
"Apa yang kau lakukan seorang diri di sini Clara?"
Clara sungguh tak percaya, suara yang sangat familiar di telinganya sekarang menyapanya di kafe itu.
Pemilik suara bariton itu adalah Raffa. Pria itu secara tiba-tiba mendatangi Clara di kafe itu.
"Kencanmu sudah selesai?" Tanyanya sembari mengembangkan senyuman di wajahnya. Tentu senyuman yang tidak jelas apa artinya.
"Pak Raffa... Bagaimana Anda bisa berada di sini?" Jawab Clara dengan wajahnya yang terkejut.
"Bisa. Bukankah kau yang memberitahuku lokasi ini sesuai kesepakatan kita? Tetapi kenapa kau memilih kafe yang sangat dekat dengan apartemenmu? Bukankah ini lucu?" Ucap Raffa sembari tersenyum menyeringai kepada Clara.
Clara pun memasang wajah cemberut. "Baiklah, saya akan pergi ke tempat yang jauh." Clara mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Eh, loh mana kemana?" Tanya Raffa dengan raut wajah bingung.
"Bukannya tadi saya bilang mau pergi ke kafe yang jauh. Bukannya Pak Raffa yang bilang kafe initiative terlalu dekat?"
"Duduk. Gak sopan ya, saya baru datang, kamu nya malahan pergi. Temani saya dulu."
"Pak Raffa aneh deh, tadi ngejek-ngejek saya. Sekarang minta saya temenin. Aneh deh. Emang gak ada orang lain yang nemenin apa?"
"Enggak. Enggak ada." Jawabnya singkat. "Jadi duduklah di sini, temani aku minum kopi."
"Hmm, baiklah." Sahut Clara sembari kembali duduk dan kembali meminum jus stroberinya.
Raffa kemudian memesan kopi dan karamel cake. Raffa memang penyuka kopi, nyaris tiap hari ia selalu meminum kopi hitam.
Tidak berselang lama, pesanan Raffa pun telah disajikan oleh pelayan. Secangkir kopi hitam dan karamel cake.
"Ini untukmu Clara." Raffa menyodorkan karamel cake kepada Clara. "Makanlah."
"Tidak usah Pak. Tadi saya sudah memakan cake juga." Clara menolak kue karamel itu.
"Harus kamu makan, karena aku tahu ini kue kesukaanmu. Kita tidak akan pergi dari sini, sebelum kau memakan kue karamel itu." Ucap Raffa dengan nada yang tegas dan terkesan penuh pemaksaan dalam ucapannya.
"Kenapa sih Pak, kok nyebelin? Apa karena saya tidak masuk hari ini?" Tanya Clara sembari masih cemberut melihat Raffa yang tiba-tiba mendatanginya.
"Tidak, bukankah kita sudah membuat kesepakatan. Lagipula, saya tidak aneh ya. Tadi saya melihatmu sendiri, jadi saya memutuskan untuk menemani kamu. Hitung-hitung malam minggu kan." Raffa tersenyum, ia justru semakin menggoda Clara.
"Memangnya Pak Raffa gak bisa malam mingguan sama cewek gitu." Clara menghela nafasnya sejenak. "Sama Veronika mungkin." Ucapnya pelan. Tetapi, suara Clara masih bisa didengar oleh Raffa.
"O, jadi kamu tahu Veronika itu?"
"Tahulah, kan saya ada tempat saya waktu Nyonya Ratna datang bersama Veronika. Cantik loh Pak, kayak model." Ucap Clara sembari cengar-cengir melihat ekspresi Raffa yang terlihat biasa saja.
"Lebih cantikan kamu, Clara." Raffa mengatakan sembari kembali menyodorkan kue karamel kepada Clara.
"Eits, semua orang juga tahu kalau Veronika cantik Pak. Veronika itu kayak super model Pak." Sela Clara yang mengatakan Veronika memang cantik.
Raffa menopang dagunya, dengan matanya yang melihat pada Clara. "Sayangnya, saya tidak menyukainya."
Mata Clara terbelalak mendengar kata-kata Raffa, bagaimana bisa wanita cantik sekelas super model justru tidak menarik perhatian Raffa. "Pak Raffa serius? Cantik banget loh padahal."
"Cinta itu bukan karena rupa, Clara. Kalau cinta hanya didasarkan pada wajah dan penampilan, maka kita bisa tertipu. Saya lebih baik jatuh cinta pada gadis yang biasa saja, tetapi saya bisa memastikan kalau hatinya juga baik. Dan tentunya tulus mencintai saya." Penjelasan Raffa panjang lebar.
"Lalu sudah dapat belum Pak, gadis yang seperti itu?" Jiwa ingin tahu Clara mungkin dengan tiba-tiba. Ia penasaran siapa gadis yang berhasil mencuri hati seorang Raffael.
"Sudah ada. Tetapi, rahasia dong. Secret!" Ucapnya sembari menyesap kopinya yang masih panas. "Jadi gimana pertemuanmu dengan cowok tadi, kenapa cuma sebentar banget?"
"Kok Pak Raffa tahu kami cuma sebentar? Pak Raffa menguntit ya?" Tanya Clara menyelidiki.
"Saya bukan penguntit ya. Enak aja kalau ngomong."
"Lalu, tahu dari mana?"
"Saya tahu aja. Jadi gimana pertemuanmu tadi?"
"Hmm, ya biasa aja Pak. Cuma kenalan aja. Tetapi, cowok itu sebenarnya sedang memperjuangkan gadis lain, Pak. Mereka beda kasta saja, jadi sulit bersatu walau pun sama-sama mencintai. Sedih ya Pak."
Raffa mengangguk mendengar cerita Clara, tetapi dalam hatinya ia merasakan sedikit lega, karena rupanya Clara tidak menjalin hubungan yang serius dengan pria itu.
"Zaman kayak gini masih cinta beda kasta ya? Jadi kembali ke masa abad pertengahan, padahal sekarang sudah zaman internet." Ucap Raffa.
"Ya memang Pak, tapi faktanya memang orang tua atau keluarga tak merestui karena anaknya memiliki pasangan yang tidak selevel. Ironis sih memang, tapi kasus seperti itu kan banyak di negeri kita ini. Pak Raffa pun kalau dihadapkan di situasi seperti itu pasti kesulitan juga kan?" Tanya Clara sembari menatap Raffa.
"Kalau saya tetap akan berjuang terlebih dulu, apa pun konsekuensinya. Tetapi entah saya merasa kalau Mama dan Papa bukan tipe orang tua yang memandang kasta seseorang. Karena dulu Mama dan Papa berjuang juga dari nol, mereka justru menghargai orang-orang yang berjuang dan bekerja keras. Ya, semoga Mama dan Papa sungguh-sungguh tidak memandang cinta karena kasta dan strata sosial."
Clara mendengarkan cerita Raffa, ya dia percaya bahwa Nyonya Ratna dan Tuan Wijaya Saputra adalah orang yang baik dan tidak sombong. Bahkan Nyonya Ratna juga sangat ramah kepada Clara.
"Itu karena istri Pak Marcel (kakak Raffa) juga dari kalangan berada Pak, jadi setidaknya masih satu level. Kalau misal mendapat yang berbeda kasta, ya kita tidak tahu Pak."
Raffa kali ini melihat Clara sembari tersenyum. "Kamu mau tahu respons Mama dan Papa kalau anaknya mendapat calon menantu yang tidak selevel?"
"Iya." Sahut Clara singkat.
"Yuk, saya kenalkan kamu kepada Papa dan Mama sebagai pasangan saya. Kita lihat Papa dan Mama akan langsung setuju atau tidak supaya kamu bisa melihat sendiri reaksi Papa dan Mama. Gimana, mau enggak saya kenalkan kepada kedua orang tua saya? Bukan sebagai sekretaris loh ya, kalau sebagai sekretaris ya mereka sudah tahu. Tetapi, saya kenalkan sebagai pacar saya. Gimana mau enggak?" Kali ini Raffa berbicara dengan serius, walau pun ia masih ada senyuman di wajahnya.
"Jangan ngaco deh, Pak. Apa-apain sejak tadi aneh deh. Pak Raffa gak lucu ya." Ucap Clara cemberut.
"Di sini saya sedang tidak melucu ya Clara!"