When My Love Bloom

When My Love Bloom
Calon Istri



"Jadi gimana, kapan kamu mau saya kenalin pada Mama dan Papa sebagai calon istri saya?" tanya Raffa sembari menatap wajah Clara dengan sorot matanya yang tajam.


Clara merotasi bola matanya, jujur ia semakin merasa aneh dengan Raffa. Mengapa tindakannya semakin hari semakin aneh.


"Pak Raffa jangan aneh-aneh ya." ucap Clara sembari memicingkan matanya.


Raffa justru tertawa melihat ekspresi Clara, "Saya serius, memangnya sejak tadi saya bercanda ya? Kamu saja yang tidak menganggap serius ucapan saya. Padahal sejak tadi saya serius, tetapi kamu saja yang menilai saya bercanda. Padahal wajah saya sangat serius saat ini."


Deg!


Jantung Clara tiba-tiba terasa berdebar.


Jadi sejak tadi dia tidak bercanda? Dia serius? Kenapa kok justru dia seperti itu kepadaku? Dan, apa Calon istri? Serius? Dia tidak bercanda. Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang seperti ini.


Clara terbenam dalam lamunannya sendiri. Lagipula, siapa pun juga tak akan menyangka dengan ucapan Raffa.


"Pak Raffa ini beneran tidak lucu ya, saya bisa sebel nih sama Bapak." ucapnya dengan cemberut.


"Terserah kamu saja, Clara. Saya malas berdebat denganmu. Lagipula kamu juga tidak peka." ucap Raffa dengan ekspresi wajahnya yang datar.


Raffa melajukan mobilnya dan ia mengantarkan Clara pulang ke apartemennya. Ketika di dalam mobil, keduanya sama-sama tidak terlibat dalam pembicaraan. Tepatnya lebih untuk menghindari perdebatan. Tanpa terasa, mereka telah sampai di apartemen Clara.


"Hm, makasih ya Pak Raffa sudah mengantar saya pulang." ucap Clara sebelum keluar dari mobil Raffa.


"Iya. Tidak masalah." sahut Raffa dengan wajahnya yang datar. "Oh, iya Clara, minggu depan kamu bisa temani saya?" tanya Raffa sembari mengecek sesuatu di layar handphonenya.


Clara melihat Raffa dengan tatapan curiga, untuk apa lagi dia memintanya untuk menemaninya. "Menemani ke mana Pak?"


Raffa masih diam dan masih sibuk dengan handphone di tangannya.


Merasa dihiraukan, Clara kembali mengajak bicara atasannya itu, "Pak, kenapa pertanyaan saya tidak dijawab? Maksudnya menemani kemana? Jangan aneh-aneh ya Pak." kembali Clara berbicara dengan Raffa.


"Ke Singapura, ada meeting di sana. Kita akan ke sana selama tiga hari. Ini, baru saja saya terima undangannya melalui email." ucap Raffa sembari menunjukkan handphonenya kepada Clara.


"Kok saya tidak menerima undangannya ya Pak? Biasanya kan undangan resmi biasanya saya juga mendapatkannya."Clara heran baru kali ini ia mendapatkan email yang langsung ke Raffa, biasanya semula surat masuk akan melalui dirinya terlebih dahulu, barulah nanti dia yang akan menyampaikannya kepada Raffa.


"Ini hanya dikirimkan ke email pribadi saya, jadi kamu tidak menerimanya." Raffa memberikan handphonenya kepada Clara. "Coba kamu lihat, itu tidak ke alamat email hotel kita." lanjut Raffa menjelaskan.


"Oh... Iya, ini langsung ke alamat email Pak Raffa." ucap Clara sembari menyerahkan handphone Raffa. "Bisa tidak email itu di-cc kepada saya supaya bisa saya arsipkan untuk surat masuk." tanyanya sembari melihat Raffa.


Raffa justru memberikan handphonenya, "Ini kamu cc saja langsung ke alamat email kamu dan email hotel juga sehingga lebih resmi." ucapnya.


"Baik Pak, maaf saya pinjam sebentar." ucap Clara yang kini kembali menerima handphone Raffa.


"Kamu pinjam lama juga tidak masalah kok, kan kamu calon istri saya." lagi-lagi Raffa menyebut-nyebut calon istri, membuat mata Clara terbelalak seketika.


"Kenapa? Kamu enggak suka ya?" lagi Raffa berkata pada Clara.


"Pak Raffa benar-benar aneh. Kita tidak ada kesepakatan ya Pak." sahut Clara ketus. "Baiklah Pak Raffa, saya keluar. Terima kasih sudah mengantar saya."


Clara lalu melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil Raffa, berlama-lama dengan Raffa justru membuatnya semakin tidak nyaman. Lagipula, atasannya itu sangat aneh akhir-akhir ini.


"Masuklah calon istri." sahut Raffa sembari melambaikan tangannya kepada Clara.


"Tumben ngajakin ketemu, Bro. Ada apa?" tanya Rino begitu Raffa datang.


"Gak apa-apa, cari temen aja." balasnya singkat.


"Makanya cari pasangan Bro, biar bisa malam mingguan sama pacar." sahut Rino.


"Apa dalam menjalin hubungan harus melalui pacaran dulu? Tidakkah langsung menikah?" tanya Raffa tiba-tiba.


Rino menatap tajam sahabatnya itu, tidak biasanya ia membahas masalah pribadi dengannya.


"Kenapa, kau mengajak nikah seorang gadis?" tanya Rino dengan memicingkan matanya. "Siapa gadis itu?" tanyanya lagi.


"Ada..." Raffa mengetuk-etukkan jari-jarinya di meja "Tetapi, keliatannya gadis itu tidak mau." ucapnya lesu.


Rino justru tertawa melihat wajah Raffa yang nampak frustasi. "Kenapa, kau barusan ditolak?"


Raffa giliran menatap tajam Rino dengan matanya yang layaknya mata elang yang siap menyambar mangsanya.


"Gue kasih tau, lakukan step by step. Dekati dulu, kenal dulu, utarakan perasaan lo, jalin hubungan pacaran, baru menikah. Terkadang ada gadis itu membutuhkan pengakuan kita, pernyataan cinta."


Raffa menimbang-nimbang perkataan Rino, ya perkataan Rino ada benarnya. Siapa pun pasti aneh jika diajak menikah dadakan.


"Lalu cerita ke gue, apa yang lo barusan lakukan?" Rino mendesak Raffa untuk cerita padanya.


"Enggak sih, gue cuma bilang ayo gue kenalin ke Mama dan Papa sebagai calon istri. Tetapi, agaknya dia enggak menganggap perkataan gue serius. Padahal gue ini serius. Dan, ini berarti gue enggak ditolak. Dia aja yang tidak menganggap serius ucapan gue."


"Siapa cewek itu, gue kenal?"


"Ada. Dan, lo gak perlu tahu." sahut Raffa ketus.


Rino tertawa, "Ternyata ada ya cewek yang menganggap ucapan seorang Raffael Saputra itu bercandaan. Hebat juga berarti tuh cewek. Gue jadi penasaran siapa dia. Tetapi, lo serius waktu jadiin cewek itu sebagai calon istri? Jangan cepet-cepet deh kalau menurut gue. Kenalan dulu, buat dia jatuh cinta dulu sama lo."


"Haa, jatuh cinta?" Raffa tak percaya dengan ucapan Rino. "Di usia dewasa seperti gue apakah layak jatuh cinta? Kayak anak remaja aja."


"Harus. Buat gadis itu jatuh cinta pada lo setiap hari malahan."


Raffa pun mulai menyusun rencana dalam otaknya.


Jatuh cinta ya? Aku harus membuat Clara jatuh cinta padaku. Aku gak akan pernah rela jika dia jatuh ke pelukan cowok lain.


Raffa berpikir sembari menganggukkan kepalanya.


"Oke Bro, gue balik dulu."


"Heh, lo langsung cabut gitu aja?"


"Iya. Thanks ya Bro." Raffa kemudian berlalu pergi.


"Sukses Bro." teriak Rino sembari tertawa menggelengkan kepalanya.


Kelakuan sahabat sekaligus atasannya itu memang benar-benar aneh bin ajaib. Sikapnya terkadang seenaknya sendiri, lempeng, dan kaku memang membuat Raffa terkadang misterius, dan Rino pun tak menyangka sahabatnya itu sekarang sedang serius dengan seorang gadis.