
Memang ada pepatah mengatakan, “asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam satu belanga.” Pepatah ini memang sangat kuno kedengarannya, tapi mungkin inilah yang dianut Raffael bahwa jodoh seseorang bisa dari tempat yang jauh, asal jodoh pasti akan bertemu, entah di manapun tempatnya.
*Raffael POV
Tidak kusangka, saat makan malam Papa menanyakan tentang calon menantu. Hmm, calon menantu apaan. Sampai di usiaku sekarang, aku belum pernah memacari seorang gadis, bagaimana Papa dengan entengnya membahas calon menantu.
Aku pura-pura tidak mendengar dan terus memakan sup ayam yang rasanya memang lezat ini. Aku ingin mengucapkan bahwa sayuran dalam sup ini dipotong sangat rapi dan ukurannya pas, sehingga teksturnya sangat pas. Ternyata Clara yang memotong sayurannya. Sore tadi, aku memang melihatnya membantu Mama memasak, sesekali mereka bercanda, aku melihat mereka tampak bahagia, mengobrol hangat sambil memasak. Bagiku memakan sup ayam ini jauh lebih baik daripada mendengar perkataan Papa tentang calon menantu. Dan, untung aku tidak tersedak saat mengunyah sayuran dan ayam dalam sup ini.
“Jadi kapan kamu akan mengenal calon menantu?” Tuan Wijaya kembali mengulangi pertanyaannya kepada Raffael.
Sementara Nyonya Ratna tersenyum melihat anaknya yang sangat cuek.
“Raffa, apa kamu mau kalau Mama jodohkan dengan anak temennya Mama?” Tanya Mama Ratna diiringi canda di wajahnya.
“Ah, apaan sih Ma. Raffa gak mau dijodoh-jodohin. Ini bukan zaman Siti Nurbaya Ma. Sabar aja Ma, kalau jodoh gak akan kemana.” Jawab Raffael dengan masih melanjutkan makannya.
“Gimana mau ketemu jodohnya, kalau kamu sibuk kerja terus. Kamu mau cewek yang seperti apa sapa tau Mama bisa carikan.” Sambung Mama Ratna.
“Rahasia dong Ma, masak Raffa ungkapin kriteria Raffa di sini sih Ma.” Raffael kembali menjawab pertanyaan Mamanya dengan nada datarnya.
“Hmm, ya udah, Raff. Kamu boleh nunggu jodohmu, tapi jangan kelamaan. Kakakmu dulu menikah di usia sepertimu. Papa harap kamu gak lama-lama jomblo.” Papa Wijaya kembali membuka suara dan penuh nada serius dalam ucapannya.
“Iya, Pa. Santai saja.” Jawab Raffael singkat.
“Kamu juga ya Clara, jangan terus menerus ngikutin kerjanya Raffa. Lama-lama kamu gak punya waktu untuk pacaran, untuk senang-senang. Okey!” Perintah Tuan Wijaya kepada Clara.
“Hemm, iya Tuan.”
Clara pun hanya menjawab singkat walaupun dalam hatinya dia juga berpikir apakah ada cowok yang mau dengan wanita super sibuk sepertinya.
“Aku aja gak bisa mengunjungi orang tuaku, gimana aku bisa pacaran coba. Di usiaku yang sekarang 26 tahun saja, belum pernah aku merasakan namanya pacaran. Oh, Tuhan.... Kenapa juga aku bekerja sangat sibuk sampai aku tidak bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan.” Gumam Clara dalam hati sembari merutuki nasibnya yang harus bekerja keras setiap harinya.
“Clara akan di Villa sini sampai kapan?” Tanya Nyonya Ratna yang duduk di sebelahnya.
“Saya besok siang harus kembali Nyonya, saya akan ke Bekasi untuk mengunjungi Ayah dan Ibu saya. Beberapa hari ini, mereka mengirimkan pesan katanya kangen sama saya.” Cerita Clara dengan mata berbinar-binar mengingat wajah bahagia orang tuanya setiap kali menyambutnya datang ke rumah.
“Sayang sekali, harusnya kamu menghabiskan akhir pekan di sini, biar refresh kan sebelum Senin mulai kerja lagi.” Imbuh Nyonya Clara.
“Iya Nyonya sangat disayangkan, tapi sayangnya saya juga sudah terlanjur janji kepada Ayah dan Ibu untuk mengunjungi mereka.”
“Raffa, Clara. Kerjanya jangan sampe malam-malam ya. Di sini tuh untuk liburan, refreshing, jangan kerja terus.” Papa Wijaya sedikit berteriak dari tempatnya menonton TV sembari memeluk Nyonya Ratna di sana.
“Udah Pa, jangan ganggu mereka. Kapan lagi kita melihat ada anak-anak muda yang punya semangat bekerja seperti Raffa dan Clara. Mama ambilkan kopi buat mereka dulu ya Pa, biar semangat lemburnya.” Nyonya Ratna melepaskan diri dari pelukan suaminya dan beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi bagi Raffa dan Clara yang tengah sibuk bekerja dengan laptop mereka.
Tidak lama kemudian, Nyonya Clara memberikan dua cangkir kopi panas dan sedikit camilan kepada Raffael dan Clara yang masih serius bekerja.
“Raffa, Clara, kopinya sambil di minum. Ingat jangan malem-malem kerjanya, kalian juga perlu istirahat.”
“Ya Ma, Ya Nyonya.” Raffael dan Clara pun kompak menjawab secara bersamaan.
Setelah itu Nyonya Ratna kembali ke ruang keluarga bersantai sambil menonton TV dengan suaminya.
“Clara, tolong kamu cek data-data yang berkaitan dengan email dari Rino ini ya?”
“Baik, Pak.”
“Datanya ada di laptop atau tablet kamu kan?”
“Hemm, sebentar saya cari terlebih dahulu, Pak.”
Nampak mata Clara membelalak mencari data yang diminta di Raffael di kotak directory nya. Sembari jarinya memutar-mutar kursor, Clara nampak serius dengan Laptop sekaligus tablet di depannya.
Beberapa menit berlalu sejak ia menjelajahi folder penyimpanannya, akhirnya Clara mengeluarkan suara dengan perasaan lega.
“Ini, ketemu Pak, ada datanya.” Seketika Clara membuang nafasnya dari mulut, beberapa menit yang lalu ia nampak kesusahan mencari data dan kini data yang dibutuhkan sudah berada di depan matanya.
Dua pasang mata memerhatikan keseriusan dua anak muda dengan laptop dan tabletnya yang saling duduk berhadapan dengan suasana hening di sekitarnya. Dua pasang mata itu, adalah kedua orang tua Raffael yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Raffael dan Clara begitu serius mengerjakan pekerjaannya.
Mama Ratna perlahan bergumam, mendongakkan kepalanya kepada Suaminya yang tengah duduk memeluknya, “Mama perhatikan kok mereka ini setipe ya Pa. Cara mereka berpikir tentang jodoh, cara mereka bekerja sekarang. Mama seperti melihat dua anak dengan kepribadian yang nyaris sama di depan sana.”
“Nyaris setipe aja, Ma. Papa jadi berpikir Raffa beruntung punya sekretaris seperti Clara yang tidak setengah-setengah bekerja untuknya. Kapan pun diminta lembur gak pernah menolak, kerjanya juga totalitas banget. Sekarang jarang loh, Ma ada orang-orang muda yang kerjanya totalitas seperti Clara. Ya gak Ma?”
“Kalau mereka bekerja keras tak kenal waktu seperti itu, masih aja mau ngeles menunggu jodoh. Lucu kan Pa?”
Ucap Mama Ratna kembali menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya itu.