
Raffa benar-benar mendatangi Clara ke kafe tempat. Keduanya terlibat obrolan yang cukup serius, namun sangat aneh bagi Clara. Bagaimana mungkin Raffa menawarkannya untuk menemui kedua orang tuanya bukan sebagai sekretarisnya, melainkan sebagai pacarnya.
"Jangan ngaco deh, Pak. Apa-apain sejak tadi aneh deh. Pak Raffa gak lucu ya." ucap Clara cemberut.
"Di sini saya sedang tidak melucu ya Clara!" Raffa pun menjawab dengan wajah yang serius.
Pria itu menggeser perlahan cangkir kopinya. "Ayo mau tidak, supaya kamu tahu sendiri apakah Mama dan Papa saya memandang seseorang berdasarkan kasta dan kelas sosialnya?" Raffa rupanya kembali menekankan tawarannya lagi.
"Enggak, saya tidak mau." Clara menolak mentah-mentah ajakan Raffa.
Mendengar penolakan Clara, Raffa pun menyeringai dengan senyuman di wajahnya. "Kalau boleh tahu kamu suka pria yang seperti apa, Clara?"
Clara berpikir sejenak, selama ini memang ia tidak terlalu memikirkan kriteria pria yang kelak menjadi pasangannya. Kesibukan bekerja membuatnya benar-benar tidak memikirkan perihal pasangan. Namun, Clara mengingat bahwa sejak dulu, ia memimpikan memiliki pria yang hangat.
"Saya ingin menjalani hubungan di mana aku merasa hariku yang melelahkan terhapuskan hanya dengan memeluknya sekali walaupun dia tidak membuat hatiku berdegup setiap detik." ucap Clara serius sembari ia membayangkan betapa bahagianya ia jika memiliki pria seperti itu. Pria yang memberikannya pelukan hangat, sehingga hari-harinya yang lelah dan membosankan seolah sirna. Pria yang bisa menjadi tempatnya bersandar.
Raffa tersenyum mendengar ucapan Clara, "kenapa pria yang kau inginkan begitu sederhana Clara? Jadi kau hanya membutuhkan pria yang bisa memberikanmu pelukan bukan memenuhi kebutuhan hidupmu? Bukankah itu terlalu kekanak-kanakan." ucapnya to the point.
Bola mata Clara memutar seketika mendengar respons dari Raffa. "Tadi Pak Raffa yang tanya, sekarang mengomentarinya. Gimana sih Pak? Tahu gitu tadi saya enggak jawab."
Raffa semakin tertawa melihat wajah Clara yang nampak kesal, entah mengapa ia begitu suka menggodai Clara saat ini.
"Sorry, aku tak bermaksud menertawakanmu. Tetapi, alasanmu itu lucu. Realistis lah dalam memilih pasangan Clara, karena tentu kau menginginkan pria yang bisa menemui hingga akhir nanti kan? Jangan hanya memilih yang bisa menghapus harimu yang berat dan melelahkan. Pilih juga pria yang bisa menghidupimu dengan layak." ucap Raffa.
Clara pun menimbang-nimbang ucapan Raffa, dan ia pun menyadari bahwa pria memang lebih mengedepankan logikanya sehingga perasaan adalah nomor sekian, sementara wanita memang lebih mengutamakan perasaannya.
"Hmm, maaf Pak Raffa, kenapa Pak Raffa menasihati saya begitu? Padahal Pak Raffa sendiri pun belum pernah jatuh cinta?" tanyanya dengan mata yang seolah menghunus langsung kepada Raffa.
"Memangnya kamu pernah jatuh cinta, Clara?" Raffa justru membalikkan pertanyaan Clara, pria itu justru tertawa memperhatikan berbagai ekspresi yang ia tangkap dalam wajah Clara.
"Kalau ditanya itu dijawab Pak, jangan malahan balik bertanya. Nyebelin deh."
"Hanya kamu saja yang berani bilang saya menyebalkan Clara, tapi itu gak masalah." tiba-tiba saja perkataan Raffa terdengar dingin. "Kamu masih mau di sini atau sekarang bisa ikut dengan saya?"
"Ha? Kemana Pak? Tapi saya tidak mau bekerja Pak, kan Pak Raffa sudah mengizinkan kalau hari ini saya boleh libur." Clara nampak keberatan jika saja Raffa memintanya untuk kembali bekerja hari ini, padahal hari sudah sore.
"Mau membawamu ke rumah Mama dan Papa, ayo!"
"Pak Raffa, ini enggak lucu ya Pak. Saya enggak mau. Pak Raffa bener-bener nyebelin deh." ucap Clara yang lagi-lagi mengatakan bahwa atasannya itu menyebalkan.
"Bukan untuk mengenalkanmu sebagai pacar saya, tapi Mama menyuruh saya pulang ke rumah malam ini untuk makan malam. Ayo, temani saya. Dan, ingat jangan menolak."
"Lah, kok Pak Raffa jadi memaksa saya sih. Enggak mau saya, Pak." Clara menolak secara langsung ajakan Raffa.
"Sudah ayo..." pria itu berdiri tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Clara.
Namun, Clara justru tidak mengetahui apa maksud Raffa dengan mengulurkan tangan kanannya kepadanya? Clara justru mengedipkan matanya karena ia bingung harus seperti apa.
Melihat Clara yang nampak kebingungan, kali ini tangan kanan Raffa yang semula terulur ke hadapan Clara kini tangan ini langsung meraih pergelangan tangan Clara, dan ia menggenggam tangan Clara.
"Eh, Pak... Ini... Apa maksudnya?"
Clara masih kebingungan karena Raffa menggenggam tangannya secara tiba-tiba.
"Sudah, ayo ikut sama saya." ucapnya sembari menarik Clara untuk mengikutinya.
Dengan masih menggenggam tangan Clara, Raffa membawa gadis itu keluar dari kafe dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelumnya ia membuka pintu mobil bagi Clara, setelah itu ia berjalan memutari mobil, dan barulah ia masuk di kursi kemudi. Tanpa banyak bicara, Raffa pun melajukan mobilnya menyisir jalanan ibukota. Kali ini ia akan benar-benar membawa Clara untuk menemui Papa dan Mamanya.
"Pak Raffa jangan aneh-aneh ya, ini sama aja Pak Raffa menculik saya ya?" Clara masih merasa tidak terima yang tiba-tiba dibawa Raffa menuju mobil, ia merasa seperti sedang diculik.
"Siapa juga yang akan menculik kamu, kita kan saling mengenal jadi tidak mungkinlah saya menculikmu. Sudah ikut saja, Papa dan Mama pasti juga tidak keberatan. Bukankah kamu juga tahu kalau Mama saya suka dan sayang sama kamu?" Raffael mencoba menjelaskan pada Clara, bahkan pria itu mengakui kalau Mamanya menyukai Clara dan sayang kepadanya.
"Ya saya tahu Pak, tetapi tetap saja saya sungkan. Bagaimana pun saya kan sekretarisnya Pak Raffa."
Raffa memilih diam dan terus melajukan mobilnya, tidak berselang lama mereka telah tiba di kediaman keluarga Saputra. Rumah mewah nan megah yang berada di salah satu kawasan elit Ibukota.
Setibanya di rumah, Raffa langsung masuk ke dalam rumah orang tuanya dan Clara mengikutinya di belakang.
"Malam Mama, Papa... Raffa datang." ucapnya sembari memasuki rumah mewah itu.
"Akhirnya kau datang, Raff..." Mama Ratna menyambut dengan memeluk putra bungsunya itu. "Kebetulan sekali ada Veronika, kamu tidak mau menemui dia?"
Rupanya tanpa sepengetahuan Raffa, saat itu Veronika sedang berada di rumahnya. Ekspresi Raffa pun langsung tidak bersahabat.
"Tidak Ma. Ini Raffa datang sama Clara, Ma. Karena Raffa cuma mampir dan habis ini Raffa akan lanjut ke kantor lagi dengan Clara." Raffa berkilah di hadapan Mama nya.
"Selamat malam Nyonya..." sapa Clara sembari menjabat tangan Mama Ratna.
"Rupanya sama Clara ya, sini masuk dulu. Ada Veronika juga di dalam, ayo kita masuk ke dalam." ajak Mama Ratna dengan ramah kepada Clara.
"Bagaimana kalau kita langsung makan malam saja Ma, supaya Raffa tidak kemalaman. Kasihan Clara juga." Raffa berusaha menghindari basa-basi, selain ia tak ingin bertemu Veronika, selain itu ia bisa segera meninggalkan rumah orang tuanya.