
Raffa merasa sedikit tenang, pasalnya ia telah berhasil mengenalkan Clara secara resmi kepada Mama dan Papanya. Yang lebih membahagiakan adalah kedua orang tuanya menerima Clara dan justru menyayangi Clara. Perasaan Raffa benar-benar bahagia.
Apa yang dipikirkan Clara jauh hari sebelumnya perihal perbedaan cinta dan kasta nyatanya tidak berlaku. Ada Raffa yang mencintai Clara dengan tulus dan tentunya juga serius. Ditambah dengan restu dan kasih sayang dari Papa Saputra dan Mama Ratna membuat Raffa bernafas lega.
Kini pria itu tengah memikirkan cara untuk mengunjungi kedua orang tua Clara. Tentu ia ingin bersilaturahmi sekaligus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Clara.
"Apa kau sudah senang Clara?" tanya Raffa saat itu sembari mengemudikan mobilnya mengantar Clara pulang.
"Hmm, iya. Aku sangat senang. Terlebih karena Papa dan Mama menerimaku secara tulus, aku begitu lega rasanya." ucap Clara dengan melempar sebuah senyuman dari wajahnya.
"Kan aku sudah pernah bilang, Mama dan Papa berbeda. Beliau tidak akan mempermasalahkan perihal harta, tahta, dan kasta. Kau sudah lihat sendiri kan bagaimana Papa dan Mama juga menyayangimu."
Clara mengangguk setuju. "Iya. Rasanya lega. Sekarang sih aku bisa lebih menutup telingaku dengan cibiran dan gunjingan orang lain. Bagiku yang penting Mama dan Papa sudah mengetahui hubungan kita berdua. Iya enggak Mas?"
Raffa sedikit melihat Clara dan tersenyum. "Iya. Tetapi perjalanan kita masih panjang Clara. Karena masih ada yang harus aku lakukan. Aku harus bersilaturahmi dengan Ayah dan Ibumu. Aku ingin mengenalkan diriku secara langsung dan memberitahukan hubungan kita berdua."
"Apa harus secepat ini?" Clara bertanya kepada Raffa.
"Iya, lebih cepat lebih baik. Sehingga kedua orang tua kita sama-sama sudah mengetahui hubungan kita berdua. Bagiku menjalin hubungan tidak sekadar menyayangi dan mencintaimu, ada pertanggungjawaban yang aku emban kepada kedua orang tuamu." Hening sejenak. "Semua orang tua tentu lega bukan jika putrinya mendapatkan pria yang tidak hanya baik, tetapi juga bertanggung jawab."
Clara kembali tersenyum. "Kamu sweet banget deh Mas."
Raffa mengedipkan matanya. "Sweet gimana?"
"Kamu gak hanya baik, tetapi juga bertanggung jawab bahkan kamu juga mengemban tanggung jawab kepada orang tuaku juga. Makasih loh Mas. Aku baru tahu, di balik kepribadianmu yang dingin, kamu ternyata manis deh."
"Manis kayak apa?"
"Kayak Sakarin!" keduanya menjawab serentak dan diiringi dengan gelak tawa.
"Otak kita aja bahkan sama ya, yang kita pikirkan kalau yang manis itu sakarin."
Keduanya kembali terkekeh geli. "Abis benda itu terngiang terus di otakku, sejak kamu bilang kalau ucapanku manis kayak Sakarin, waktu kita di Singapura dulu."
Clara tertawa. "Kan bener, emang apa lagi yang lebih manis dari gula hayo?"
"Kamu." Raffa menjawab cepat.
"Maksudnya?" Clara masih enggak ngeh dengan ucapan Raffa.
"Yang lebih manis dari gula ya kamu." ucapnya seraya mengacak lembut puncak kepala Clara.
"Tuh mulai lagi deh. Kamu ya Mas."
Clara memukul lengan Raffa dengan tangannya.
"Jangan dipukul dong, kayak gini termasuk KDRT loh. Untung aku sayang, jadi aku sukarela memberi diriku."
"Udah dong Mas bercandanya. Malu tahu."
"Ya udah, Sabtu nanti kita mengunjungi orang tua kamu yuk. Mumpung senggang pekerjaan di hari Sabtu ini. Gimana?" tanya Raffa kepada Clara.
"Hmm, gak papa deh Sabtu. Tetapi Ayahku galak loh, Mas Raffa berani emangnya?"
Clara sejujurnya yang ingin menggoda Raffa saja, pada kenyataannya Ayah Clara sama sekali tidak galak.
"Berani dong. Demi kamu, semua akan aku perjuangkan. Kan aku datang dengan sopan, baik-baik, tentu Ayah akan senang dong. Kamu ingat kan siapa aku ini?"
***
Hari Sabtu yang dinantikan pun tiba. Sepasang sejoli itu bersiap pergi ke Bekasi untuk mengunjungi orang tua Clara.
Raffa tidak hanya membawa diri, ia juga membawa buah tangan berupa beberapa kue yang akan diberikannya kepada orang tua Clara.
"Sudah siap Mas? Yakin?" goda Clara sembari memasuki mobil Raffa.
"Harus yakin dong. Sekarang ya, biar enggak terlalu siang."
Raffa mulai melajukan mobilnya, menyisir jalanan Ibukota menuju ke kota Bekasi. Tidak terasa keduanya telah sampai di rumah orang tua Clara.
"Rumahku sederhana Mas, tidak seperti rumah Mama dan Papa." ucap Clara ketika hendak turun dari mobil.
"Aku tidak melihat rumah kamu. Sebuah rumah tidak dilihat dari seberapa megah bangunan dan fasilitasnya, tetapi kebahagiaan dari orang-orang yang menghuninya. Because home is where the love is." (Karena rumah adalah ketika di sana ada Cinta) Raffa menjawab dengan begitu bijak.
"Setuju. Bijak banget sih Pacarku ini." Clara membalas sembari mengerlingkan matanya kepada Raffa. "Ya sudah, masuk yuk Mas."
"Siang Ayah, Ibu... Clara datang." sapa gadis cantik itu memasuki rumah orang tuanya.
"Kamu pulang Nak? Tumben enggak ngabarin Ayah dulu." sang Ayah menyambut kedatangan anaknya dengan sukacita.
"Iya Ayah. Ibu mana Yah?" tanya Clara.
"Ada, baru di dapur. Kamu sama siapa Nak?" Mata Ayahnya memandang pada seorang pria muda yang berdiri tidak jauh di belakang Clara.
"Hmm, Ayah... Kenalkan, dia adalah Mas Raffa atasan Clara di kantor, Yah."
Raffa memberi salam seraya menjabat tangan Ayahnya Clara, lalu mengenalkan dirinya. "Saya Raffa..." ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
"Oh, ini Pak Raffa atasannya Clara. Ada gerangan apa kemari Pak Raffa?" Ayah Clara menyapa Raffa dengan sopan, bahkan beliau pun memanggil Raffa dengan sebutan 'Pak'.
Belum Raffa menjawab, ternyata Ibunya Clara juga turut bergabung.
"Ibu, Clara pulang Bu." Gadis itu memeluk Ibunya dan disambut dengan kasih sayang oleh Ibu sambungnya itu.
"Akhirnya kamu pulang. Loh, ini sama siapa?"
"Ini atasannya Clara, Bu... Pak Raffa namanya." Ayahnya yang menjawab pertanyaan Ibu.
"Hmm, tumben kok ikut Clara ke sini. Ada apa ya Pak?"
Raffa menghela nafasnya sejenak, jari-jari tangannya saling bertaut.
"Begini Ayah, Ibu... Saya ke sini yang pertama ingin bersilaturahmi dengan Ayah dan Ibu. Yang kedua, sebenarnya saya menjalin hubungan dengan Clara. Hubungan kami baru 2 bulan, tetapi sangat tidak elok jika saya menjalin hubungan tanpa memberitahu dan meminta restu kepada Ayah dan Ibu. Ya, istilahnya saya ingin mengenalkan diri secara resmi Ayah." Raffa berkata dengan setenang mungkin, walau pun hatinya begitu bergejolak saat ini. Pengalaman pertamanya mengenalkan diri kepada calon mertua.
Ayah dan Ibu nampak melihat Raffa dan Clara bergantian.
"Apa benar itu Clara?"
"Iya Ayah... Sebenarnya Clara ingin menjalani hubungan yang santai dulu. Tetapi Mas Raffa merasa bahwa niat baik jangan dihalangin. Minimal kedua orang tua kami sama-sama tahu, Yah." Begitulah jawaban Clara.
"O...."