
Selang sepekan setelah Raffa mengunjungi rumah orang tua Clara, pria itu memiliki rencana untuk melakukan sebuah proposal, melamar Clara dengan cara yang tepat dan berkesan.
Setiap wanita pastilah menginginkan sebuah lamaran yang berkesan, lamaran yang akan mereka kenang selama hidupnya. Oleh karena itu, Raffa pun berencana mengadakan sebuah lamaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh Clara.
Usai jam makan siang, Raffa memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia hanya mengatakan kepada Clara bahwa dirinya sedang tidak enak badan.
Clara hanya berpikiran tidak enak, sebab biasanya Raffa termasuk orang yang sehat, memiliki imunitas yang kuat, sehingga pria itu jarang sekali sakit. Akan tetapi, kali ini pria itu mengatakan bahwa dirinya sedang enak badan dan menyuruh Clara untuk langsung pulang saja ketika jam kerja telah berakhir.
Maka dari itu, Clara pun memilih untuk kembali ke apartemennya ketika jam kerjanya usai. Gadis itu merebahkan sejenak badannya di tempat tidur sembari memikirkan apa yang terjadi pada Raffa. Bahkan sejak jam makan siang, kekasihnya itu sama sekali tidak menghubunginya. Untuk menghilangkan rasa lelah dan pikirannya yang cukup berat, Clara memilih untuk mandi.
Menjelang jam tujuh malam, sebuah pesan masuk ke dalam handphone Clara, dan pesan itu adalah dari Raffa.
[To: Clara]
[Clara, bisakah kau ke apartemenku sebentar?]
[Badanku demam. Jika bisa, tolong belikan obat penurun demam sekalian?]
[Thanks before]
Clara membaca pesan dari Raffa, seketika ia justru panik. Ia sungguh-sungguh khawatir dengan keadaan Raffa sekarang ini. Tanpa berpikir panjang, Clara segera mengganti pakaian rumahan yang semula ia kenakan dengan sebuah dress berwarna hitam, wajahnya tanpa dipoles make up, hanya sebuah lipstick berwarna pink yang mewarnai bibirnya.
Setelah itu, Clara melihat pada kotak P3K miliknya. Ketika ia mendapati ada obat penurun demam di situ, maka ia memasukkan obat itu ke dalam tasnya. Kemudian, ia segera memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke apartemen Raffa.
Sepanjang perjalanan, Clara begitu cemas. Lantaran terlalu cemas, memikirkan Raffa hingga membuat Clara melupakan jam makan malamnya. Fokusnya hanya tertuju kepada Raffa saat ini. Bahkan Clara berandai-andai, jika ia bisa terbang, ia memilih terbang supaya bisa segera menemui Raffa.
Perjalanan ke apartemen Raffa sebenarnya cukup dekat, hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit. Akan tetapi, dua puluh menit itu terasa begitu lama.
Ketika telah sampai di apartemen Raffa, Clara segera turun dari taksi. Ia berjalan cepat, supaya ia bisa segera menemui Raffa. Tanpa membuang-buang waktu, Clara segera memasuki lift menuju lantai delapan.
Ting.
Lift telah terbuka di lantai delapan, tempat unit Raffa berada. Clara tertegun ketika, ia melangkahkan kakinya keluar dari lift, setangkai mawar putih tergeletak di sana. Di tangkai mawar itu, terselip sebuah tulisan. "HI".
Clara mengernyitkan keningnya, dan ia berjongkok mengambil setangkai Mawar itu. Lima langkah ke depan, Clara kembali menemukan setangkai mawar putih yang di tangkainya terselip sebuah tulisan, " DUP".
Lima langkah kemudian, terdapat setangkai mawar putih lagi. Akhirnya setiap lima langkah, Clara berjongkok mengambili setiap Mawar yang jatuh berserakan itu.
Setelah memastikan tidak ada lagi mawar yang berjatuhan di lantai, Clara membaca setiap tulisan yang terselip pada tangkai-tangkai Mawar itu. Terangkai sebuah kalimat.
Clara tertegun meresapi arti di balik kalimat dalam setiap tangkai mawar itu. Hingga akhirnya Clara berniat mengabaikannya, lalu tangannya terangkat untuk mengetuk pintu apartemen Raffa. Akan tetapi, sebelum Clara berhasil mengetuknya. Pintu apartemen itu telah terbuka.
"Hiduplah denganku, Clara. Will you Marry Me?" Raffa keluar dari balik pintu itu dengan membawa bucket bunga Mawar merah dan sebuah cincin berlian. Suara pria itu bergetar ketika meminta gadisnya untuk menikah dengannya, menghabiskan seluruh hidup bersama. Raffa sendiri begitu grogi malam ini, tetapi ia mengendalikan dirinya untuk bisa melakukan sebuah lamaran klasik untuk gadisnya.
Rasa haru seketika menyelimuti hati Clara. Gadis itu tertegun tak bisa berkata-kata. Hanya air matanya yang menetes membasahi wajahnya.
Raffa tersenyum melihat Clara, kemudian pria itu berlutut di hadapan Clara. Satu tangannya memegang tangan kiri Clara. "Maukah kau menikah denganku, Clara?"
Clara mengangguk, air matanya luruh seketika membanjiri pipinya. Raffa tersenyum, masih dengan berlutut, pria itu menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis tangan sebelah kiri yang merupakan simbol dari ikatan cinta. Usai memakaikan cincin itu, Raffa mengecup punggung tangan Clara.
Cup.
"Jadilah pendamping hidupku, Clara. Menualah bersamaku." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Clara tersenyum, "Iya, aku mau."
Raffa berdiri, ia menghapus air mata di wajah Clara. "Jangan menangis. Aku mencintaimu, Clara. Sangat mencintaimu. Lagipula, andai kau menolakku, aku tetap akan memaksamu. Sebab hanya kaulah yang aku cintai, hanya denganmu saja aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku." Raffa mengungkapkan perasaan cintanya yang sangat mendalam untuk Clara. Perasaan yang tulus dan sungguh-sungguh itu berhasil menyentuh hati Clara.
Dengan seketika, Clara menghambur ke dalam pelukan Raffa. Air matanya semakin luruh, hatinya bisa merasakan betapa besarnya cinta Raffa untuknya.
"Aku juga mencintaimu, Mas." ucap gadis itu sambil terisak dalam tangisnya. "I Love U...." ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
Raffa sedikit tertawa, kejutan yang ia rencanakan untuk melamar Clara akhirnya berhasil. Pria itu berpura-pura sakit, tidak menghubungi Clara sejak siang hari, lalu tiba-tiba mengeluh demam kepada Clara. Skenario yang ia rencanakan untuk mengadakan sebuah proposal, melamar Clara dengan caranya sendiri. Lamaran yang Raffa yakini menyentuh hati Clara dan akan bertahan dalam waktu yang lama dalam ingatan Clara.
Clara mengurai pelukannya. "Tega sekali membuatku khawatir seharian, ternyata hanya untuk mengerjaiku. Jahat. Aku nyaris seperti orang gila datang ke sini, hingga aku tidak bisa mengenakan make-up." ucapnya sembari memincingkan matanya kepada Raffa.
"Maaf, ini semua aku lakukan karena aku ingin melamarmu dengan cara yang sudah ku rencanakan sebelumnya. Kau suka?" tanyanya sembari menatap wajah Clara.
"Hm-hm, iya. Aku suka."
Raffa kembali memeluk Clara, merasakan dekapan hangat tubuh Clara dan perfum beraroma Pomello yang segar dari tubuh gadis itu. "Ingatlah momen ini untuk waktu yang lama. Aku selalu mencintaimu, Clara. Terima kasih karena sudah menerima lamaranku ini."
Clara menyerukkan wajahnya ke dalam pelukan Raffa. "Tentu. Aku akan selalu mengingat momen indah ini. Terima kasih karena sudah repot-repot menyiapkan semua ini untukku."
Raffa mengurai pelukannya, lalu mendaratkan satu kecupan sayang di kening Clara. "Tidak ada yang repot jika itu untukmu. Apapun akan aku lakukan untukmu. Because I Love U...."