When My Love Bloom

When My Love Bloom
Dinner Istimewa



Setibanya di hotel, Clara memilih untuk beristirahat. Mengembalikan tenaganya untuk menemani Raffa di acara gala dinner Afiliasi nanti malam.


Biasanya ketika acara makan malam pengusaha, para pengusaha pria akan datang dengan mengenakan Tuksedo dan membawa pasangan mereka. Akan tetapi, karena Raffa belum memiliki pasangan, maka ke mana pun Raffa mendapat undangan makan malam, ia pasti akan membawa Clara.


Dengan demikian menemani Raffa untuk makan malam bersama afiliasi para pengusaha bukan hal asing bagi Clara. Karena Clara sudah terbiasa mendampingi Raffa di acara-acara perusahaan.


Sore hari, Clara yang baru saja bangun tidur langsung bersiap untuk mandi, menghias diri dengan sentuhan make up, dan tak lupa menata rambutnya agar lebih rapi.


Clara mengeluarkan sebuah gaun off shoulder berwarna merah panjang, sebuah stiletto berwarna hitam, dan clutch berwarna merah yang sudah ia siapkan. Terlebih dulu, Clara merias wajahnya yang sudah cantik hanya dengan sentuhan sedikit bedak, maskara di matanya, dan blush on untuk melakukan shading pada wajahnya. Clara membiarkan rambut sepunggungnya tergerai begitu saja. Lalu, ia memantaskan penampilannya di cermin.


"Sudah cukup. Cantik." puji Clara pada dirinya sendiri saat melihat gambar dirinya di cermin.


Waktu telah menunjukkan jam 7 kurang, karena itu ia akan segera keluar dari kamarnya dan menunggu Raffa di lobby.


Clara mulai keluar dari kamar, saat ia membuka pintu sebuah punggung pria nampak di depan matanya.


Pria itu pun berbalik, saat terdengar pintu terbuka.


"Pak Raffa..." Clara menyapa, ia seolah tak percaya Raffa telah bersiap dan menungguinya di depan pintu kamarnya.


Raffa hanya mengerlingkan matanya dan tersenyum, matanya memindai penampilan Clara dari atas hingga ke bawah. "Cantik!" gumamnya dalam hati sembari menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.


"Sudah lama Pak?" lagi Clara bertanya kepada Raffa.


"Sudah 5 menit." jawab Raffa.


"Maaf, saya terlalu lama ya Pak."


"No problem. Untukmu saya bisa menunggu."


Clara tersenyum kikuk saat ini, apakah itu gombalan? Atau memang keseriusan Raffa?


"Kita turun sekarang Pak?"


"Clara tunggu dulu."


"Ya Pak."


Raffa memajukan langkahnya, mengikis jarak di antara keduanya. Satu tangannya yang berada di saku celananya, lalu ia keluarkan dari saku celananya itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga, sudah ia sembunyikan dalam genggaman tangannya.


"Tambahkan ini untuk mempercantik penampilanmu malam ini Clara." ucapnya sembari mengulurkan tangannya kepada Clara.


"Eh, Pak... Ini...." Clara justru tertegun dengan apa yang dilakukan Raffa sekarang ini.


"Boleh aku memakaikannya?" tanya Raffa memberanikan diri. Sementara Clara masih diam. "Jika kau hanya diam, maka aku menyimpulkan bahwa kau mengizinkannya."


Raffa lalu berjalan, ia berada di belakang Clara saat ini. Lalu, tangannya memakai sebuah kalung keluaran J. Estina itu kepada Clara. Sebuah kalung yang indah dan cantik, kini terpasang di leher Clara.


Usai memasangkan kalung ini, Raffa melangkah, ia kini berdiri sejenak di depan Clara. Kembali matanya memindai penampilan sekretarisnya itu.


"Okay, sudah. Ayo kita segera ke acara makan malamnya."


Clara yang pikirannya sedang tidak fokus hanya bisa berjalan dan mengikuti langkah kaki Raffa. Keduanya turun ke lobby, lalu menunggu sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka ke Marina Bay Sand, tempat makan malam akan dilangsungkan. Dengan menggunakan mobil, mereka hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di lokasi.


Begitu keluar dari mobil, Raffa mengangkat sedikit tangannya memberi kode kepada Clara untuk melingkarkan tangannya di lengannya.


Sementara yang tahu kode itu pun segera melingkarkan tangannya di lengan Raffa.


Mengapa perasaanku aneh, dulu kami sering seperti. Tetapi, setelah beberapa hari ini dia mengatakan perasaannya yang entah serius atau tidak mengapa hatiku berdetak tidak karuan ketika berdekatan dengannya seperti ini.


Clara bergumam dalam hatinya, sekaligus ia menenangkan hatinya yang berdetak melebihi ambang batasnya ketika berdekatan dengan Raffa.


"Clara..." Raffa berjalan sembari memanggil nama sekretarisnya.


"Apa kamu terlihat tidak percaya diri?"


"Eh, kenapa emangnya Pak?"


"Sejak tadi wajahmu selalu menunduk. Jangan selalu menunduk, tatap orang-orang di depanmu. Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Kamu cantik."


Puji Raffa spontan yang justru membuat wajah Clara merona-rona lantaran malu mendengar pujian dari Raffa.


"Pak Raffa, Anda tidak salah makan kan?"


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Bicara Anda manis banget Pak, saya kira Pak Raffa abis minum sakarin." ucap Clara sambil terkekeh melihat Raffa.


"Apa sakarin kau bilang? Memang tidak ada yang lebih bagus dari sakarin ya? Madu misalnya." jawab Raffa yang tidak terima dengan ucapan Clara.


Clara menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, "Karena sakarin itu 300 kali lebih manis daripada gula, Pak." ucapnya yang kini justru membuat Clara terkekeh.


"Jadi kau sedang merayuku ya Clara? Hmm."


"Tidak, hanya saja sepanjang hari Pak Raffa aneh, saya kira Pak Raffa kebanyakan minum sakarin."


Keduanya terus berjalan hingga memasuki Lavo Italian Restaurant & Rooftop Bar.


"Kita sapa beberapa tamu di sini dulu ya, apa kamu akan menemaniku?"


"Ya, saya akan menemani Pak Raffa."


Raffa tersenyum mendengar jawaban Clara. "Oke, baiklah. Tetapi, bila kamu merasa capek, kau boleh duduk."


"Ya Pak."


Keduanya berjalan menyapa rekan bisnis yang datang pada malam itu. Sekadar beramah tamah dan membangun relasi. Topik pembicaraannya tentu hanya formalitas bagaimana bisnis perhotelan mereka, harga saham yang sedang dibeli, dan lain sebagainya.


Puas bercengkerama dengan para rekan bisnis, akhirnya Raffa mengajak Clara untuk makan. Berbagai makanan khas Italia tersaji untuk para tamu undangan.


"Kita makan dulu ya, ini sudah malam."


Clara mengangguk dan mengikuti Raffa yang mengambil satu meja lalu memilih menu Bruschetta, Risotto, dan Arancini.


"Ada lagi yang ingin kau makan? Aku bisa mengambilkannya untukmu."


"Ini sudah cukup Pak, terima kasih Pak, tetapi saya mengambil sendiri pun tidak apa-apa Pak."


"No, hari ini biarkan aku saja yang mengambilkan apa pun yang kamu mau." ucapnya terdengar tidak menerima penolakan.


Clara memutar bola matanya, "Saya yakin sekali Pak Raffa salah makan hari ini."


Raffa hanya tersenyum melihat Clara, "Mungkin aku salah makan, tetapi hatiku gak pernah salah Clara. Sejak aku berkata serius padamu, itulah isi hatiku. Tetapi, jangan sungkan dan tak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu bersama bukan? Aku akan menunggumu."


Wajah Raffa nampak serius, sementara Clara yang duduk di hadapannya yang menunduk, sungguh Clara sangat malu pasti saat ini wajahnya sudah memerah.


"Mau minum, biar aku ambilkan?"


"Boleh Pak, orange jus saja Pak."


Raffa pun berjalan ke arah stand minuman lalu mengambil dua orange jus.


"Minumlah." ucapnya sembari menyerahkan satu gelas orange jus kepada Clara.