When My Love Bloom

When My Love Bloom
Pegang Tanganku



Clara memutar bola matanya, terkadang ia merasa jengah dengan perilaku Raffa yang terlewat aneh. Bahkan atasannya itu pernah terang-terangan mengaku untuk mengejarnya.


Lama Clara terdiam, terlintas dalam benaknya setiap ucapan-ucapan aneh yang Raffa ucapkan, tetapi sekali pun bagi Clara ucapan Raffa terasa aneh, tetapi wajahnya sangat serius. Bahkan ketika Raffa baru saja mengatakan ingin sarapan di apartemen Clara untuk menikmati teh seduh racikan Clara dan roti bakar, wajahnya terlihat sangat serius.


"Kenapa kau tiba-tiba diam, Clara?" suara Raffa menyadarkan Clara dari pikirannya.


"Ah, tidak apa-apa Pak." jawab Clara singkat, tetapi sikapnya terlihat salah tingkah.


Raffa hanya tersenyum melihat perangai Clara yang salah tingkah.


Keduanya memilih diam, hingga saatnya pemberitahuan kepada seluruh penumpang untuk masuk ke dalam pesawat berbunyi.


[Diberitahukan kepada seluruh penumpang untuk penerbangan Jakarta menuju Singapura dipersilakan untuk segera memasuki pesawat.]


"Sudah ada pemberitahuan untuk memasuki pesawat, Pak Raffa. Sebaiknya kita segera bergegas." ucap Clara sembari menenteng hand bag nya.


"Hmm, baiklah." Raffa pun turut berdiri dan berjalan mendahului Clara.


Keduanya berjalan dari VIP Lounge menuju Terminal 2 tempat pesawat berada.


"Jangan berlari di belakangku, Clara. Berjalanlah di depanku atau di sampingku. Jika kau berjalan di belakangku orang-orang akan mengira kau adalah bodyguard-ku." Raffa berkata sembari menoleh ke belakang pada Clara yang berjalan di belakangnya.


"Hm-hm, baiklah Pak." Clara pun mempercepat langkah kakinya dan berjalan di samping Raffa.


Mereka berdua terus berjalan hingga memasuki pesawat. Raffa dan Clara memilih kelas penerbangan VIP, walau pun jarak tempuh Jakarta - Singapura kurang lebih hanya 2 jam, tetapi duduk di kelas VIP agaknya cukup nyaman bagi Raffa, terlebih saat keduanya hendak membicarakan tentang pekerjaan juga akan lebih nyaman.


Begitu sampai di tempat duduk mereka, Raffa berdiri terlebih dahulu di tepi tempat duduk.


"Masuklah dulu Clara, duduklah. Di dekat jendela adalah posisi duduk favoritmu kan?"


Clara menundukkan kepalanya dan tersenyum pada Raffa. "Terima kasih Pak." ucapnya sembari mendudukkan dirinya di kursi yang berada di dekat jendela.


Raffa hanya tersenyum dengan tangan kanannya yang seolah mempersilakan Clara untuk duduk terlebih dahulu.


Setelah Clara duduk, barulah Raffa kemudian duduk di sebelah Clara.


"Sebenarnya saya agak tegang, Pak." ucap Clara tiba-tiba.


Raffa segera menghadap kepada Clara, dia ingin mendengar apa yang membuat Clara yang selama ini percaya diri tiba-tiba menjadi tegang. "Kenapa, Hmm?"


Clara sedikit tersenyum, "Saya sebenarnya selalu takut ketika naik pesawat Pak."


Raffa mengerutkan keningnya, selama 5 tahun bekerja dengan Clara bahkan beberapa kali mengunjungi kota-kota di Indonesia dengan menggunakan pesawat, baru kali ini dia tahu bahwa sekretarisnya ternyata takut naik pesawat.


"Jikalau kamu takut, mengapa selama ini kamu tidak pernah menolak saat saya mengajakmu untuk melakukan perjalanan bisnis ke beberapa kota?" tanya Raffa dengan matanya yang menatap Clara.


"Ya saya sebenarnya takut, Pak. Saya hanya berusaha menenangkan diri saya saja." ucap Clara sembari menunduk.


"Apakah sepanjang perjalanan dengan pesawat kamu akan ketakutan?" tanya Raffa.


Raffa masih menatap Clara sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jika kamu bilang sejak dulu, saya mungkin akan menghindari perjalanan dengan pesawat saat mengajakmu melakukan perjalanan bisnis, Clara." ucapnya sembari tangannya mengusap dagunya.


"Tetapi kalau jarak tempuhnya jauh, kan mau tidak mau kita harus menaiki pesawat Pak?" sanggah Clara.


"Kita bisa naik kapal laut, Clara. Ya walau pun membutuhkan berhari-hari untuk sampai ke kota tujuan kita. Tetapi, itu tidak masalah daripada kamu harus ketakutan." ucapnya enteng.


Clara hanya terkekeh mendengar ucapan Raffa. "Anda bisa saja Pak, lagipula saya masih berani bertahan dan melawan ketakutan saya, Pak."


Raffa tersenyum, "Kamu memang hebat, Clara. Sekali pun kau merasa takut tetapi kamu berhasil mengalahkan ketakutanmu."


Clara hanya sedikit tersenyum mendengar ucapan Raffa.


Tidak berselang lama, terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera take off, seluruh penumpang diwajibkan mengenakan seat belt.


Mulailah Clara merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Dia hanya bisa melakukan relaksasi dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mengeluarkan perlahan dari mulutnya. Mengulanginya secara terus menerus hingga perasaannya menjadi lebih tenang. Namun, rupanya tiba-tiba tangan Clara menjadi dingin, efek ketakutan yang ia alami.


Begitu pesawat mulai dijalankan, Raffa sedikit melihat kepada Clara yang terlihat sangat tegang. Tangannya menggenggam kencang sisi kursinya.


Dengan tiba-tiba, Raffa memegang tangan Clara, mengisi kekosongan di sela-sela jari jemari Clara dan mengisinya dengan jari jemarinya.


"Jangan takut Clara, pegang tanganku saja." ucap Raffa sembari menggenggam erat tangan Clara.


Clara begitu kaget dengan tindakan Raffa yang selalu saja tiba-tiba. Hingga ia hanya bisa membolakan matanya dan mencoba melepaskan genggaman tangan Raffa di tangannya.


"Jangan dilepas, pegang tanganku saja. Kalau kamu ketakutan nanti boleh kamu mencengkeramnya." ucapnya santai sembari terus menggenggam tangan Clara.


"Eh, tapi... Ini tidak benar, Pak..." ucap Clara yang terlihat gelagapan di depan Raffa.


"Tangan ini akan memberimu kekuatan, Clara. Percayalah padaku." lagi Raffa meyakinkan Clara untuk terus menggenggam tangannya.


Hingga akhirnya pesawat bersiap take off. Pesawat yang semula berjalan normal tiba-tiba berjalan sangat cepat hingga berusaha terbang. Jantung Clara berdegup kencang, sementara satu tangannya yang dipegang Raffa nampak semakin mencengkeram tangan Raffa.


"Jangan takut ya, ada aku." ucap Raffa lembut.


Clara hanya mengangguk kepalanya dan tersenyum melihat Raffa. Setelah pesawat terbang dalam posisi stabil, Clara menyadari bahwa tangannya masih berada dalam genggaman Raffa.


"Bolehkah sekarang saya melepaskan tangan saya, Pak?" tanya Clara sembari menatap Raffa.


"Karena tanganmu masih terasa dingin, jadi biar tetap berada dalam genggaman saya, Clara. Biarkan dulu seperti ini." ucap Raffa santai.


Clara pun akhirnya membiarkan satu tangannya berada dalam genggaman Raffa selama perjalanan udara itu. Hingga akhirnya pesawat yang mereka tumpangi akan melakukan landing di Changi International Airport, di udara sudah terlihat salah satu icon Negara Singapura yaitu Marina Bay Sands yang begitu iconic dengan kapal yang berada di atas gedung yang sangat tinggi.


"Peganganlah yang erat Clara, sekarang kita akan landing. Bagaimana tanganku bisa meredakan ketakutanmu kan?" ucap Raffa dengan penuh percaya diri.


Clara hanya menghela nafasnya, "Tapi ini Pak Raffa sedang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan kan?"