When My Love Bloom

When My Love Bloom
Ungkapan Isi Hati



Dinner yang berlangsung secara outdoor di salah satu Restoran Italia kenamaan di Negeri Singa untuk tidak hanya sebatas menjalin relasi, kadang kala dari pembicaraan sesama rekan bisnis juga akan menjalin kerja sama baru dari pembicaraan secara dua belah pihak.


Jika para pengusaha sudah berkumpul, jangan harap makan malam seperti ini bisa berlangsung satu hingga dua jam, pasti durasi lebih lama karena banyaknya obrolan basa-basi yang dilakukan. Kendati demikian, Raffa sebagai orang tidak suka basa-basi, dia lebih memilih meninggalkan acara terlebih dahulu daripada bergabung dalam topik pembicaraan yang hanya sekadar basa-basi.


"Usai makan malam, mau jalan-jalan sebentar denganku Clara?" tawar Raffa secara langsung kepada Clara.


"Ya, baik Pak..."


Raffa dan Clara pun segera menyantap menu makan malamnya, usai itu Raffa mengajak Clara ke Sands SkyPark Observation Deck. Di tempat ini keduanya melihat panorama area Marina Bay, pemandangan Garden by The Bay, dan pemandangan selat Singapura dari ketinggian Marina Bay Sands.



(Gambar: Pemandangan kota Singapura dari Sand SkyPark Observation Deck Marina Bay Sands).


Clara begitu takjub melihat keindahan kota Singapura dari ketinggian. Lampu berwarna-warni membuat kota ini bersolek dengan indahnya. Sekali pun terpaan angin malam kerasa indah, tetapi keindahan yang didapat sangat sebanding. Bahkan para wisatawan sering kali menjuluki pemandangan Singapura di malam hari ini layaknya Las Vegas di Amerika Serikat. Gedung-gedung pencakar langit yang berdiri, beberapa kapal yang berlalu lintas di Selat Singapura, juga pesona Garden by The Bay yang membuat pemandangan dari Sand SkyPark Observation Deck ini sangat indah.


"Ini sangat indah, Pak..." ucap Clara sembari mengurai senyuman di wajahnya. "Bolehkah saya mengambil foto dari sini Pak?" Clara bertanya terlebih dahulu kepada Raffa.


"Ambil saja foto-foto sesukamu. Karena bukankah kita membayar mahal juga untuk naik ke sini?"


Ya, naik ke Sands SkyPark Observation Deck memang cukup mahal. Biaya untuk sampai ke tempat ini adalah 20 Dollar Singapura, atau setara hampir Rp. 210.000,- per orang.


Raffa hanya berdiri menyilangkan kakinya dan tangannya bersandar pada deck yang berada di Sands SkyPark. "Mau aku fotokan?" Raffa kembali menawarkan diri untuk memfotokan Clara.


"Tidak usah Pak, kamera saya hasilnya kurang bagus jika untuk berfoto di malam hari." jawab Clara apa adanya.


"Berdirilah. Aku akan mengambil gambarmu dengan kameraku."


Mulailah Raffa mengarahkan Clara untuk mengambil pose foto. Ia dengan senang hati dengan gambar dengan tangkapan kamera handphonenya.


"Terima kasih Pak." ucap Clara ketika Raffa telah mengambilkan gambarnya dengan beberapa pose di tempat dengan view yang sangat indah itu.


Usai itu pun, Clara berdiri tidak jauh dari Raffa. Menikmati pemandangan malam kota Singapura yang sangat indah.


"Clara..." Raffa memanggil nama sekretarisnya itu.


"Ya Pak..."


"Sebenarnya ada ingin aku katakan kepadamu."


Clara nampak menolehkan wajahnya, kini ia melihat Raffa dengan matanya. Clara hanya menatap Raffa dan memberi anggukan kecil.


"Hem, sebenarnya aku mau mengatakan kalau aku menyukaimu Clara. Awalnya aku memang tidak tahu perasaan ini apa, tetapi aku terus menggalinya. Saat wawancara penerimaan sekretaris 5 tahun lalu, aku begitu terkesan dengan jawabanmu yang ingin selalu membantu atasanmu hingga mencapai kesuksesan. Dan, dalam lima tahun ini kau telah membuktikannya. Dalam waktu yang cukup panjang ini juga, perasaanku semakin berkembang."


Saat ungkapan perasaan itu lolos dari mulut Raffa, jantung Clara seolah berhenti berdetak. Ia tak menyangka, Raffa akan mengatakan perasaannya saat ini, di tempat yang sangat indah ini.


"Beberapa waktu belakangan, aku bahkan memintamu menjadi calon istriku, menjadi pacarku juga. Menurutmu mungkin aku aneh, tetapi aku mengatakannya serius. Aku ingin menjadi tulang rusukmu. Aku rasa aku bisa membahagiakanmu, dan aku pun akan bahagia karena memilikimu di seluruh sisa umurku. Jadi, apakah kau menerima perasaanku ini Clara? Dan, please jangan menganggap bahwa saat ini aku sedang bercanda. Aku selalu serius jika itu selalu berkaitan denganmu, Clara."


Clara memberanikan diri menatap Raffa. Sekali lagi ia tak menyangka bahwa atasannya yang dingin dan terlihat sangat anti dengan perempuan, nyatanya kini ia berbicara panjang lebar ketika mengungkapkan perasaannya.


"Anda yakin dengan perasaan Anda, Pak? Jika suatu hari nanti Anda terpikat dengan wanita lain bagaimana?" Clara justru menanyakan pertanyaan balik, dan belum memberikan jawaban pada Raffa.


"Aku pria yang tidak mudah jatuh cinta Clara. Bahkan seumur hidupku, rasanya hanya padamu aku merasa tertarik."


Clara mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Raffa. Padahal di atas kertas sosok Raffael Saputra akan sangat mudah mendapatkan wanita, pria itu tidak hanya tampan, tapi juga kaya, handal, dan sangat kompeten. Paket komplit untuk dijadikan suami masa depan.


"Jika kamu tidak mau menjawabnya tidak masalah. Aku bisa menunggumu kapan pun waktu yang kau perlukan." Raffa lalu mulai menapakkan kakinya dan ia hendak berjalan meninggalkan Clara.


Pria itu mungkin merasa tak enak hati atau bahkan kecewa karena Clara seolah tak ingin memberikan jawaban atas apa yang sudah Raffa katakan.


Baru dua langkah, Raffa berjalan. Tangan Clara rupanya memegang lengan Raffa berniat untuk menghentikan atasannya itu.


"Pak Raffa..." hening sejenak. "Saya juga menyukai Bapak."


Satu kalimat lirih dari Clara langsung membuat Raffa berbalik arah seketika. Ia tak menyangka bahwa perasaan cinta yang pertama kali ia rasakan seumur hidupnya akan berbalas.


Wajah Raffa yang semula tegang, kini berubah menjadi merah lantaran ia tak menyangka secepat ini Clara juga membalas perasaannya.


Kini kedua tangan Raffa, menggenggam tangan Clara. "Terima kasih mau menerimaku." ucapnya tulus. "Jadi, malam ini officially kita pacaran bukan?" tanya Raffa sembari mengerlingkan matanya.


Sementara Clara hanya mengangguk dengan wajahnya yang memerah karena malu. Perasaan malu dan bahagia bercampur dengan satu. Sungguh, Clara tak menyangka ia akan memulai satu hubungan baru dengan pria di tempat seindah ini.


Raffa pun mengikis jarak keduanya. Pria itu ini memberanikan diri untuk memeluk Clara.


"Aku mencintaimu Clara. I Love You." ucapan itu terasa tulus dan lembut di telinga Clara.


Setelah sekian detik dalam pelukan Raffa, Clara pun mengurai pelukannya. "Berarti benar dugaan saya kalau Pak Raffa salah makan hari ini, ternyata karena ini ya?" ucapnya sembari terkekeh melihat wajah Raffa.


"Aku tidak salah makan. Katamu tadi aku kebanyakan minum sakarin, jadi sekarang seperti inilah aku." ucap Raffa sembari merentangkan kedua tangannya yang berniat untuk kembali merengkuh Clara dalam pelukannnya.


Clara hanya terkekeh dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Raffa, "Love U Too Pak Raffa..."


Happy Reading🄰