
Hari Sabtu pun tiba, seperti permintaan Ayahnya sebelumnya, hari ini Clara akan menemui anak dari sahabat Ayahnya.
Sesuai yang dijanjikan, Clara akan menemui pria itu di cafe yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dan, sesuai kesepakatan dengan Raffa, sebelum berangkat ke cafe itu, Clara telah mengirimkan lokasi alamatnya kepada Raffa.
Raffa yang menerima lokasi alamat di mana cafe itu berada, langsung matanya berbinar, dan ia pun tidak menyangka bahwa Clara akan menemui pria itu di cafe yang tidak jauh dari apartemennya.
Lantaran tidak merasa terlalu bersemangat, Clara pun berangkat hanya dengan mengenakan jeans dan blouse berwarna navy. Ia tampil sangat sederhana.
Pertemuan keduanya akan di langsungkan jam 4 sore, sementara Clara yang biasa disiplin dengan waktu memilih untuk datang lebih awal. Clara memilih tempat di ujung, dan sebelumnya telah memesan jus stroberi.
Tidak berselang lama datang seorang pria yang berusia 28 tahun, wajahnya yang tampan dengan kulit cokelatnya.
"Selamat sore, apa benar kamu Clara?" Sapa pria itu sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Clara.
"Ah, iya. Sore... Benar aku Clara." Sahut Clara sembari menjabat tangan pria itu.
"Kenalin, aku Aaron. Aku yang diminta nemuin kamu sore ini. Papaku katanya temenan sama Ayah kamu." Aaron, pria itu memberikan penjelasan kepada Clara.
"Iya. Aku kesini juga setelah mendapat pesan dari Ayah." Sahut Clara.
"Kamu enggak pesan makanan? kok cuma minum aja?" Tanya Aaron basa-basi.
"Iya, aku minum aja. Kamu kalau mau pesan makan silakan."
Akhirnya Aaron hanya memesan Es Kopi Americano dan beberapa potong kue.
"Jadi, pekerjaan kamu sekretaris ya?" Tanya Aaron sembari menikmati es Kopi nya.
"Iya, aku sekretaris Pimpinan Paradise Hotel. Sudah 5 tahun aku bekerja di sana."
"Lama juga ya, bisa bekerja di satu tempat dalam jangka waktu yang lama."
Clara hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, "Iya. Sudah lama. Kalau kamu kerja di mana?"
"Aku Programmer di salah satu perusahaan IT. Tapi aku beberapa kali pindah tempat bekerja. Hmm, jadi kita ketemu ini sekadar bertemu atau gimana nih? Sorry aku mendahului kamu untuk menanyakan tentang ini." Aaron memang sengaja menanyakan kepada Clara, mereka hanya bertemu atau usai ini ada tahapan selanjutnya.
"Hmm, sebenarnya aku kesini hanya untuk menghargai permintaan Ayahku." Clara menghela nafasnya sejenak. "Sebenarnya, aku tidak percaya dengan hubungan yang dijalin lantaran perjodohan orang tua. Aku lebih menyukai hubungan karena telah mengenal orang tersebut dalam waktu yang lama, sehingga aku memang mengenal orang tersebut luar dalam. Bukan maksudku untuk menyakiti, tetapi memang itulah pandanganku tentang sebuah hubungan."
Aaron nampak mengamati Clara dan mendengarkan penjelasannya.
"Aku juga menyetujui pendapatmu. Lagipula ke depannya kita yang menjalani, jangan sampai membuat orang justru keberatan. Jika itu sampai terjadi, bukankah hubungan yang di bangun akan tidak sehat." Aaron rupanya juga setuju dengan pendapat Clara.
"Iya, aku rela menunggu dalam rentang waktu yang lama untuk mengenal seseorang terlebih dahulu. Asalkan hubungan yang dibangun pun kuat, bertahan dalam jangka waktu yang lama hingga maut yang memisahkan." Ucap Clara dengan penuh kepastian dalam setiap kata-katanya.
"Lalu, bolehkah aku bertanya apa kamu sedang menunggu orang itu?" Tanya Aaron.
Clara nampak ragu, ia sebenarnya tidak menunggu siapa pun juga. Bahkan untuk saat ini tidak ada pria yang mengenalnya atau pun ia kenal dalam jangka waktu yang lama.
Mungkin jawaban Clara terkesan ambigu, tanpa sering kali kita pun tidak tahu bahwa di luar sepengetahuan kita ada seseorang yang tengah berusaha untuk mengenal kita lebih dalam. Bukankah selalu ada kemungkinan untuk itu?
"Baiklah, jika begitu... Kurasa sekarang kita sudah jelas ya, lebih baik kita berteman saja. Bagaimana kamu setuju?" Aaron menawarkan hubungan pertemanan dengan Clara, karena keduanya seolah sama-sama tidak menghendaki untuk menjalin hubungan yang serius.
"Hmm, iya. Kita bisa berteman." Ucap Clara sambil tersenyum. "Apa sejauh ini tidak ada gadis yang sedang kau kejar?" Tanya Clara kepada Aaron.
Aaron nampak menyugarkan rambutnya perlahan. "Sebenarnya ada, tetapi karena kami berbeda kasta, jadi orang tua gadis itu menolakku. Dia gadis yang sangat cantik dan dari kalangan berada. Sulit bagiku untuk mengejarnya, menggapainya mustahil." Cerita Aaron sambil tersenyum getir.
Clara pun memperhatikan cerita Aaron. "Kalau kalian mau berjuang bersama-sama, aku kira kalian bisa mencobanya. Tak selamanya cinta harus terhalang kasta."
"Iya, dia pernah berjuang bersamaku, tetapi orang tuanya yang terlampau kaya dengan mudahku menolakku yang hanya seorang programmer dan keluargaku juga tidak terlalu kaya." Sahut Aaron, nampak ada kesedihan dan putus asa dalam ucapannya.
"Jangan putus asa. Jangan menyerah. Aku harap, kau bisa selalu berjuang. Aku akan mendukungmu." Clara nampak menyemangati Aaron.
"Iya, terima kasih. Kenapa aku bisa sejujur itu kepadamu, padahal kita baru saja bertemu. Aneh bukan?" Ucap Aaron yang nampak aneh bisa sejujur itu dengan Clara.
"Tidak apa-apa, kita justru bisa terbuka dengan orang yang baru kita kenal kok. Aku senang mendengar ceritamu, dan aku berharap kalau usaha dan perjuanganmu akan berhasil."
"Terima kasih Clara. Aku juga berharap kamu bisa segera menemukan pria yang mengenalmu untuk waktu yang lama, menghabiskan waktu bersama pula ya. Doaku tulus untukmu Clara."
"Terima kasih Aaron."
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu Clara, karena usai ini masih ada yang harus ku kerjakan, kamu tahu kan kalau pekerjaan programmer terkadang tidak mengenal waktu bukan?"
"Iya, aku tahu."
"Senang bertemu denganmu, Clara. Sampai jumpa lagi."
Aaron pun mulai pergi dari cafe itu dan meninggalkan Clara. Sementara Clara masih berada di cafe itu. Lantaran ia senggang, jadi ia ingin sedikit lebih lama di cafe itu.
Clara kembali meminum jus stroberi nya yang sudah tidak terlalu dingin, sembari ia mengamati jalanan yang lalu lalang di depan cafe itu. Clara cukup tenang karena tidak harus berjebak dalam hubungan bersama pria asing pilihan Ayahnya, tetapi di satu sisi Clara berpikir bahwa sudah saatnya juga ia membangun hubungan yang serius dengan pria, sebelum Ayahnya mencari pria yang lainnya untuknya. Clara pun hanyut dalam lamunan dan pikirannya sendiri.
"Kenapa kau di sini seorang diri Clara?"
Suara yang nampak familier di telinga Clara, namun kenapa pemilik suara itu ada di sini.
Clara mengalihkan pandangannya dan menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Pak Raffa... Bagaimana Anda bisa berada di sini?" Jawab Clara dengan wajahnya yang terkejut.
"Bisa. Bukankah kau yang memberitahuku lokasi ini sesuai kesepakatan kita?"
Raffa datang dan menjawab pertanyaan Clara dengan penuh percaya diri, ia lalu mengambil tempat duduk di depan Clara.