When My Love Bloom

When My Love Bloom
Sadar Diri



Keesokan harinya di Paradise Hotel, pagi hari Clara telah sampai di ruangan kerjanya. Ia segera mengecek setiap laporan hari ini dan sekaligus mempersiapkan laporan dari divisi marketing yang harus segera dicek Raffa.


Seperti biasanya, Clara telah memiliki serangkai catatan tugas yang akan ia kerjakan, catatan tugas itu akan sangat membantunya untuk menyelesaikan pekerjaan satu per satu. Dan, tentunya tidak ada yang terlewat.


Menjelang jam 9 pagi, Raffa datang. Pria itu nampak hanya mengenakan kemeja tanpa dasi. Biasanya image rapi begitu melekat dengan sosok Raffa. Tetapi, hari ini ia datang hanya dengan kemeja dan jasnya hanya ia bawa dalam lengan tangannya.


Melihat pemandangan yang tidak seperti biasanya, Clara segera berjalan menghampiri atasannya itu.


"Selamat Pagi Pak Raffa, ada yang bisa saya bantu?" tanya Clara sembari membungkukkan sedikit badannya.


"Tidak, tidak perlu." balas Raffa.


"Tetapi, kenapa Pak Raffa datang seperti ini? Tidak biasanya Pak Raffa seperti ini." Clara masih berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Silakan masuk dulu, Pak. Saya akan buatkan kopi untuk Pak Raffa."


Clara pun berjalan menuju pantry, sementara Raffa segera memasuki ruangan kerjanya. Clara membuatkan secangkir kopi panas untuk Raffa, usai itu dengan segera ia memasuki ruangan Raffa.


"Pak Raffa, silakan kopinya." ucapnya sembari menaruh secangkir kopi panas di atas meja.


"Terima kasih, Clara." ucapnya sembari mengambil secangkir kopi dengan tangannya, lalu meminum kopi itu perlahan.


Clara masih berdiri, ia tampak mengamati-amati Raffa.


"Kenapa Clara, apa masih ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Raffa.


"Tidak Pak, hanya saja saya merasa Pak Raffa sedang tidak baik-baik saja. Bapak bisa cerita sama saya, ya itu pun kalau Pak Raffa mau."


Raffa mengutas sedikit senyuman sembari memandang Clara.


"Duduklah di sini." ucap Raffa sembari menepuk sofa yang ia duduki.


Clara justru tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia justru kebingungan sekarang ini.


"Duduklah di sini, Clara. Kau mendengarku kan?"


"Baik Pak."


Clara mengambil jarak lalu duduk di sebelah Raffa. Raffa kembali tersenyum saat Clara telah duduk di sisinya.


"Jadi bagaimana kau sudah memikirkannya?" tanya Raffa sembari memutar sedikit posisi duduknya, hingga ia kini dapat mengamati Clara.


"Memikirkan apa Pak?" Clara justru berbalik bertanya.


"Pertanyaan saya semalam. Kamu mau tidak menjadi calon istri saya? Kalau kamu mau, saya akan langsung membawamu kepada Mama dan Papa." ucapnya enteng.


"Maaf Pak, mungkin bagi Pak Raffa ini lelucon, tapi bagi saya tidak. Karena hubungan kita hanya hubungan professional kerja, Anda atasan saya Pak. Jadi, saya sangat sadar diri siapa saya ini." ucap Clara dengan mencoba menahan emosinya.


"Jangan terburu-buru, aku akan memberimu waktu. Pikirkanlah terlebih dahulu." sahut Raffa.


"Tidak Pak, lagi pula Pak Raffa bukan termasuk dalam kriteria saya."


"Lalu, seperti apa kriteriamu?"


"Saya tentu akan memilih pria yang mencintai saya, Pak. Tidak mungkin saya menikah dengan pria yang tidak saya cintai."


"Baiklah kalau begitu." ucap Raffa perlahan dengan menghela nafasnya perlahan. "Saya akan memutuskan untuk mengejarmu, Clara. Karena... saya akan memacari kamu. Kita bisa pacaran dulu sebelum menikah nanti."


Clara justru semakin pusing mendengar ucapan Raffa yang semakin membingungkannya.


"Pak Raffa kenapa sih, kemarin minta saya menjadi calon istri, sekarang berkata akan memacari saya. Kenapa sih Pak? Kalau Pak Raffa masih aneh-aneh, saya lebih baik resign, Pak. Saya mulai tidak nyaman bekerja bersama Bapak. Permisi saya kembali ke ruangan saya." kembali Clara berbicara ketus dengan Raffa. Dengan segera sekretaris cantik itu keluar dari ruangan Raffa.


Raffa hanya mendengkus kesal, ucapannya yang serius justru tidak ditanggapi dengan benar oleh Clara.


Bagaimana caranya kau tahu perasaanku Clara?


Dari balik kaca yang memisahkan keduanya, pandangan Raffa selalu tertuju pada Clara, sementara Clara terlihat saat serius dengan personal komputer di hadapannya.


Akhirnya, Raffa meninggalkan sofa tempatnya duduk dan kembali ke meja kerjanya. Meeting akhir pekan nanti di Singapura harus ia ikuti, terlebih akan ada afiliasi gabungan Perhimpunan Hotel dan Restoran se Asia Tenggara yang harus ia persiapkan.


Saat ini ia begitu membuktikan Clara, tetapi melihat Clara yang dalam mood yang tidak baik maka Raffa memutuskan untuk mempersiapkan berbagai file dan dokumen yang ia butuhkan seorang diri.


Mengingat besarnya pertemuan akhir pekan nanti, membuat Raffa harus fokus. Ia tidak boleh membuat kesalahan, dan yang pasti terkait data semua harus tersedia, karena itulah Raffa bertujuan mengajak Clara, karena Clara lah yang memegang semua data dan informasi penting di Paradise Hotel. Selain itu, Clara pun memiliki data digital dalam tabletnya yang sangat lengkap di dropbox dan drive nya.


Merasa sangat mendesak, dan harus membahas afiliasi di Singapura nanti, Raffa pun memencet interkom yang menghubungkannya dengan Clara. Hanya dengan satu kali pencet, dan tidak lama kemudian Clara mengetuk pintu Raffa.


"Ya Pak Raffa ada yang bisa saya bantu?"


"Kamis nanti kita akan berangkat ke Singapura, Clara. Tolong siapkan untuk tiket pesawat dan akomodasi selama di sana." perintah Raffa kepada Clara.


"Baik Pak."


"Untuk semua data yang kamu miliki tolong disiapkan, minta divisi lain memperbarui laman situs utama hotel kita, foto-foto terbaru, dan brosur digital. Di sana kita akan mendapat waktu untuk mempresentasikan Paradise Hotel." lagi Raffa memberikan perintah yang harus dipersiapkan Clara.


"Tempat pertemuan nanti di sekitarkan Clarke Quay, Clara... Jadi cara hotel untuk kita menginap yang dekat dengan tempat acara sehingga tidak memakan banyak waktu."


"Baik Pak, saya akan mencari hotel di Clarke Quay. Ada lagi Pak?"


"Bawalah juga dress formal, karena akan ada gala dinner saat afiliasi nanti. Aku lebih baik memberitahumu daripada nanti kita salah kostum di sana." ucap Raffa mengingatkan Clara.


"Ya, baik Pak... Apakah ada lagi?"


"Tidak itu saja, nanti Kamis kita akan berangkat pagi saja Clara. Jakarta - Singapura selisih waktu 1 jam, kita bisa istirahat sejenak sebelum mengikuti gala dinner itu. Oke, itu saja. Apa masih ada yang ingin kau tanyakan atau yang lain?"


"Tidak ada Pak. Saya akan siapkan data yang dibutuhkan dan meminta divisi lainnya untuk mempersiapkan brosur digital, dokumentasi terbaru, dan update laman situs. Setelah itu saya akan siapkan tiket dan akomodasi selama di sana. Sudah kan Pak?"


Raffa menganggukkan kepalanya mendengar kembali ucapan Clara, dia memang benar Clara begitu terampil dan kompeten.


"Baik, itu saja. Siapkan semuanya dengan baik, Clara. Terima kasih."