When My Love Bloom

When My Love Bloom
Second Date



Raffa menatap lekat-lekat wajah Clara, "Dengarkan aku. Jika tugas laut adalah membuat ombak, maka tugasku adalah memikirkan dan mencintaimu."🥰


Clara tersenyum, kelihatannya Clara memang harus terbiasa dengan gombalan Raffa setiap harinya. Ada-ada bahan yang bisa digunakan Raffa untuk menggombali Clara.


Namun, entah mengapa gombalan-gombalan yang Raffa ucapkan nyatanya justru membuat Clara begitu bahagia.


"Sudah dong Mas gombalnya. Lama-lama aku kenyang karena gombalan Mas Raffa loh."


"Gak apa-apa, semua perkataan manis itu cuma aku ucapkan buat kamu kok. Emang kamu gak suka digombalin?" tanyanya dengan kening yang cukup berkerut. Sebab pada dasarnya memang beberapa wanita ada yang tidak suka dengan gombalan dari kekasihnya.


"Ya suka Mas, tapi jangan-jangan. Nanti aku diabetes beneran loh. Kalau aku kena diabetes, kamu juga kan yang repot karena aku harus melakukan suntik insulin."


"Hmm, ya sudah. Sekarang aku gak akan gombalin sering-sering deh." Raffa mengalah, bagaimana pun ia hanya ingin Clara nyaman selama berada di dekatnya. Itu sudah lebih dari cukup.


"Clara, weekend ini kita jalan-jalan yuk? Anggap saja kita ngedate, toh kita jadian kan baru beberapa hari."


Mata Clara berbinar mendengar ajakan Raffa. Dalam hatinya dia bahagia karena tidak harus lembur di akhir pekan. Bisa jalan-jalan bebas di saat weekend tentu hal yang cukup langka bagi Clara yang dulunya selalu bekerja saat weekend.


"Iya, boleh Mas. Aku malahan seneng." ucapnya bahagia.


"Kenapa, hmm? Karena bisa jalan-jalan sama aku?" Raffa berkata dengan penuh percaya diri.


Clara tersenyum, "Tidak dong. Senenglah, berarti aku kan tidak harus lembur di akhir pekan. Kapan lagi." balasnya dengan ekspresi bahagia.


"Kamu ini ya." Raffa gemas sebenarnya melihat ekspresi Clara yang seketika seperti anak kecil yang mendapatkan es krim.


"Ya sudah, sabtu aku jemput jam 3 sore ya. Kalau mau request mau jalan kemana, boleh. Kamu pikirkan saja kita mau jalan-jalan kemana."


"Ya Mas Raffa." balasnya lembut.


***


Hari Sabtu yang dijanjikan pun tiba, sedari pagi Clara sudah sibuk untuk menyiapkan bajunya, merawat wajahnya walau hanya sekadar menggunakan facemask, merapikan kuku-kukunya dan mempercantiknya dengan menggunakan kutek. Persiapan yang sungguh berlebihan sebenarnya, tetapi bagi Clara karena ini pertama kalinya berhubungan dengan pria, dan pria itu adalah Raffael Saputra, maka Clara hanya ingin tampil cantik di hadapan kekasihnya.


Kurang lebih jam 2 siang, Clara sudah mandi dan keramas, tidak lupa ia menata rambutnya supaya lebih rapi. Jika urusan make-up, Clara memang bukan wanita yang ribet. Cukup make up minimalis dengan kesan flawless, dan lipstick berwarna pink untuk mempercerah bibirnya.


Clara memantaskan dirinya di depan cermin, celana jeans yang ia kenakan dengan kemeja berwarna biru navy, dirasa sudah cocok untuk menemani Raffa jalan-jalan sore ini.


Tepat jam 3, Raffa telah menunggu di luar apartemen Clara.


[Clara, aku sudah sampai.] pesan dari Raffa begitu singkat dan kesan to the point itu masih kerasa.


[Ya mas, aku turun.] balasnya juga singkat.


Setelah menerima pesan balasan dari Clara, Raffa langsung keluar dari mobilnya. Ia menunggu di luar sembari menyadarkan badannya di mobil dengan satu tangannya masuk ke dalam saku celana. Raffa siap menyambut kedatangan Clara.


Sementara Clara begitu keluar dari apartemennya, matanya mencari sekeliling di mana pacarnya itu berada. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya mencari di mana Raffa menunggunya. Hingga akhirnya matanya menangkap lambaian tangan dari pria yang dicarinya itu.


"Mas, sudah lama?" tanyanya begitu ia menghampiri Raffa.


"Enggak, belum ada lima menit kok. Kita bisa serasi sih, sama-sama memakai jeans dan kemeja navy. Koneksi hati itu memang benar-benar kuat ya, padahal kita enggak janjian." ucapnya sembari mengerlingkan matanya kepada Clara.


Sementara gadisnya hanya mampu tersenyum ketika Raffa mengerlingkan matanya.


"Ayo masuk." Raffa membukakan pintu mobil dari Clara. Setelah itu barulah ia mengitari mobil, lalu duduk di kursi pengemudi.


"Nonton film mau enggak Mas?" tawarnya, bagaimana pun Clara ingin apa saja yang mereka lakukan harus kesepakatan bersama.


Dengan demikian salah satu pihak tidak merasa terpaksa, itulah salah satu kunci membina hubungan yang sehat.


Raffa menganggukkan kepalanya, sembari jari-jarinya mengetuk stir mobil. "Oke, boleh. Kita ke Mall berarti ya."


Dengan gesit, Raffa mengendarai mobilnya menuju salah satu Mall di pusat Ibukota. Film yang mereka pilih juga berdasarkan pilihan bersama.


"Tunggulah, di sini. Aku akan beli popcorn dan minuman." ucap Raffa setelah selesai membeli tiket film.


"Baik Mas." sahut Clara.


Tidak sampai 10 menit, Raffa telah kembali dengan popcorn kemasan besar dan dua minuman.


"Sebenarnya aku saja yang membelinya tadi Mas." Clara merasa tidak enak, kebiasaannya sebagai sekretaris yang terbiasa membantu Raffa masih dominan. Sehingga melihat Raffa membeli popcorn dan minuman, justru Clara merasa tidak enak.


Raffa menggeleng, "No. Kalau seperti ini, biar aku yang urus. Jika masalah pekerjaan sudah tentu kamu akan melakukannya. Hal-hal di luar pekerjaan biar aku yang mengurus. Dengan demikian status kita semakin jelas bukan. Kan kita masih harus memperjelas status kita. Di luar kantor, kamu kekasihku."


"Ya Mas, makasih ya." ucap Clara.


Setelah itu keduanya memasuki gedung bioskop. Mereka benar-benar menonton film yang sudah mereka pilih sebelum. Sembari ngemil popcorn dan minuman yang sudah beli sebelumnya.


Di sela-sela pemutaran film, Raffa meraih satu tangan Clara. Menggenggamnya erat.


Clara yang tahu kode dari pacarnya itu harus tersenyum, membiarkan tangannya dalam genggaman Raffa.


"Hem, kalau capek kamu bisa bersandar di bahuku Clara. Bahuku ini sangat kokoh untukmu bersandar." ucapnya sembari berbisik di dekat telinga Clara.


"Iya Mas, makasih ya."


Clara memperhatikan sekeliling, beberapa pasangan yang sedang menonton film pun ada yang menyandarkan kepalanya di bahu pasangannya. Maka dari itu, perlahan-lahan Clara menyandarkan kepalanya di bahu Raffa.


Raffa pun senang, karena Clara tidak canggung dengannya.


"Rambut kamu harum deh. Wangi..." ucapnya sembari menghirup aroma yang keluar dari rambut Clara. "Suka deh sama wanginya."


Clara mengulas senyuman, "Cuma pake shampoo dan hair mist aja Mas."


"Jangan ganti shampoo ya, aku suka deh sama wanginya. Harum banget."


"Hmm, iya..."


"Abis nonton kita makan ya?" ajak Raffa kepada Clara.


"Boleh."


Usai hampir 2 jam berada di dalam bioskop, menonton film sembari berpegangan tangan dan sesekali Clara menyandarkan kepalanya di bahu Raffa. Mereka kemudian memilih melanjutkan kencan mereka dengan makan bersama.


Keduanya memilih memakan sushi malam itu. Usai makan, keduanya memilih berjalan-jalan mengelilingi area Mall. Baru saja mereka berjalan, dari kejauhan rupanya Mama Ratna, Mamanya Raffa memanggil Raffa dari kejauhan.


"Raff... Raffa... kamu jalan-jalan ke mall juga."