
Raffael dan Clara menjadi perhatian teman-teman sekelas Raffael. Bagaimana tidak cowok yang sewaktu SMA selalu sendiri, berwajah dingin, dan tak pernah berhubungan dengan cewek itu pun terlihat bahagia dengan cewek yang sejak tadi digenggam tangannya.
Sekalipun tanpa berbicara dan membuat kesepakatan, Clara agaknya tahu dia harus bersikap bagaimana, dan Raffael pun yang terkadang mengeratkan genggamannya juga mengirimkan sinyal-sinyal yang hanya Clara ketahui.
“Bro, ambil minum dulu Bro....” Anton menawarkan kepada Raffael untuk mengambil minuman.
“Kamu mau minum apa Sayang? Biar aku ambilkan.” Tawar Raffael kepada Clara yang masih berdiri di sampingnya itu.
“Ikut kamu aja Oppa.” Jawab Clara dengan manis dan tersenyum kepada Raffael.
“Tunggu di sini dulu ya....”
Tidak lama, Raffael kembali dan membawa 1 botol minuman di tangannya.
“Kok cuma ambil 1 botol minuman sih Raff? Di sana kan ada soda dan lainnya.” Tanya Anton kepada Raffael.
“Iya, satu aja berdua.” Jawab Raffael singkat.
“Kok Cuma air putih?” Tanya Anton lagi.
“Karena Clara ini gak suka minuman bersoda, sukanya air putih. Ya kan Sayang?” Raffael memandang Clara yang berdiri di hadapannya itu.
Kemudian, Raffael membuka tutup botol mineral itu. Kleekkk....
“Sayang, minum dulu.” Raffael berkata manis sembari tangannya memberikan botol air mineral kepada Clara.
“Bro, gue gak nyangka. Loe bisa semanis ini sama cewek loh. Padahal dulu loe itu dingin, cuek.” Anton berkata karena dulu temannya ini memang dingin dan cuek.
“Iya Bro, karena Clara lah hidup gue berubah.” Raffael kembali menjawab obrolan dengan Anton, dan kali ini ia kembali menggenggam tangan Clara.
Mereka semua melanjutkan obrolan sembari bernostalgia waktu berseragam Putih Abu-Abu. Tiba-tiba terdengar derap kaki yang turut bergabung di kelas Raffael. Seorang cowok datang seorang diri dengan mengenakan jeans dan kemeja kotak-kotak, cowok itu adalah Dionysius yang sewaktu SMA dipanggil Dio, salah satu cowok dengan fans siswi terbanyak di SMA Bintang Jaya.
“Hai semua....” Sapa Dio kepada semua orang yang ada di situ.
“Hai Dio.... Loe dateng juga ya?” Sapa Anton kepada teman sekelasnya dulu.
Puas bersapa dengan Anton, Dio menghampiri Raffael dan Clara. Dio melihat siapa cewek yang dibawa Raffael, wajahnya nampak tidak asing.
“Clara.... Kamu Clara Ariella kan anak manajemen bisnis?” Sapa Dio kepada Clara yang masih menggenggam tangan Raffael.
“Kak Dio ya?” Jawab Clara singkat.
“Kamu kok bisa ada di reuni SMA ini?”
“Ini Kak, aku nemenin Kak Raffael.”
“Emang ada hubungan apa kamu dan Raffael perasaan dari zaman kuliah kamu gak pernah punya pacar kan. Aku deketin kamu aja, kamu sombong banget, nolak aku mentah-mentah.” Ucap Dio ceplas-ceplos.
“Kak Raffa ini pacarku, Kak.” Clara semakin mengeratkan genggamannya. Dan Raffael pun tahu, ia juga mempererat genggaman tangannya.
“Hhaaa, kamu pacarnya Raffael sejak kapan?”
“Gila, 5 tahun ya. Setelah lulus kuliah berarti dong?”
“Iya Kak.”
“Kok kamu mau sih sama Raffael?”
“Karena perasaan suka dan sayang itu muncul begitu saja Kak, dan itu ke Kak Raffa.”
Raffael yang berdiri menggenggam tangan Clara pun tiba-tiba tersenyum bahagia, ia mengelus lembut pucuk kepala Clara dan mendaratkan ciuman kecil di sana. Ia lupa kalau mereka hanya berpura-pura, tetapi kenapa mendengar jawaban Clara kepada Dio, hati Raffael berbunga-bunga seketika.
Clara sebenarnya tertegun ketika Raffael mengecup pucuk kepalanya, tapi ia hanya melihat Raffael dengan memberikan senyuman yang syarat makna.
“Loe beruntung Raffael, karena loe berhasil dapetin hatinya Clara. Dulu dikampus selusin lebih cowok berjuang dapetin hatinya dia, tapi semuanya ditolak.” Dio menepuk-nepuk punggung Raffael.
“Thanks Bro, dan gue akan selalu jagain dia.” Raffael menjawab dengan singkat dan mengeratkan genggamannya pada Clara.
“Baik-baik sama Raffael ya Ra. Gue ke sana bentar.” Pamit Dio kepada Clara.
“Ya Kak, pasti Kak Raffanya juga akan jagain Clara.” Clara juga menjawab dengan singkat sambil memandang punggung kakak tingkatnya saat kuliah itu yang pergi menjauh.
Setelah hampir 2 jam mengikuti reuni SMA, Raffael berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Lalu, mereka keluar dari auditorium itu dan menuju tempat mobil Raffael di parkirkan. Mereka masih bergandengan tangan, hingga Raffael membuka pintu mobilnya untuk Clara. Memastikan Clara telah duduk, barulah ia memutari mobilnya dan duduk di kursi driver.
Raffael segera melajukan mobilnya keluar dari SMA nya. Tapi, mobil itu berhenti di pinggir danau.
“Clara....” Panggil Raffael kepada gadis yang duduk diam di sebelahnya itu.
“Ya Pak Raffa.”
“Maaf, saya tadi bertindak gegabah dengan terus menggenggam tanganmu dan mencium keningmu. Sorry, aku benar-benar minta maaf.”
Raffael ternyata meminta maaf kepada Clara karena tahu bahwa sikapnya sudah tidak benar, dan ia tak ingin Clara menganggapnya sebagai pria yang memanfaatkan seorang gadis.
“Saya sebenarnya sangat kaget Pak. Tapi.... Saya berpikir pasti Bapak melakukan itu karena ada alasannya.” Dalam hatinya, Clara memang sebal dengan Raffael, tapi ia pun mencerna semuanya, dan ia percaya Raffael pasti memiliki alasan tersendiri.
“Tadi beneran ya Dio pernah suka sama kamu waktu kalian kuliah?”
“Hemm, Iya Pak. Udah dulu banget.”
“Kenapa gak diterima, bukannya Dio itu cakep dan pintar anaknya.” Raffael sembari menepuk-nepuk stir mobilnya, entah mengapa ada rasa ingin tahu terhadap hubungan Dio dan Clara.
“Saya memang gak suka aja Pak, kalau udah gak suka mau gimana lagi, Pak.”
“Tapi pernah enggak kamu tertarik sama cowok?”
“Tertarik sama cowok.... Karena 5 tahun terakhir saya benar-benar sibuk bekerja, saya sampe lupa gimana rasanya menyukai cowok, Pak.”
Tiba-tiba saja Raffael tertawa geli mendengar jawaban sekretarisnya yang lugu dan polos itu.
“Apa perlu saya kurangi jam kerjanya supaya kamu ada waktu untuk menyukai cowok?” Tanya Raffael dengan tertawa hingga wajahnya merah.
“Aisshh, Pak Raffa ini apaaan sih. Jangan ledekin saya ya.”
“Aku serius, Ra. Kamu boleh mengurangi jam kerjamu, hidup pribadimu juga perlu dipikirkan bukan?”
“Saya percaya Pak kalau jodoh pasti bertemu, Tuhan pasti sediakan yang terbaik di waktu-Nya yang tepat.”
“Hmm, okey deh. Aku iyain aja. Ya udah, sekarang aku anter kamu pulang ini sudah malam.”
Raffael melajukan mobilnya sedikit lebih cepat, ia mengantarkan Clara kembali ke apartemennya dan setelah itu ia pun pulang ke apartemennya. Sepanjang perjalanan Raffael memikirkan ucapan Clara, “Jodoh pasti bertemu, Tuhan pasti sediakan yang terbaik di waktu-Nya yang tepat.” Ucapan penuh pengharapan itu kiranya Tuhan mendengarnya.