
Usai bercanda sembari menikmati es krim potong khas Singapura, keduanya berjalan menyusuri Singapore River. Di sini terdapat area untuk pejalan kaki menuju Merlion Park.
Dengan masih menggenggam tangan satu sama lain, keduanya nampak bahagia walau pun hanya sekadar berjalan kaki dengan pemandangan Singapore River yang sangat bersih dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa keduanya. Sesekali Singapore River Cruise (Kapal pariwisata yang melintasi Sungai Singapura) melintas di atas Sungai yang bersih dengan berbagai bangunan kokoh yang berdiri di kanan dan kirinya.
(Gambar: Singapore River Cruise yang melintas di Sungai Singapura.)
Hari mendung justru membuat suasana kian romantis. Baru saja mereka menikmati keindahan Singapore River, tiba-tiba gerimis turun begitu saja. Raffa dan Clara yang semula berjalan-jalan santai, tiba-tiba keduanya berlari-lari kecil untuk berteduh menunggu gerimis itu reda.
"Malah gerimis." ucap Clara sembari keduanya berteduh masih di area Singapore River.
"Gerimis manis ya, tambah manis karena ada kamu." Raffa terkekeh sembari melihat wajah Clara.
"Pak Raffa dulu Pak Raffa itu sekolah di Amerika ambil jurusan perhotelan kan Pak?"
"Iya, ambil Manajemen Perhotelan. Kenapa?"
"Keliatannya Pak Raffa salah jurusan deh."
"Hmm, maksudnya?"
"Saya kira Pak Raffa ambil jurusan pergombalan. Abis Pak Raffa sekarang hobi banget gombal sih."
Raffa lantas tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Clara. Pria itu hingga mencubit hidung mancung Clara. "Kamu bisa aja ya."
Clara pun tertawa sambil mengusap hidungnya yang barusan dicubit Raffa. "Hehehe... Abis Pak Raffa dulu pendiem banget, cool. Sekarang gombal terus."
"Aku sebenarnya orang yang sangat instrovert. Kepribadianku itu bertolak belakang dengan kepribadian Kakakku Marcell, yang lebih ramah dan easy going. Sementara aku itu pendiam dan tertutup. Tetapi, saat aku mulai nyaman dengan seseorang, aku bisa lebih terbuka dengan orang tersebut. Dan, aku nyaman sama kamu Clara. Jadi, ya seperti inilah aku."
Clara mengangguk paham mendengar cerita Raffa. Memang benar, saat kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman, kita akan bisa terbuka dengan orang tersebut. Itulah yang sedang dilakukan Raffa saat ini. Sisi lain dari dirinya, ia ungkapkan hanya kepada Raffa.
"Terima kasih karena telah menunjukkan sisi lain dari kepribadian Pak Raffa kepada saya. Saya sungguh menghargainya."
Raffa sedikit mengerutkan keningnya, di telinganya gaya bicara Clara masih sangat formal kepadanya. "Clara, bolehkah kita membuat kesepakatan?"
"Kesepakatan apa Pak?" jawab Clara cepat.
"Hmm, kita akan sekarang sudah berpacaran. Bisakah kalau gaya bicaramu jangan terlalu formal. Ganti kata 'saya' menjadi 'aku'. Aku pun sejak beberapa waktu lalu sudah menggantinya, karena bahasa itu bisa memperjauh kedekatan kita. Terasa sangat sopan, segan, dan membentengi kita berdua. Bagaimana?"
"Tetapi, saya belum terbiasa Pak. Bahasa ini sudah saya pakai selama 5 tahun bekerja bersama Pak Raffa." ucap Clara sembari menatap Raffa.
"Baiklah. Tetapi, coba saja pelan-pelan. Dan, bisakah kalau di luar kantor jangan memanggilku 'Pak'. Aku kan bukan Bapakmu, di kantor sih it's okay kalau kamu memanggilku Pak, karena aku atasanmu. Tetapi, di luar kantor kamu bisa memanggilku dengan sebutan lain. Hmm"
Clara lantas berpikir harus memanggil Raffa dengan sebutan apa ketika berada di luar kantor. "Saya harus memanggil dengan sebutan apa ya Pak? Saya sendiri juga bingung. Hehehehe..." jawabnya sembari tertawa.
"Kan banyak tuh nama panggilan kesayangan."
"Haa, panggilan kesayangan?"
"Iya, biasanya orang berpacaran kan memakai nama panggilan kesayangan buat pacar mereka kan. Ada yang manggil Sayang, Ayang, Honey, Cinta, atau apa lagi coba?"
"Saya tidak tahu Pak." ucap Clara sembari menundukkan kepalanya. Jujur ia pun malu dan kebingungan harus memanggil Raffa dengan panggilan apa ketika di luar kantor.
Raffa kali ini harus benar-benar sabar menghadapi Clara yang rupanya begitu polos. "Kamu pernah punya pacar enggak sebelumnya? Kamu manggil pacar kamu yang dulu apa?" tanya Raffa tiba-tiba.
"Wah, beruntungnya aku kalau aku adalah pacar perdanamu." ucap Raffa dengan bahagia.
"Emangnya kenapa Pak?"
"Ya, karena semua momen indah dan berharga, semua momen serba pertamamu adalah aku."
Wajah Clara merona merah, saat Raffa mengucapkan bahwa Raffa akan menjadi serba pertama dalam momen yang indah dan berharga baginya.
"Tuh bahagia banget kan jadi pacar perdana saya?" sahut Clara untuk menghilang perasaan deg-degan di hatinya.
"Iya, ibarat beli kartu perdana langsung dapat nomor cantik kan?" godanya dengan penuh percaya diri.
"Iya Pak. Iya." Clara terkekeh geli dengan Raffa yang ternyata sangat menghiburnya.
"So, jadi tetapkan di luar kantor kamu mau manggil aku dengan sebutan apa?" Raffa kembali ke topik pembicaraan mereka sebelumnya.
"Mas aja gimana Pak?"
Raffa tampak berpikir, sebelum memutuskan.
"Okay, gak masalah. Kamu bisa memanggilku itu, lagipula itu tidak terlalu buruk. Okay, aku setuju. Sekarang coba dulu dong, panggil aku dengan nama panggilan itu."
Clara tertunduk dan tersipu malu. "Mas Raffa..." ucapnya lirih.
"Kurang kenceng. Gak dengar. Apalagi gerimis, lebih terdengar gerimisnya." celetuk Raffa yang sebenarnya ingin mengerjai Clara.
"Mas Raffa..." kembali Clara memanggil nama panggilan kesayangan buat Raffa.
"Tambahin belakangnya harusnya sih..." lagi-lagi Raffa menginterupsi.
"Tambahin apa?" sahut Clara.
"Mas Raffa Sayang..." Raffa terkekeh geli. "Tambah bagus kan. Romantis juga didengar."
Clara pun ikut terkekeh geli. "Ahh, gak ada ya. Atau saya manggil Bapak lagi nih, abis nyebelin banget sih."
"Di kantor sih harus memanggilku Pak, karena di kantor kita tetap professional bekerja. Tetapi di luar kantor seperti ini kan kita tidak bekerja, hubungan kita juga bukan atasan dan sekretarisnya. Biasakanlah ya... kamu pasti bisa."
"Iya, saya akan berusaha pelan-pelan. Makasih Mas."
(Cieee.... manggilnya udah Mas ya nih😆)
"Ya sudah, gerimisnya sudah reda. Mau lanjut jalan ke Merlion Park? Ayo..." Raffa berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Clara dengan maksud supaya Clara kembali menggenggam tangannya dan keduanya bisa kembali berpegangan tangan.
Tanpa ragu, tangan Clara pun terulur menerima tangan Raffa. "Ayo Mas..." seraya berjalan dan mulai kembali berjalan menyisiri perjalanan menuju salah satu icon negara Singapura yaitu Merlion (patung dengan kepala Singa dan berbadan ikan).
Sekian menit mereka berjalan bersama sembari bergandengan tangan dan melempar candaan. Kencan pertama yang sederhana, tetapi begitu manis bukan?
Ada hal-hal yang romantis dan membahagiakan dalam kesederhanaan. Mencintai tidak harus membuat kita menjadi orang lain, mencintai dengan sederhana juga membuat hati bahagia. (Quote dari Author nih 😉😍)
Happy Reading🥰