati.


Sementara Raffa pun yang tengah kelaparan, juga menikmati makanannya selahap mungkin.


"Bagaimana rasanya menurutmu, Clara?" Tanya Raffa sembari mengiris daging menjadi potongan kecil-kecil dan menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.


"Rasanya enak, Pak..." Sahut Clara sembari mengunyah daging di dalam mulutnya.


"Hmm. Benar, ini enak. Kau boleh tambah lagi kalau kamu mau."


"Ah tidak Pak. Ini sudah cukup. Lagipula sebelum ke bandara menjemput Pak Raffa, saya sudah memakan roti gandum. Ini sudah cukup Pak. Terima kasih..."