When My Love Bloom

When My Love Bloom
Berpisah Sementara



Tepat jam 12 siang, Clara mengantarkan atasannya menuju Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Kali ini, Clara yang menyetir mobil atasannya, dan Raffael duduk di depan bersama Clara. Sesekali Raffael masih memantau beberapa data yang sudah berada di dalam Drive-nya. Raffael merupakan tipe pekerja keras, di mana pun dia bisa bekerja. Asalkan semua data tersedia, Raffael tidak akan menunda-nunda untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Clara....” Panggil Raffael sembari menolehkan kepalanya melihat sekretarisnya yang tengah mengemudi.


 


“Ya Pak Raffa, ada apa?.”


“Aku titipkan pekerjaan di kantor padamu ya, jangan sungkan untuk menghubungiku bila kamu kesulitan, aku pun akan langsung menghubungimu terkait dengan pekerjaan.”


“Ya Pak Raffa, siap. Tumben, juga pergi dadakan Pak, biasanya kan Pak Raffa paling tidak suka dengan hal yang mendadak.” Sahut Clara sambil matanya tetap fokus mengemudikan mobil.


"Iya, karena Papa minta ditemani. Jika bukan hal yang urgent, Papa tidak akan minta ditemani. Baru kali ini juga, Papa memintaku menemaninya. Kupikir pasti ini pekerjaan penting atau mungkin memiliki prospek yang bagus ke depannya." Ucap Raffael sembari menganggukkan kepalanya, dia percaya bagaimana Raffael tahu pertimbangan-pertimbangan bisnis Papanya. Dan, tanpa pertimbangan yang matang tidak mungkin Papanya memintanya untuk menemaninya.


"Ah, iya... Saya tahu Pak, Beliau pasti sedang melihat prospek ke depan, karena Beliau sangat jeli untuk perkembangan bisnis perhotelan, resort, atau pun villa."


Raffael tersenyum sembari mencuri pandang kepada Clara.


"Kamu sudah paham jalan pikiran Papaku ya?"


"Tidak juga Pak, hanya saja Beliau kan memang begitu jeli dalam melihat perkembangan bisnis Pak. Jadi ya berpikiran ke arah sana." Sahut Clara perlahan.


"Hem, tapi aku rasa itu memang benar. Papa gak akan gegabah bila sudah menyangkut masalah bisnis. Pertimbangan-pertimbangan Papa itu detail dan menyeluruh, tidak mungkin Papa bertindak tanpa perhitungan yang matang. Dan, aku pernah mendengar ke depannya perkembangan pariwisata di Tanjung Pinang akan meningkat, oleh karena itu banyak investor yang menginvestasikan uang mereka ke sana. Jika pariwisata berkembang, bisnis perhotelan dan semacamnya akan mengikuti." Raffael berkata dengan nada tenang dan meyakinkan. Memang seperti itulah bisnis perhotelan selalu berjalan bergandengan dengan sektor pariwisata.


"Iya Pak, karena memang seharusnya ada hubungan timbal balik antara bisnis perhotelan dan sektor pariwisata. Pariwisata berkembang, perhotelan, resort, dan sebagainya juga turut berkembang." Sahut Clara.


Dengan mengendarai mobil membelah jalanan ibukota, mereka telah sampai ke Bandara Soekarno – Hatta. Clara menemani hingga masuk ke dalam Bandara, memastikan semua yang beres dan tidak ada yang ketinggalan. Setelah Raffael hendak check-in, Clara berpamitan untuk kembali ke kantor.


“Baik Pak Raffa. Safe flight ya Pak. Kalau ada apa-apa, Clara siap membantu dari sini Pak.”


“Ya Clara, terima kasih. Aku akan mengabari kamu kalau nanti aku sudah sampai di Tanjung Pinang. Aku akan masuk ke dalam Clara. Hati-hati."


“Baik... Pak Raffa juga hati-hati. Semoga pekerjaan di Tanjung Pinang juga berjalan baik ya Pak.”


“Tunggu sebentar Clara...” Raffael nampak menghentikan Clara yang akan berbalik meninggalkannya.


Raffael melepaskan koper dari genggaman tangannya, dan ia merengkuh Clara dalam pelukannya. Pelukan yang berlangsung hanya sekian detik itu membuat Clara terdiam seperti patung. Itu pelukan refleks atau apa, setelah itu Raffael melanjutkan check inn dan melambaikan tangannya kepada Clara.


Clara benar-benar tidak menyangka, atasannya akan memeluknya. Walaupun hanya sekian detik, tanpa tidak biasanya Raffael bersikap demikian. Sementara Clara masih terdiam mengamati dan menatap punggung Raffael yang perlahan menghilang.


“Itu tadi Pak Raffa ngapain sih, kenapa aku mendadak sedih kayak gini, padahal juga udah biasa juga mengantar Pak Raffa ke bandara.” Gumam Clara dalam hati sembari berjalan ke arah parkiran mengambil kembali mobil Raffael.


Clara mulai mengemudikan mobilnya dan kembali ke kantor karena masih jam kerja. Sementara di bandara, Raffael dan Papanya telah bersiap untuk terbang. Sebelum terbang, Raffael membuka handphonenya dan mengirimkan pesan kepada Clara.


[Clara, ini sudah mau take-off. Kamu sudah sampai kantor? Mobilnya kamu bawa pulang aja, pakai aja selama 3 hari.]


Pesan Raffael telah terkirim, tapi belum ada balasan. Raffael berpikir mungkin Clara masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor, terlebih karena ia pergi secara dadakan serba terburu-buru pasti membuat sekretarisnya itu sangat sibuk. Banyak laporan yang perlu disiapkan, juga untuk beberapa event yang akan diadakan di Paradise Hotel tentu membuat Clara menjadi sangat sibuk.


Dan benar saja, sesampainya di Paradise Hotel, Clara langsung menghubungi Pak Rino dan membicarakan tugas-tugas atasannya selama 3 Hari ini.


“Selama sore Pak Rino, maaf mengganggu.” Sapa Clara kepada Rino, yang menjadi orang kepercayaan Raffael juga.


“Ah, ya Clara masuk. Bagaimana?”


“Pak Raffa kebetulan hari ini menemani Papanya ke Tanjung Pinang, jadi untuk rapat Eksekutif bisa dialihkan kepada Pak Rino dulu. Pak Raffa sudah berpesan untuk rapat akan diwakilkan kepada Pak Rino. Untuk hal-hal lainnya, bisa diberikan kepada saya Pak, saya akan unggah pekerjaan yang penting ke Drive Pak Raffa, sehingga Pak Raffa tetap bisa memantau pekerjaan dari tabletnya.”


 


Rino tanpa mengangguk mendengar pembicaraan Clara. “Oh, oke. Aku akan melakukannya. Berapa lama Raffa di Tanjung Pinang?”


“Setahu saya 3 hari Pak. Nanti hari Kamis, sudah kembali ke Jakarta.”


“Oke Clara baiklah, aku akan langsung berhubungan denganmu untuk semua pekerjaan yang harus diketahui Raffa. Terima kasih Clara.”


Clara pun kembali ke ruangannya. Ia mulai memindahkan agenda atasannya selama 3 hari ke depan dan menggantinya dengan hari yang lainnya. Berjam-jam Clara gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya hingga ia lupa untuk membuka handphonenya.


Kening gadis itu berkerut ketika membuka handphone dan mendapati pesan dari Raffael di sana. Tanpa menunggu lama jari-jarinya tengah menyentuh keyboard handphonenya dan membalas pesan Raffael.


[Baik Pak Raffa, safe flight safe landed.]


[Ya Pak Raffa, mobil akan saya pakai selama 3 hari ke depan. Terima kasih Pak.]


Pesan dari Clara rupanya masih dalam status pending, hanya centang satu di aplikasi pesannya, dia mengira mungkin Raffael belum tiba di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang. Maka dari itu, Clara kembali melanjutkan pekerjaannya. Sudah dapat dipastikan karena Raffael pergi secara mendadak, tugas yang harus dikerjakan Clara pun bertambah banyak. Tetapi bukan Clara namanya kalau tidak bisa meng-handle semuanya. Dengan kegesitan, kedisiplinan, dan berbagai data yang tersusun rapi dalam direktori miliknya semua bisa dikerjakan Clara dengan baik. Dia memang seorang sekretaris yang sempurna. Perfectly!