When My Love Bloom

When My Love Bloom
Welcome to Tanjung Pinang



Burung besi itu mengudara di angkasa selama 2 jam, melintasi awan-awan, menampakkan birunya lautan di bawah ketinggian puluhan ribu kaki, dan menyajikan pemandangan topografi pulau-pulau yang sangat indah apabila dilihat dari atas. Pemandangan yang indah yang bisa dinikmati saat menaiki pesawat terbang.


Pesawat terbang yang mengudara selama 2 jam itu akhirnya telah mendarat di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Raffael dan Papanya bergegas turun dari pesawat dan menunggu sopir yang akan membawa mereka menuju hotel. Keesokan harinya mereka akan langsung memantau lahan yang kemungkinan akan dibeli oleh Saputra Corp, untuk membangun hotel ataupun resort di sana.


Mobil yang telah menjemput mereka pun tiba, dan keduanya masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap selama 2 hari.


“Bagaimana Raffa, pekerjaanmu aman kamu tinggal hari ini?” Tanya Papa Saputra begitu masuk ke dalam mobil.


“Menurut Raffa aman Pa... Raffa sudah percayakan kepada Clara dan Rino yang akan menggantikan Raffa saat ada rapat-rapat yang penting.”


“Untung kamu memiliki orang yang bisa diandalkan dan siap bekerja untukmu. Sekarang susah mendapatkan orang-orang seperti mereka. Papa sangat tahu kalau Rino dan Clara adalah orang-orang yang bisa diandalkan. Mereka berdua juga loyal kepadamu. Itulah nilai mereka berdua.”


“Iya, Pa... Raffa juga sadar tanpa Rino dan Clara tidak mungkin Paradise akan berkembang seperti ini.”


“Raffa, Papa mau bilang. Ini pun juga kalau kamu setuju.”


“Apa Pa?” Raffa menatap Papa nya dan ingin tahu apa yang hendak disampaikan oleh Papanya.


“Kalau misal Papa akan mengembangkan bisnis di sini apakah kamu mau tinggal sementara di kota ini untuk mengurus bisnis Papa?”


Raffael tidak langsung mengiyakan, apa lagi saat ini dia sama sekali belum memikirkan untuk tinggal di kota yang cukup sepi ini. Sejauh mata memandang hanya ada bukit, pepohonan, pantai, dan tanahnya yang berwarna merah.


“Keputusan berat, Pa. Lagipula, bagaimana dengan hotel di Jakarta kalau Raffa harus mengurus bisnis baru di sini.” Ucap Raffa sambil memijit pelipis keningnya yang mendadak pening.


Sesungguhnya yang paling membebani Raffael saat ini adalah Clara, sekretarisnya. Ketika ia tengah berani maju satu langkah untuk menyatakan perasaannya, kini satu langkah itu hancur dan ia harus mundur belasan langkah, lantaran permintaan Papa nya yang meminta Raffael untuk tinggal di Tanjung Pinang.


“Kamu pikirkan dulu saja, Raff. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Lagipula, Papa meminta Kakakmu juga tidak mungkin, istrinya sedang hamil. Sementara, Papa juga tidak bisa memantau penuh dan bolak-balik terbang ke sini, Mamamu pasti juga membutuhkan Papa. Saat ini, Papa mengandalkan kamu, tetapi Papa tidak akan memaksamu.” Ucap Papa dengan penuh pertimbangan.


“Iya Pa, Raffa akan pikirkan terlebih dahulu. Mungkin nanti jika Raffa tidak bisa menetap di sini, Raffa akan visiting ke sini sebulan sekali, Pa.”


 


Raffael tidak ingin langsung menolak, tetapi ia ingin memberikan opsi kepada Papanya. Bagaimana untuk memulai bisnis baru akan lebih baik bila dilakukan pengawasan secara langsung. Sementara, saat ini Raffael tidak bisa meninggalkan Jakarta, bukan kotanya yang membuat Raffael keberatan, tetapi ada satu orang yang benar-benar membuat Raffael tidak bisa meninggalkan ibu kota. Di sisi lain, ia pun tahu bahwa saat ini hanya dirinya lah yang bisa diandalkan oleh Papanya. Raffael sungguh diperhadapkan pada pilihan yang sulit.


“Iya, kamu pikirkan saja dulu, Raf... Papa percaya kepadamu dan pertimbangkan dahulu saja.” Ucap Papa Saputra sembari menepuk-nepuk punggung anak bungsunya itu.


 


Hari telah berubah menjadi malam, saat Raffa telah sampai di hotelnya. Hal pertama yang Raffa lakukan ketika sampai di hotel adalah mengaktifkan handphone nya, dengan segera ia mencari nama Clara di aplikasi pesannya.


[Aku dan Papa sudah sampai di Tanjung Pinang. Bagaimana kerjaan di kantor, Clara? Sorry, merepotkanmu untuk tiga hari ini.]


Pesan yang telah diketik oleh Raffa dengan segera terkirim kepada sekretarisnya. Hanya terkirim dan masih belum dibaca. Raffa memutar telephon genggamnya sembari berpikir apa yang sedang dilakukan sekretarisnya itu. Pastilah Clara akan sibuk bukan main, terlebih Raffa harus meninggalkan pekerjaan secara tiba-tiba.


Melihat pesannya yang masih belum terbuka, Raffa memutuskan untuk mendengarkannya dirinya terlebih dahulu. Perjalanan panjang, ditambah cuaca di kota Tanjung Pinang yang sedang memasuki musim kemarau basah memang membuat badan terasa lengket dan berkeringat, karena itu dengan segera Raffa mengguyur badannya di bawah aliran air shower yang hangat.


Usai mandi, Raffa segera mengecek handphone yang tergeletak begitu saja di tempat tidurnya, dan pesan yang ia kirimkan kepada Clara masih belum dibaca. Raffa ingin menelpon Clara, tapi ia enggan. Ia tidak ingin Clara merasa tidak nyaman dengannya. Akan tetapi, menunggu hingga pesannya dibaca dan dibalas rasanya juga lama sekali. Tidak biasanya Raffa menjadi tidak sabaran seperti ini, hanya lantaran pesan yang belum dibaca membuatnya mondar-mandir di dalam kamar, tidak menghiraukan perutnya yang kelaparan, sorot matanya hanya fokus mengamati handphone yang sedari tadi tidak berbunyi sama sekali.


“Ini sudah hampir jam 8 malam, dan Clara masih belum membaca pesanku. Apakah dia lembur? Atau dia sudah tidur? Kalau tidur kemungkinan tidak, ini masih terlalu dini untuk tidur.” Raffa bergumam dengan menaruh handphone di atas keningnya. Kelakuannya mirip ABG yang menunggu pesan dari pacarnya, padahal Raffa tidak lagi ABG, ia adalah pria dewasa yang nyaris berkepala tiga.


Lama rebahan dengan handphone di atas kepalanya, akhirnya Raffa memutuskan untuk tidak terlalu menunggu pesan dari Clara. Raffael yakin bahwa pasti sekretarisnya itu memiliki alasan tersendiri hingga tidak segera membaca dan membalas pesannya. Sebab, biasanya Clara akan selalu merespons dengan cepat semua pesan yang masuk ke handphonenya.


Sementara itu di Paradise Hotel Jakarta, Clara tengah bekerja merapikan kembali agenda pekerjaan atasannya. Jadwal untuk dua hari ke depan, juga sudah ia geser ke hari yang lain. Laporan dari Marketing tentang event yang akan dilakukan untuk bulan depan juga sudah dipelajari Clara. Ada atau tidak atasannya, Clara selalu berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin. Dengan menguasai pekerjaan, dia bisa melaporkan semua laporan kepada Raffael secara detail. Tidak terasa hari sudah malam, sudah menginjak jam delapan malam, dan Clara masih berkutat dengan Personal Komputer dan tabletnya. Hingga ia melupakan handphonenya yang ternyata ia taruh dengan posisi layarnya menghadap ke meja, pantas saja ia tidak tahu bila ada pesan atau pun notifikasi yang masuk ke handphonenya.


Clara mengambil handphonenya perlahan, dia mengernyitkan matanya ketika mendapati pesan Raffael di sana. Sudah sekitar satu jam yang lalu, dan ia baru melihatnya. Dengan segera jari-jarinya mengetik papan keyboard di layar handphonenya untuk membalas pesan dari atasannya.


[Maaf baru balas Pak, saya baru bisa memegang handphone]


[Saya masih di kantor menata ulang jadwal Pak Raffa dan mempelajari laporan dari Tim Marketing.]


[Syukurlah, bila Pak Raffa dan Tuan Wijaya telah sampai dengan selamat. Saya pamit pulang dulu, Pak. Selamat malam]


Pesan itu pun meluncur dengan segera ke handphone Raffael. Merasakan handphonenya bergetar, Raffael segera memegangnya dan mengusap layar handphonenya.


 


“Ah, benar tebakanku. Kau pasti lembur Clara. Kenapa kau begitu rajin, padahal atasanmu pun sedang tidak berada di kantor.” Raffa menyunggingkan senyuman mengingat betapa rajinnya Clara saat bekerja.


[Terima kasih karena telah bekerja keras. Baiklah, pulanglah. Ini sudah malam. Hati-hati Clara.]