When My Love Bloom

When My Love Bloom
Terciduk Mama



Usai menonton bioskop, Raffa dan Clara memilih untuk melanjutkan kencan mereka dengan menyantap sushi di salah satu restoran yang berada di dalam Mall itu.


"Setelah makan, ada lagi yang ingin kau lakukan?" tanya Raffa sembari menyuapkan sushi ke dalam mulutnya.


Clara nampak berpikir sejenak, "Kalau jalan-jalan sebentar boleh tidak Mas?"


Raffa menganggukkan kepalanya, "Iya, tentu saja boleh. Kita jalani layaknya anak muda pada umumnya."


Clara tersenyum mendengar ucapan Raffa, usia mereka memang sudah matang, tetapi karena keduanya sama-sama tidak memiliki pengalaman tentang berkencan maka mereka berusaha menjalani kencan seperti anak muda pada umumnya.


"Makasih Mas..."


"Jangan selalu berterima kasih kepadaku. Kita kan sudah janji akan menciptakan kebahagiaan kita bersama. Okey? Sekarang buka mulutmu ya, aku suapin sushi ini. Hak...." tangannya memasukkan satu potong sushi ke dalam mulut Clara.


Walau malu-malu, Clara pun menerima suapan dari Raffa. "Kalau sushi jangan disuapin dong Mas. Malu tahu..."


"Kenapa malu? Hmm."


"Iya, kan etika makan sushi harus satu suapan. Makan langsung dan disuapin Mas Raffa, pipiku jadi menggembung deh. Malu."


Raffa terkekeh geli melihat Clara. "Gak usah malu sama aku, mau pipimu menggembung atau apa pun itu tidak masalah bagiku."


"Iya tidak masalah, tapi diketawain. Kan malu."


"Ya udah, ya udah. Aku enggak ketawa deh."


Usai menyelesaikan makan malam, keduanya mulai berjalan melihat-lihat di area Mall. Bagi Clara dan Raffa yang sangat sibuk, mengunjungi Mall adalah hal langka. Karena itu, Clara pun memilih untuk berjalan-jalan sembari cuci mata.


Di tengah-tengah keduanya berjalan-jalan, terdengar suara perempuan yang memanggil nama Raffa.


"Raff.... Raffa, kamu jalan-jalan ke Mall ini juga?"


Raffa yang merasa namanya dipanggil, langsung berbalik dan menoleh ke belakang.


"Mama.... Mama sama siapa ke sini?"


Rupanya Mama Ratna yang memanggil Raffa.


"Mama sendirian aja Raff. Papa kamu kan baru sibuk, daripada cuma di rumah Mama milih jalan-jalan malahan ketemu kamu di sini."


Clara yang melihat Mamanya Raffa pun langsung menyapanya. "Selamat malam Nyonya..."


Mama Ratna pun tersenyum, lalu seperti biasa memeluk sekretaris anaknya itu.


"Halo Clara... Gimana kabarnya?"


Clara tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Saya baik Nyonya."


"Sehat ya... Tahu ada kamu, tadi Mama ikutan kalian jalan-jalan. Daripada di rumah sendirian. Di mana ada Raffa, pasti ada Clara ya." Mama Ratna hanya sekadar bergurau, namun pada kenyataannya memanglah demikian. Di mana ada Raffa, di situ ada Clara.


Clara hanya bisa tersenyum kikuk dan bingung harus menanggapi bagaimana, ia pun yakin bahwa hubungannya yang masih dalam hitungan hari pasti juga Raffa belum mengatakan apa pun kepada orang tuanya.


"Raff, anterin Mama pulang ya. Tadi sopir yang mengantar Mama sudah balik duluan soalnya." pinta Mama Ratna kepada Raffa.


"Raffa masih harus mengantar Clara, Ma..." Raffa mencoba jujur kepada Mamanya.


"Eh tidak apa-apa Pak, saya bisa pulang sendiri." Clara menyela Raffa, jauh lebih baik apabila Raffa bisa mengantarkan Mamanya untuk pulang terlebih dahulu.


"Clara ikut saja, abis nganterin Mama baru deh Raffa anterin kamu. Lagian rumah Mama enggak jauh dari sini. Jangan pulang sendiri Clara, ini sudah malam. Biar Raffa saja yang anterin kamu." pinta Mama Ratna yang menginginkan Clara untuk turut serta dengannya.


Clara merasa sungkan, karena itu beberapa kali ia memberi kode melalui kedipan mata kepada Raffa. "Bagaimana ini?"


Raffa hanya mencoba tenang dan bersikap biasa saja.


Sementara itu, lantaran melihat Clara yang canggung, Mama Ratna langsung menggandeng tangan Clara. "Sudah pulang sama kami aja, ini sudah malam. Kamu jangan pulang sendirian. Biar Raffa antar kamu."


"Baik Nyonya. Terima kasih." ucapnya sembari menundukkan kepala.


Ketika sampai di parkiran mobil, Clara menawarkan diri untuk menyetir mobil Raffa, namun pria itu menolaknya. Akhirnya Clara pun mengikuti kemauan Raffa dan berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan Nyonya Ratna.


Mobil yang berisikan tiga orang itu terasa hening, hingga Nyonya Ratna akhirnya buka suara.


"Kalian berdua sehabis lembur ya?" tanya Mama Ratna kepada Raffa dan Clara. Mama Ratna tentu tahu kebiasaan Raffa dan juga Clara yang memang seringkali lembur di akhir pekan.


"Kenapa Ma?" tanya Raffa yang justru tidak menjawab pertanyaan Mamanya, tetapi justru kembali bertanya.


Mama Ratna menghela nafasnya. "Jangan kerja terlalu keras, gunakan akhir pekan untuk bersantai tidak masalah, Raff. Kasihan Clara harus mengikuti ritme kerjamu. Sapa tau Clara merindukan orang tuanya, jadi akhir pekan dia bisa gunakan untuk mengunjungi kedua orang tuanya."


Raffa mendengarkan sembari terus mengemudikan stir mobilnya. Ya, yang disampaikan Mamanya benar. Karena lembur di akhir pekan, Clara tidak memiliki waktu untuk mengunjungi orang tuanya.


"Iya Ma, minggu depan kami tidak lembur. Biar Clara bisa mengunjungi orang tuanya. Ya kan Clara?" Raffa melempar pertanyaan kepada Clara.


"Hmm, iya Pak." jawabnya sambil tersenyum kikuk.


Usai 15 menit berkendara, akhirnya mereka telah tiba di kediaman Mama Ratna. Clara turut keluar dari mobil memberi salam perpisahan untuk Ibu dari atasannya itu.


"Aku langsung ya Clara. Ini sudah malam, kami hati-hati ya. Minta Raffa mengantar sampai depan apartemenmu ya." ucap Nyonya Ratna kepada Clara.


Clara sedikit menundukkan kepalanya. "Terima kasih Nyonya. Saya pamit ya Nyonya. Selamat malam." sapanya halus dan begitu ramah.


"Iya, hati-hati. Kapan-kapan maen kesini ya, atau kalau senggang kita bisa jalan-jalan ke Mall." ucap Mama Ratna sembari melambaikan tangannya.


"Baik Nyonya. Terima kasih."


Usai itu, Clara kembali masuk ke dalam mobil Raffa. Perasaannya agak tenang karena lepas dari kecanggungan bersama Nyonya Ratna. Sekali pun Nyonya Ratna baik kepadanya, tetapi perubahan statusnya sebagai pacar anaknya, membuat Clara merasa canggung.


"Kamu pasti sudah lega ya sekarang?" tanya Raffa sembari tersenyum jahil kepada Clara.


"Jujur sih iya. Aku tidak menyangka akan bertemu beliau. Untung kita sedang tidak bergandengan tangan." ucap Clara jujur, karena jika Mama Ratna melihat kontak fisik keduanya walau pun hanya sekadar berpegangan tangan pasti Mama Ratna akan curiga kepada mereka berdua.


"Maaf, aku belum memberitahu hubungan kita berdua kepada Mama. Aku ingin mengenalkanmu secara resmi kepada Mama dan Papa. Kita cari waktu yang tepat ya."


"Iya Mas, lagipula hubungan kita masih hitungan jari. Tidak perlu tergesa-gesa kan?"


"Iya, tetapi kamu tetap harus bersiap ya, karena kapan pun hubungan kita pasti akan diketahui oleh Mama dan Papa juga. Secepatnya aku akan mengenalkanmu secara resmi kepada Papa dan Mama."