When My Love Bloom

When My Love Bloom
Curhatan Dua Pria



Seusai kehadiran Nyonya Ratna dan Veronika, suasana kantor terasa dingin. Wajah Raffa mendadak terlihat masam, mungkin memang dirinya tidak menyukai situasi yang Mamanya ciptakan dengan membawa Veronika untuk menemui Raffa. Sekali pun tujuan Mama Ratna hanya untuk mengenalkan Vero dengan anaknya, tetapi Raffa justru menolaknya mentah-mentah. Pria itu justru enggan berbasa-basi juga dengan wanita yang kecantikan dan proporsi tubuhnya yang laksana seorang model. Namun, semua itu justru membuat Raffa cukup sebal dengan situasi yang ada. Bahkan Mama Ratna pun keluar dari ruangan Raffa dengan raut wajah yang keliatan kecewa.


Clara yang berada di luar ruangan pun bisa merasakan bahwa Nyonya Ratna keluar dari ruangan Raffa dengan raut wajah yang nampak kecewa.


Raffa mendengus kesal, lalu tak lama setelah kepergian Mamanya dan Vero, Raffa keluar dari ruangannya.


"Clara, aku akan ke ruangan Rino dulu. Kalau ada pekerjaan yang penting tolong kamu kabari saya saja."


"Baik Pak Raffa..."


Clara menatap punggung atasannya itu, mengapa Clara merasa tiba-tiba terjadi perubahan mood pada diri Raffa. Usai kepergian Mamanya kenapa justru Raffa menampakkan sikap yang tidak suka. Clara hanya memandangi atasannya itu dari belakang, lalu ia duduk kembali mengerjakan tugas-tugasnya.


Raffa menuju ruangan Rino. Tanpa mengetuk pintu, Raffa masuk ke dalam ruangan Rino.


"Baru ngapain, No?" Tanya Raffa sembari mendudukkan dirinya di berada di ruangan Rino.


"Baru kerja lah. Kalau gue nyantai, masak ya lo mau mempekerjakan gue. Makan gaji buta itu enggak banget ya. Kenapa tumben ke sini?" Sahut Rino sembari duduk di hadapan Raffa. "Kenapa wajah lo masam sekali?"


Raffa membuang nafasnya secara kasar. "Tadi Mama ke sini, dia mengenalin gue sama anak temennya, namanya Veronika." Raffa menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Gue gak suka kalau Mama kayak gitu, gue gak suka dikenalin sama cewek-cewek. Untung Mama di sini cuma sebentar, jadi gue gak perlu basa-basi lagi, ya emang gue gak bisa juga sih basa-basi."


Mendengar perkataan Raffa, justru Rino nampak tertawa. Rino yakin bahwa Mama Ratna hanya berniat baik, lagian anaknya sudah berada di usia menikah, wajar saja bagi orang tua berusaha mengenalkan anaknya, sapa tahu keduanya berjodoh. Lagipula pria yang berusia matang untuk menikah itu, nampak tak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Lebih dari itu, Raffa justru terkesan menghindari cewek-cewek.


"Lo sih yang aneh, kali aja niatan Mama lo baik. Lagipula, dari dulu sampai sekarang lo kayak gak deket sama cewek sih, mungkin Mama lo mengira lo gak suka cewek kali." Ucap Rino sambil tertawa. "Tunggu, tetapi sebenarnya ada satu sih, lo cuma deket sama Clara, sekretaris lo itu. Dan, mungkin cuma Clara aja satu-satunya cewek yang sabar menghadapi lo."


"Ya kan gue punya target, gue gak mau cepet-cepet menikah. Mending gue nikah agak terlambat, tetapi dapat pasangan yang tepat. Yang cinta gue apa adanya, bukan yang ada apanya. Gue yakin kalau mereka suka gue ada apanya pasti banyaklah, tetapi gue mau dapat cewek yang melihat gue hanya sebagai Raffael aja, bukan sebagai pemimpin Paradise Hotel ini. Makanya, gue terkesan nunda, karena gue mau dapat pasangan yang bener-bener tepat." Ucap Raffa dengan serius sembari ia menggoyang-goyangkan kakinya.


"Makanya supaya Mama Ratna enggak ngenalin sama anak temennya lagi, buruan cari tuh cewek yang mau sama lo apa adanya." Celetuk Rino sambil mengamati wajah masam Raffa. "Jujur deh sama gue, ada enggak cewek yang saat ini lo selama ini? Gue jadi sahabat lo udah lama aja, ampe gak tau siapa cewek yang lo deketin." Rino nampak menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. Bukan tanpa sebab, Rino pun sebagai sahabat Raffa tidak perlu mengetahui sahabatnya itu menjalin kasih dengan seorang gadis. Waktu kuliah di luar negeri pun, Raffa termasuk pria yang hidupnya lurus dan tidak mengikuti pergaulan anak-anak di Amerika waktu itu.


Mendengar jawaban sahabat sekaligus rekan kerjanya itu, Rino seolah tak percaya. Siapa gadis yang sudah berhasil mencuri hati Raffa itu? Bahkan Raffa tak sungkan mengatakan bahwa dia menyukai gadis itu untuk waktu yang lama.


"Kalau suka kenapa diem? Nanti kalau duluan sama cowok lain gimana coba?" Rino kali ini mengatakan dengan sungguh-sungguh.


Tidak selamanya cinta dalam diam itu akan berhasil. Lagipula, apa sulitnya mengungkapkan perasaan. Cukup mengungkapkan, diterima atau tidak itu urusan belakang.


"Gue ragu aja sih, lagian gue juga gak tahu gimana perasaannya sama gue. Ya jadi, gue diem aja."


"Gak nyangka gue, Raffael yang piawai mengurus bisnis perhotelan malahan bersikap defensif coba. Kalau suka ya diungkapkan dong, kalau lo diem terus ya cewek itu gak bakalan tahu. Gimana sih lo, Raff? Aneh deh." Kali ini Rino terlihat begitu sebel dengan sikap dan pemikiran Raffa.


"Oke deh, gue akan coba ungkapkan. Soalnya cewek itu juga udah mulai dikenalkan dengan cowok pilihan orang tuanya."


"Nah, bener kan. Lo mau keduluan sama cowok lain? Kalau mau, pasti seumur hidup lo bakalan jadi bujang lapuk." Rino mengejek sahabatnya habis-habisan.


"Gila ya bujang lapuk segala. Walau pun nanti gue udah tua, gue gak bakalan lapuk. Gue tetep keren kali." Raffa tidak terima dengan ejekan sahabatnya itu. "Ya udah, gue balik ke ruangan." Raffa berdiri dan meninggalkan ruangan Rino, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar ruangan, Rino memanggilnya.


"Raff, buruan diperjuangin sebelum janur kuning melengkung." Candanya sambil tertawa melihat Raffa.


Raffa hanya memasang wajah datar dengan ucapan Rino, tetapi di satu sisi ia pun lebih waspada sekarang. Karena kesempatan memang tidak akan datang kedua kali. Ia hanya perlu mengungkapkan perasaannya saja, minimal ia berani melangkah satu langkah. Kenyataannya memang tanpa mengungkapkan perasaan, orang yang kita sukai juga tidak akan mengetahui perasaan kita yang sebenarnya bukan?


Sambil berjalan menuju ruangannya, Raffa menyusun rencana di dalam otaknya. Rencana untuk bisa mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang telah ia cintai. Benar yang dikatakan Rino, bahwa ia tidak mau kalau sampai keduluan pria lain. Minimal ia mengatakannya dan membuang keraguan dalam dirinya. Ia hanya perlu mencoba.


Akan tetapi, bagaimana pun Raffa mengingat bahwa Clara akan menemui pria yang tak lain adalah anak dari sahabat Ayahnya. Raffa tak ingin mencuri. start, ia akan mengizinkan Clara menemui pria itu terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Raffa akan berusaha mengutarakan isi hatinya.