
"Jadi benar praduga saya kalau hari ini Pak Raffa salah makan, rupanya karena ini ya?" Clara berbicara sembari terkekeh di dalam pelukan Raffa.
"Bukan salah makan, katamu tadi aku habis minum sakarin, jadi seperti inilah aku." Raffa pun tertawa, tak menyangka seorang Raffa bisa mengeluarkan guyonan receh seperti ini dari mulutnya. Pemimpin muda Paradise Hotel yang biasanya tenang, dingin, bahkan tidak banyak bicara kini justru mengeluarkan gombalan receh dari mulutnya. Jatuh cinta memang membuat orang bisa berubah 180°. 😅
"Jadi kadar pemanisnya yang melampaui 300kali manisnya gula biasa masih tertinggal di tenggorokkan ya Pak." Clara tertawa tak menyangka seorang Raffa yang bicaranya nyaris ketus ternyata orang yang bisa diajak bercanda juga.
"Iya, sisa sakarinnya masih tersisa di tenggorokkan, jadi omongan saya jadi manis kan." balasnya dengan penuh percaya diri.
Puas tertawa bersama membahas efek sakarin, Raffa berniat mengajak Clara untuk berjalan-jalan. Malam pertama keduanya sebagai pasangan kekasih.
"Mau berjalan-jalan turun ke bawah sebelum kembali ke Hotel?" Raffa menawarkan untuk mengajak Clara berjalan-jalan terlebih dahulu.
Sementara Clara mengangguk dan ia mengikuti kemana saja arah kaki Raffa. Mereka sebelumnya turun dan berjalan-jalan di sekitar Marina Bay Sands yang berhadapan dengan Garden by The Bay, tempat yang selalu ramai. Bahkan di malam hari seperti sekarang pun, masih ramai. Keindahan malam semakin menarik dengan Supertree di Garden by The Bay yang telah bersolek dengan beraneka lampunya.
"Ada yang kau lupakan Clara."
Clara nampak bingung, ia terlihat tidak melupakan apa pun. "Tidak ada yang kelupaan kok, Pak." ucapnya dengan wajah kebingungan.
Lalu tiba-tiba Raffa menggenggam tangan Clara, mengisi setiap sela-sela jari jemarinya Clara dengan jari jemarinya.
"Ini yang kau lupakan. Dengan demikian kan kita bisa saling mengisi." Raffa mengatakan dengan penuh percaya diri, efek sakarin yang diminum Raffa nampak belum hilang. 😆
"Saya kira apa yang ketinggalan." ucap Clara sembari melihat tangannya yang kini dalam genggaman Raffa. "Saling mengisi bagaimana Pak?"
"Aku selalu berpikiran bahwa hubungan pacaran hingga ke pernikahan sebaiknya adalah hubungan yang saling mengisi seperti ini." Raffa mengeratkan genggamannya. "Bukan memaksa orang mengikuti kriteria kita, itu justru membuat orang kehilangan jati dirinya. Perbedaan pola pikir, hobi, hingga kepribadian justru membuat hubungan makin berwarna bukan? Seperti kita mengisi botol dengan air. Aku bisa mengisinya dengan air semampuku, lalu kamu mengisinya dengan air juga semampumu hingga botol itu terisi penuh dengan air yang kita isi bersama."
Clara mengangguk sembari menatap Raffa, "jadi air yang saya isi bisa tentang hidup saya ya Pak? Kan yang mengisi saya?"
"Benar sekali. Hubungan seperti ini bagiku tidak mengharuskanmu menjadi apa yang aku mau, tapi kita saling mengisi satu sama lain. Kamu menerimaku, aku menerimamu. Tentunya apa yang buruk dari diri kita tentu itu yang harus dikurangi. Jadi tidak perlu menjadi orang lain atau menjadi apa yang ku mau, jadilah dirimu sendiri. Aku akan belajar untuk mengenal dirimu, dan kamu juga belajar untuk mengenalku. Setelah saling mengenal, kita akan dapat beradaptasi dengan baik."
"Setuju Pak... Saya juga ragu sebenarnya, karena siapa yang tak kenal Pak Raffa, lagipula saya sebelumnya tidak tahu kriteria seperti apa yang Pak Raffa inginkan, mendengar ucapan Pak Raffa, saya cukup tenang karena saya cukup menjadi diri saya sendiri." jawabnya sembari sesekali mata indahnya menatap Raffa yang berjalan di sisinya.
Kedua terus berjalan bersama menikmati keramaian Negeri Singa dengan gemerlap lampu kota dengan tangan yang saling menggenggam.
"Pak Raffa, boleh saya bertanya?"
"Apa? Kamu bisa bertanya apa pun. Aku mengizinkannya."
"Dulu Pak Raffa kan kuliah di Amerika, apa Pak Raffa gak tertarik sama cewek Amerika yang cantik dan seksi?"
"Tidak. Aku lebih suka produk lokal." jawabnya sembari terkekeh geli.
"Ish, apaan sih Pak. Saya tanya serius, jawabannya malahan kayak gitu. Lagipula di sana kan bebas Pak?"
"Tergantung orangnya Clara, kamu bisa bertanya sama Rino bagaimana aku dulu waktu di Amerika. Rino sangat tahu bagaimana aku, karena kami saling mengenal sejak lama. Yang perlu kamu tahu, sekali pun di Amerika, aku tetap Raffa, aku tidak suka dengan kehidupan bebas, aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar."
"Kenapa percayanya cuma sementara? Hmm."
"Ya tidak apa-apa Pak. Karena mungkin saja lain kali ada hal lain yang saya belum tahu tentang Pak Raffa dan itu membuat saya menjadi tidak percaya. Kan bisa saja..."
Raffa hanya tersenyum melihat Clara. "Tetaplah percaya padaku, karena aku akan berusaha membuktikan bahwa diriku layak kau percaya."
"Hm..." sahut Clara singkat. "Jangan memberi janji. ya Pak, tapi berikan bukti."
"Pasti." ucap Raffa yang kini kembali menggenggam tangan Clara dan seolah tak ingin melepaskannya. "Lagipula selama lima tahun bersamamu, bukankah kamu juga cukup tahu gimana saya ini."
Clara nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Raffa. "Hmm, ya sebatas tahu Pak Raffa sebagai atasan saya saja sih Pak. Toh kan hubungan kita murni professionalitas antara atasan dan sekretarisnya."
Raffa menghembuskan nafasnya kasar, "Jawabanmu terkesan retorika sekali, Clara. Masak dalam lima tahun ini kamu tidak mengenalku? Sedikit pun kebiasaaanku misalnya? Atau ekspresiku?"
Clara kembali melirik Raffa, "Saya ini sekretaris ya Pak, bukan pakar mikro ekspresi." ucapnya sambil terkekeh geli.
"Maksud kamu?"
"Lha tadi Pak Raffa tanya apa saya tidak mengenal Pak Raffa termasuk ekspresi Pak Raffa selama ini, saya kan bukan pakar mikro ekspresi yang handal membaca setiap ekspresi Bapak."
"Hmm, baiklah. Setidaknya satu ekspresiku yang harus kamu hafalkan."
"Ekspresi apa Pak?"
"Ekspresi saat aku jatuh cinta padamu." Raffa mengucapkan sambil mengerlingkan satu matanya kepada Clara.
Clara tersenyum, wajahnya merona merah malu. Dia sungguh tak menyangka Raffa akan mengucapkan gombalan absurb seperti ini.
"Pak Raffa, sejak kapan Pak Raffa jadi genit sih?" cibirnya sembari terus tertawa.
"Aku bukan genit, aku cuma memberitahu kenyataan dan kamu harus selalu mengingatkan ekspresiku kalau aku jatuh cinta padamu. Love U Clara..."
"Udah dong Pak, efek sakarinnya dibuang deh Pak. Gak tahan deh saya." Clara berhenti berjalan dan kini berada di depan Raffa.
"Gak tahan kenapa?" Raffa memperhatikan raut wajah Clara yang nampak serius saat ini.
"Gak tahan! Karena kalau Pak Raffa terus-terusan berkata manis, saya bisa kena diabetes. Kadar gula dalam diri saya bisa meningkat dratis deh." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oke. Aku tak akan membiarkan kamu kena diabetes. Juga jangan sampe di lain waktu kamu bilang sakit jantung karena aku ya, dengan berdalih berdekatan denganku membuat jantungmu tidak sehat." sahut Raffa enteng.
Clara terkekeh geli, "Yah, ketahuan deh..."
Happy Reading🥰