When My Love Bloom

When My Love Bloom
Tulang Rusuk



Suasana apartemen Raffa terlihat begitu temaram malam itu. Sumber cahaya hanya berasal dari cahaya lilin yang menyala di sekitar ruang tamu dan meja makan. Berhasil dengan lamaran yang mampu menyentuh hati dan perasaan Clara, kini Raffa menggandeng satu tangan Clara dan mendudukkannya di meja makan.


Di atasnya telah tersaji makanan kesukaan Raffa, Beef Steak dan Jus Stroberi segar yang merupakan minuman kesukaan Clara.


Raffa menggeser satu kursi, lalu mempersilakan Clara untuk duduk. "Silakan Clara, duduklah."


Clara tersenyum kepada Raffa, kemudian ia pun duduk. Gadis itu begitu bahagia. Raffa benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.


"Ayo, kita makan. Kau pasti belum makan juga bukan? Hmm." Raffa memandang wajah ayu Clara, tentu dengan matanya yang sembab. "Kau pasti terlalu mengkhawatirkan aku, sehingga melupakan jam makanmu."


"Bagaimana aku tidak khawatir, jika pria yang kukenal selama ini selalu sehat bahkan nyaris tidak pernah sakit tiba-tiba berkata sakit, tidak enak badan, bahkan mengeluh tidak enak badan. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Mas." ucapnya.


Raffa tertawa. "Ya, aku tahu. Sudah pasti kau mengkhawatirkanku karena kau mencintaiku kan?"


"Anda terlalu percaya diri." sahut Clara sembari menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Tentu saja aku percaya diri." Raffa sejenak menjeda ucapannya. "Namun, sekarang aku merasa lega karena aku telah mendapatkan tulang rusukku. Kamu adalah tulang rusukku, Clara." ucapnya dengan sorot mata yang menatap lekat pada Clara.


Clara mengerjapkan, "Tulang rusuk?"


Raffa mengangguk, "Ya, tulang rusukku." Raffa memegang satu tangan Clara, "Di dalam anatomi tubuh manusia, tulang rusuk merupakan tulang penting yang melindungi jantung, paru-paru, hati, dan organ lainnya di dalam rongga dada agar aman. Begitu pentingnya tulang rusuk, hingga pasangan hidup kita pun disebut dengan "tulang rusuk." Lantaran, pasangan hidup kita lah yang akan melindungi hidup kita setiap waktu. Tidak membiarkan kita tersakiti, karena mereka ada untuk melindungi kita. So, mulai sekarang aku akan melindungi mu."


"Hmm, terima kasih Mas Raffa. Aku harap kebahagiaan kita selalu ada untuk selamanya. Aku tidak akan lupa dengan malam ini, lamarannya sungguh indah, manis, dan lilin-lilin ini membuat semuanya menjadi kian romantis. Terima kasih, Mas." Clara mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh kepada Raffa.


"Ini belum seberapa Clara. Semua ini adalah lamaran yang sederhana." ucap Raffa sembari tersenyum kepada Clara.


Clara pun turut tersenyum. "Tidak masalah Mas, yang penting cinta kamu buatku luar biasa." ucapnya seraya tertawa.


"Always." sahut Raffa singkat.


Clara segera menghabiskan menu makannya, sembari berbincang-bincang dengan Radit. Malam yang istimewa bagi keduanya. Semua rasa khawatir luruh seketika, digantikan dengan rasa haru dan bahagia.


Di sela-sela perbincangannya, Raffa memberanikan untuk membahas perihal pernikahan kepada Clara.


"Kapan pun kau meminangku, aku akan siap, Mas. Aku sudah yakin denganmu, dengan hubungan kita berdua. Tetapi, aku punya satu permintaan." Clara menatap wajah Radit, di sana terlihat keseriusan dan rasa penasaran saat Clara mengajukan satu permintaan.


"Apa? Hmm. Kamu tidak meminta seribu candi kan?" tanya Raffa sembari memincingkan matanya.


Clara segera menggelengkan kepalanya. "Ishh, aku bukan Roro Jonggrang, Mas." sahut Clara cepat.


"Lalu apa yang kau minta? Katakan dulu, dan aku akan memikirkannya." ucap Raffa.


"Hmm, jika kita sudah menikah, aku masih boleh bekerja kan?" Clara bertanya dengan suara lirih kepada Raffa.


"Kamu masih pengen bekerja, sebegitunya kamu ingin selalu berada di dekatku? Hmm." tanya Raffa.


Rupanya sifat penuh kepercayaan diri dari Raffa kembali muncul, sifat yang cukup menyebalkan, namun terkadang sifat inilah yang justru menghibur Clara.


"Anda terlalu percaya diri." Clara memutar bola matanya malas. "Aku terbiasa bekerja, sejak lulus dari kuliah hingga sekarang. Akan aneh rasanya jika tiba-tiba aku hanya berdiam diri di rumah dan menjadi Ibu Rumah Tangga. Nanti, ada saatnya aku akan berdiam di rumah, tetapi sebelum semua itu terjadi bolehkah jika aku tetap bekerja?"


Raffa mendengarkan penjelasan Clara. Memang tidak mudah bagi seorang wanita yang terbiasa bekerja setiap hari, tiba-tiba harus berdiam diri di rumah, berkutat dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Raffa pun berpikir setidaknya Clara juga membutuhkan waktu atau masa transisi, memberi Clara waktu dan kesempatan selagi ia masih bisa, rasanya tidak masalah.


Dalam hatinya Raffa ingin segera menyetujui Clara, namun ia perlu mengetahui kapan saatnya Clara akan berhenti bekerja dan bisa menjadi Ibu Rumah Tangga. "Jika demikian, kapan kamu akan memutuskan akan berhenti bekerja nanti?" tanya Raffa dengan matanya yang tajam menatap Clara.


Clara menghela nafasnya sejenak, ya ia juga perlu memiliki rencana di masa depan terkait apa yang ingin lakukan, termasuk kapan ia akan memutuskan berhenti bekerja.


"Hmm, mungkin jika aku hamil, aku akan memutuskan berhenti bekerja dan fokus menjadi full-time Mom." Clara memberanikan diri menatap Raffa. " ... jadi bagaimana Mas?"


Raffa nampak mengangguk, hatinya lega saat mendengarkan jawaban dari Clara terkait keputusannya di masa depan. "Baik, kau boleh bekerja. Akan tetapi, ketika kamu sudah hamil, aku harap kamu bisa berhenti bekerja saja. Fokus dengan kehamilanmu nanti ya."


Clara menganggukkan kepalanya, hatinya lega saat Raffa tetap memperbolehkannya bekerja usai menikah nanti. "Terima kasih Mas Raffa. Hmm, tetapi jika aku resign nanti Mas Raffa tidak kesusahan dengan pekerjaan di Paradise Hotel kan? Jika diperbolehkan aku masih bisa bekerja part time sebagai sekretarismu nanti. Bagaimana?" ucap Clara sembari mengedip-edipkan matanya kepada Raffa. Lagi, gadis itu mencoba melakukan negosiasi dengan pacarnya sendiri yang juga atasannya.


"Jangan mengajukan penawaran yang sudah pasti aku tolak. Aku akan berusaha menyesuaikan diri nanti. Atau aku bisa merekrut sekretaris yang baru. Supaya pekerjaan di Paradise Hotel bisa tetap berjalan lancar. Oh, jika begitu, sebelum kamu resign, kamulah yang harus merekrut sekretaris baru untukku. Buatlah rekrutmen sesuai kualifikasi yang kau inginkan, bertahanlah sebentar untuk mengorientasinya, sehingga saat kamu resign tidak ada yang dirugikan. Kamu di rumah tenang, aku bekerja juga tenang, dan sekretaris yang baru nanti juga sudah bisa mandiri. Bagaimana?"


Clara menganggukkan kepala, ia setuju penawaran dari Raffa. "Oke, serahkan padaku. Akan kucarikan sekretaris sesuai kualifikasi yang tepat dan siap bekerja untuk Paradise Hotel. Aku bisa mengurusnya, Mas. Percayakan padaku...."