When My Love Bloom

When My Love Bloom
Pacar Pura-Pura



Hari ini adalah hari di mana reuni SMA Raffael akan digelar di auditorium SMA nya. Hari ini, Clara izin pulang lebih cepat dari jam biasanya karena ia harus bersiap-siap. Raffael sudah berjanji akan menjemput Clara di apartemennya pada jam 6 petang.


Clara pulang jam 4 dari kantor, dengan terburu-buru ia bergegas menuju apartemennya dengan taxi online. Sebenarnya Raffael menawarkan untuk mengantarnya, tapi Clara menolaknya karena ia tidak mau merepotkan atasannya yang harus bolak-balik menjemputnya nanti. Baginya itu sangat tidak efektif dan membuang banyak waktu.


Sesampainya di apartemen, Clara segera mandi, memoleskan make up dengan kesan flawless di wajahnya, dan meng-curly rambutnya. Sekalipun dia hanyalah pacar pura-pura, tapi nama besar Raffael Saputra tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ia hanya ingin tampil dengan pantas, dan tidak mempermalukan atasannya. Walaupun make up dan hair do ia lakukan sendiri tanpa harus repot-repot ke salon, tapi Clara tau bahwa ia bisa membawa dirinya dengan baik.


Waktu sudah menunjukkan angka setengah 6 lebih. Clara telah siap dengan dress barunya yang dibelikan Raffael pada beberapa hari yang lalu, ankle strap shoes berwarna putih tulang, dan sebuah clutch berwarna perpaduan putih dan emas. Clara menatap penampilannya di cermin, ia memoleskan sedikit lagi lipstik berwarna pink, dan merapikan rambutnya yang dicurly nampak indah di bahunya.


“Untuk apa aku berdandan heboh seperti ini, padahal aku hanyalah pacar pura-pura. Bagiku ini sudah pas, lagipula acaranya tidak formal. Penampilanku sudah cukup.” Gumam Clara menatap dirinya di cermin.


Dreeettt.... Drettttt..... Sebuah pesan masuk ke handphone Clara.


[Raffael: Clara, apa kamu sudah siap? Aku sudah di parkiran apartemenmu.]


Clara mengambil handphone di meja riasnya dan membukanya, rupanya Boss nya sudah menunggunya di luar. Clara menyemprotkan parfum beraroma Pomelo Paradise ke lehernya dan pergelangan tangannya. Lalu, ia keluar dari apartemennya sambil mengirim pesan untuk Bossnya.


[Clara: Saya segera turun Pak.]


Kali ini Raffael keluar dari mobil Mercedes-Benz A Class nya, bersandar di mobil itu, dengan menyilangkan kakinya, sementara pandangannya nampak memperhatikan siapa saja yang keluar dari apartemen di depannya.


 


Raffael tertegun saat kedua bola matanya menangkap sosok gadis mengenakan dress putih hitam selutut dengan memegang cluth di tangannya.


“Itu Clara? Dia cantik. Tidak, dia benar-benar cantik!” Kata Raffael dalam hatinya. Dari jauh Clara sudah tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya kepada Raffael.


“Malam Pak, maaf kalau menunggu lama.” Sapa Clara dengan berdiri di depan Boss nya yang masih bersandar di mobilnya itu.


Tanpa berkata-kata, Raffael membukakan pintu co-driver kepada Clara. “Silakan masuk Clara....”


Boss nya yang dingin itu membukakan pintu untuk Clara dan mempersilakan Clara untuk duduk. Lalu, Raffael memutari mobilnya dan segera duduk di kursi driver. Lagi-lagi Raffael membawa mobil sendiri tanpa ada supir pribadinya.


“Aku baru saja sampe kok Clara, tidak lama.” Ucap Raffael sembari mengenakan seatbelt nya dan mulai menjalankan mobilnya perlahan.


“Oh, saya kira lama. Saya kan gak enak, bagaimana pun Bapak kan atasan saya.” Clara bersuara sambil memutar-mutar clutch di tangannya.


“Cobalah gunakan bahasa non formal Clara. Supaya di sana nanti kamu tidak kaku.”


“Hmm, iya Pak.” Clara masih menjawab dengan bahasa formal.


Raffael melakukan mobilnya menuju SMA Bintang Jaya, tempatnya bersekolah dulu. Sudah sekian waktu berlalu, tapi Raffael masih mengingat semua tentang sekolah, di mana kelasnya, bagaimana dia selama duduk di SMA. Sebenarnya Raffael tidak dekat dengan siapa pun sewaktu sekolah, tapi ikut menghadiri reuni rasanya tidak masalah. Dia hanya ingin sedikit bernostalgia dengan sekolahnya dulu. Setelah mengemudi lebih dari setengah jam, Mobil Raffael telah sampai di SMA Bintang Jaya.


“Oh, ini sekolahnya ya Pak? Bagus ya Pak bangunannya.” Clara terkagum melihat bangunan sekolah yang nampak kokoh dan indah itu.


“Hemm, iya.” Jawab Raffael singkat.


Kemudian Raffael memarkir mobilnya. Dia lalu, bergegas keluar hendak membukakan pintu untuk Clara.


“Ayo, Clara.” Raffa nampak mengangkat lengannya, memberi kode kepada Clara untuk melingarkan tangan ke lengannya.


Clara hanya membelalakkan matanya, terkejut dengan kode yang diberikan Raffael. Karena Clara hanya terdiam, maka Raffael sendiri yang menaruh tangan Clara melingkar di tangannya.


 


“Begini Clara. Ayo masuk.” Ucap Raffael membawa pacar pura-pura nya itu menuju auditorium.


Kening Clara pun sedikit berkeringat, selama 5 tahun ia bekerja, baru kali ini ia sedekat itu dengan Boss nya. Wajar bagi Clara apabila ia sangat gugup, hingga keningnya berkeringat. Lagipula, ini juga pengalaman pertama kalinya bagi Clara berjalan sedekat ini dengan seorang pria.


Clara berjalan bersama dengan Raffael memasuki auditorium, di sana ada teman-temannya Raffael yang bertugas sebagai penerima tamu.


“Hai Bro, loe Raffael kan?” Sapa seorang cowok di dekat pintu masuk.


“Oh iya, gue Raffael. Kalau gak salah kamu Anton, kan?” Balas Raffael.


Auditorium yang didominasi warna putih itu tampak bagus dengan desain lampu-lampu dan bunga-bunga. Lalu, Raffael dan Clara berfoto bersama masih dengan tangan Clara yang melingkar di lengan Raffael.


 


Photobooth dengan hasil jepretan sekali jadi itu, langsung diberikan kepada alumni yang mengikuti reuni. Sebelum, meninggalkan photobooth, Raffael memberikan handphone kepada seseorang yang memotret di sana. “Tolong fotokan dengan handphoneku dong.”


Dengan segera mereka sekali lagi dipotret dengan handphone Raffael. “Makasih ya....” Ucap Raffael menerima handphonenya yang memperlihatkan hasil jepretan tukang potret barusan.


“Fotonya yang udah jadi, kamu bawa aja Clara.”


“Hemm, iya.” Clara menjawab dengan sedikit tersenyum. Ia melihat foto itu hasilnya bagus, wajah mereka berdua juga tidak nampak terpaksa. Lalu, Clara memasukkan foto itu ke dalam clutch nya.


Raffael membawa Clara ke stand bertuliskan kelas-kelas zaman dulu. XII IPA 1. Di tulisan itulah Raffael berhenti.


“Dulu kelas IPA ya Pak? Pinter dong berarti.” Bisik Clara perlahan kepada Raffael.


Sementara Raffael hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Clara. Tiba-tiba berdatangan teman-teman satu kelas Raffael dulu.


“Hai, Raffael ya?” Sapa 4 orang cewek yang nampak ayu dan centil.


“Iya.” Jawab Raffael singkat.


“Kamu gak berubah dari zaman SMA ya Raff, masih saja dingin. Padahal udah lama banget. Sama pacar atau istri, Raff?”


“Oh, iya ini pacar aku. Kenalin namanya Clara.”


Keempat cewek yang berdiri di depan Raffael itu pun menjabat tangan Clara. Setelah itu Anton yang semula menerima tamu, telah bergabung dalam stand kelas Raffa.


“Hai Raff, udah lama banget ya.” Sapa Anton.


“Iya.”


“Loe sama siapa Bro, kok enggak dikenalin.”


“Dia Clara, pacar gue.”


Tangan Raffael memegang erat tangan Clara, terasa dingin tangannya yang menggenggamnya erat itu.


 


Clara pun tersenyum sedikit dan menjabat tangan Anton.


“Hai, aku Clara.” Clara mengenalkan dirinya dengan singkat.


Kembali keempat cewek itu menanyai Raffael dan Clara yang masih berpegangan tangan di sana.


“Sudah berapa pacaran Clara?”


“Hmm, sudah 5 tahun.”


“Wah sudah lama juga dong, kapan nikahnya enggak bosen lama-lama pacaran.”


“Kapan enaknya kita menikah ya Kak? Kalau aku kan nunggu Kak Raffa aja.”


Kali ini giliran Clara yang mengeratkan genggamannya di tangan Raffael. Tangan itu terasa dingin dan berkeringat. Seolah-olah memberikan sinyal kepada Raffael, bahwa ia sedang gugup dan panik.


“Kamu manggilnya Kakak? Kok lucu sih sama pacar sendiri manggil Kakak.” Keempat cewek itu kompak tertawa bersama.


“Hehehe, karena aku dari awal memang manggilnya Kakak, kadang manggil Oppa juga.” Clara membalas ucapan temen-temen Raffael itu.


“Iya mau apa pun gak masalah Sayang, panggilan apa pun gak masalah yang penting saling sayang.” Raffael mengelus lembut pucuk kepala Clara, yang sontak menjadi perhatian teman-temannya.