
Raffa sedikit lega setelah menelpon Clara dan mendengar gadis itu tertawa, tentunya Raffa lah yang membuat lelucon-lelucon aneh yang membuat Clara justru tertawa geli.
Asa nya memang ingin menemani dan menenangkan Clara saat ini. Hasrat untuk memeluk, sayang sekali tangan tak sampai. Keduanya terpisah jarak yang begitu jauh antara Jakarta - Surabaya.
Akhirnya Raffa menyelesaikan pekerjaannya di Surabaya dengan meyakinkan bahwa Clara di sana baik-baik saja.
Lain Raffa, lain pula Clara. Gadis itu pun merasa sedikit lega. Godaan dan lelucon aneh dari Raffa bisa menerbitkan tawa di wajahnya. Tetapi Clara pun berpikir jangan sampai Raffa mendengar tentang gosip ini. Cukup dirinya saja.
***
Hari telah berganti. Clara menenangkan pikirannya bahwa semua akan baik-baik saja. Sekaligus semalam Raffa juga sudah memberitahunya bahwa pria itu akan berada lebih lama di Surabaya. Tentu saja Clara sekarang benar-benar memeluk rindu. Rindu kepada atasannya sekaligus pacarnya.
"Berapa lama lagi kamu berada di Surabaya, Mas. Aku sudah rindu. Rindu serindu-rindunya." gumamnya sembari jari jemarinya menggeser beberapa foto mereka berdua di handphonenya.
Akan tetapi, Clara sedikit berpikir kenapa sejak pagi hingga siang ini, Raffa sama sekali tidak menghubunginya.
Bahkan handphone Raffa tidak aktif. Clara mengernyitkan keningnya. "Apa dia benar-benar sibuk? Hingga tidak mengabariku sama sekali."
Namun, pikiran Clara seketika buyar mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Disertai parfum beraroma Woody dan Peppermint, jenis parfum yang sangat familiar di indera penciuman Clara. Gadis itu menoleh ke arah suara tapakan kaki. Betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba sosok Raffa berjalan ke arahnya.
"Pak Raffa, kok sudah datang?" tanya nya sembari matanya yang membola sempurna. Sungguh ia tak tahu bahwa pria yang baru saja dia pikirkan sudah berdiri di hadapannya saat ini.
"Surprise! Aku datang." ucapnya sembari tersenyum manis. "Ayo, masuk ke ruanganku sebentar. Ada yang mau ku bahas."
Pria itu terlebih dahulu masuk ke dalam ruangannya, tetapi ia justru berdiri di balik pintu. Sehingga saat Clara membuka pintunya, Raffa akan berada di balik pintu itu. Sungguh iseng kelakuannya kali ini.
Sekian menit berlalu, barulah Clara memasuki ruang kerja Raffa. Seperti biasa, gadis itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mulai membuka daun pintunya. Akan tetapi, saat ia telah melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu ruangan itu kosong. Tidak terlihat sosok Raffa di sana.
Ternyata benar, Raffa benar-benar bersembunyi di balik pintu. Ketika Clara seolah mencari keberadaannya, pria itu berjalan perlahan lalu mendekap Clara dari belakang.
"Astaga. Ngagetin aja sih Pak." ucap Clara ketika merasakan Raffa telah mendekapnya dari belakang.
"Kan kejutan, jadi biar kamu terkejut." ucapnya terkekeh geli sembari mencerukkan kepalanya di sisi leher Clara. "Aku kangen. Rindu..." ucap pria itu.
Clara hanya mengulas senyuman kedua tangannya turut berada di atas tangan Raffa. "Aku juga. Kangen sama Mas Raffa." ucapnya perlahan. "Kenapa tidak mengabariku kalau Mas Raffa pulang hari ini? Aku cemas seharian karena handphonenya non-aktif." Ucap Clara yang seolah-olah menggerutu kepada Raffa.
Pria itu tersenyum. "Kalau aku kasih tau terlebih dahulu, namanya bukan kejutan dong. Kan aku mau bikin kejutan buat kamu. Katanya kamu gak mau oleh-oleh apa pun. Ya sudah, ini aku oleh-olehmu. Gimana, seneng enggak?" tanya Raffa yang masih mendekap Clara.
Clara menganggukkan kepalanya. "Iya, seneng. Banget malahan. Makasih ya untuk kejutannya, aku benar-benar terkejut loh ini."
Sekian menit dekapan itu terasa, akhirnya Clara mengurai tangan Raffa yang melingkari perutnya. "Sudah Mas, jangan seperti ini. Kita sedang berada di kantor. Tidak enak jika tiba-tiba ada staf yang melihat." ucap Clara. Bagaimana pun mereka berada di kantor, tidak seharusnya melakukan hal yang tidak-tidak di kantor. Lagipula, janji keduanya untuk bersikap professional dengan membedakan antara ketika di kantor dan luar kantor harus benar-benar dilaksanakan.
Raffa pun menurut. Ia melepas dekapan tangannya dari perut Clara.
Clara kembali tersenyum, gadis itu dalam dilema. Harus berkata jujur pada Raffa atau menyembunyikan gosip dan pergunjingan yang ditujukan padanya kemarin.
"Hmm, baik Pak. Semua baik." ucap Clara, sekalipun saat itu lidahnya terasa kelu.
"Benarkah semuanya baik-baik saja?" lagi Raffa bertanya sekali lagi.
Clara hanya mampu mengangguk tanpa bisa menjawab.
"Clara dengarkan aku." Raffa menjeda sejenak ucapannya. "Aku ingin mengenalkan kamu secara resmi kepada Mama dan Papa. Jika kamu bisa, malam ini pun tak masalah."
Clara yang mendengar ucapan Raffa sontak merasa kaget. Mengapa pria itu tiba-tiba ingin mengenalkannya kepada Mama dan Papanya.
"Kenapa? Hmm. Kau tidak senang?" tanya Raffa kepada Clara.
"Bukan begitu Pak, tetapi bukankah ini semua terasa begitu mendadak?" tanya Clara setenang mungkin.
"Tidak. Lebih cepat lebih baik. Lagipula aku sebenarnya tahu apa yang kemarin terjadi. Aku tidak mungkin memecat staf itu tiba-tiba, yang ditakutkan justru reputasimu. Lagipula aku juga bukan seorang atasan yang arogan yang akan memecat stafnya jika staf itu tidak melakukan kesalahan yang berkaitan dengan perusahaan. Kamu tentu setuju dengan pemikiranku bukan?"
Clara mengangguki setuju. "Ya, jangan memecat staf sembarangan Pak. Bagaimana pula staf adalah aset bagi perusahaan. Tidak elok jika Pak Raffa memecatnya tiba-tiba. Saya setuju dengan pemikiran Pak Raffa."
"Maka dari itu, aku ingin mengenalkanmu secara resmi kepada Mama dan Papa. Aku ingin mereka mendengar hubungan kita dari mulutku sendiri. Bagaimana menurutmu?"
Clara nampak menimbang-nimbang apa yang disampaikan Raffa ada benarnya. Karena itu, ia pun menyetujui Raffa.
"Baik Pak. Saya mau." ucapnya sembari menatap manik kelam Raffa.
"Sekarang?"
"Saya dengan busana seperti pekerja ini tidak apa-apa?"
Raffa sejenak mengamati penampilan Clara yang mengenakan kemeja dan rok span pendek. Penampilan ciri khas seorang sekretaris.
"Atau kita pulang sekarang? Kamu bisa mandi dan berganti baju terlebih dahulu. Aku akan tunggu di mobil. Tapi jangan lama-lama. 10-15 menit saja gimana?"
Mata Clara membola seketika. "10 - 15 menit waktu yang sangat singkat bagi perempuan. Waktu setengah jam pun tidak cukup untuk berpenampilan rapi. Hmm, tetapi akan saya coba deh. Kalau lebih dari itu jangan ngambek ya Pak."
Raffa pun setuju. Pria itu segera bergegas membawa Clara untuk menemui kedua orang tuanya malam ini.
Lebih cepat lebih baik tanpa harus membuyarkan semua rencana yang tersusun rapi dalam otaknya. Pria itu segera mengendarai mobilnya dan mengantarkan Clara terlebih dahulu ke apartemennya.