When My Love Bloom

When My Love Bloom
Memperjelas Status



"Oke baiklah, besok kalau kita prewedding kita akan mengusung konsep Fairy Tale. Kamu suka dongeng apa emangnya?" tanya Raffa kepada Clara.


"Pak Raffa emang paling bisa, jadian baru hitungan hari udah membahas konsep prewedding. Ampun deh Pak." Clara geleng-geleng kepala, hubungan keduanya masih sangat baru. Bagi Clara mereka masih harus mengenal satu sama lain. Mengenal selama lima tahun sebagai atasan dan sekretaris tentunya berbeda dengan mengenal sebagai pasangan.


Mengenal sebagai pasangan harus, kenal pasangan luar dalam, karena dengan pasangan seumur hidup akan kita habiskan bersama. Menua bersama. Tidak ada kata resign jika merasa tidak cocok dengan pasangan kita.


"Jangan geleng-geleng kepala. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Jadi Fairy Tale/dongeng kesukaanmu apa? Dongeng ala Disney atau Dongeng Nusantara?" masih Raffa mencari tahu dongeng yang disukai Clara. Ia memang berharap suatu hari nanti bisa mewujudkan apa yang Clara inginkan.


"Saya lebih suka dongeng dari Hans Christian Andersen, Pak. Semua dongengnya terasa hidup, juga dia tidak sembarangan menulis dongeng, karena tiap dongeng yang dia buat pasti untuk satu maksud. Dari mulai Itik Kecil Buruk Rupa, Putri Salju, Gadis Kecil penjual korek api, semuanya saya suka." ucap Clara dengan mata berbinar-binar.


"Kalau begitu konsep prewedding kita yang mana dong?" tanya Raffa sembari mengerutkan keningnya.


"Gak usah dibahas Pak, saya di sini mau kerja Pak. Malahan diajak Pak Raffa ngobrol terus sih. Pak Raffa enggak kerja?"


"Ini aku sedang bekerja." ucapnya enteng.


"Mana ada. Sejak tadi ngajakin ngobrol terus kok."


"Seperti ini juga bekerja, Clara."


Usai berbincang, Clara pun meninggalkan Raffa. Si sekretaris itu mengelilingi taman dan melihat beberapa sesi pemotretan. Sementara Raffa telah kembali ke kantornya.


Setelah Clara merasa bahwa semua sudah aman, kemudian dia kembali masuk ke ruangannya untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya.


Begitu sampai di ruangannya, Raffa seketika langsung memanggilnya. Dan Clara pun segera memasuki ruangan Raffa.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya sopan, retorika seorang sekretaris.


"Nanti siang ikut saya makan siang ya. Ada yang perlu kita bahas bersama tentang pekerjaan. Tolong reservasi sekarang, pilih tempat makan yang tidak terlalu ramai." perintahnya kepada Clara.


"Baik Pak, saya akan reservasi segera." jawab Clara sembari berlalu pergi.


***


Menjelang jam makan siang, Clara dan Raffa telah menuju salah satu tempat makan yang sudah mereka reservasi sebelumnya.


Seperti biasanya, steak menjadi menu yang dipesan oleh keduanya.


"Jadi bagaimana agenda untuk pekerjaanku satu bulan ke depan Clara?" tanya Raffa sembari menikmati makanannya.


"Sudah saya susun di kalender digital, Pak. Usai ini sudah selesai akan saya berikan kepada Bapak."


"Oke baiklah, untuk agenda yang akan berlangsung di Paradise Hotel juga tolong laporkan padaku ya."


"Baik Pak..."


Lantaran keduanya makan siang di restoran steak cukup terkenal, kali ini chef yang memiliki restoran tersebut menyambut Raffa dan Clara sekadar untuk menyapa.


"Bagaimana Pak Raffa apakah Anda sudah puas dengan hidangan Anda kali ini? tanya Chef itu dengan ramah.


" Ya, terima kasih Chef. Steak ini enak seperti biasanya. Rasa dan teksture-nya pas. Terima kasih." sahut Raffa.


Sementara Clara juga turut menganggukkan kepalanya sembari sedikit tersenyum.


"Silakan dinikmati. Semoga Anda dan sekretaris Anda menyukainya." ucap Chef itu lalu berlalu pergi.


"Ada apa Pak Raffa?" tanya Clara begitu melihat reaksi berbeda dari atasannya itu.


"Benarkah orang lain akan melihat kita sebagai atasan dan sekretarisnya?" tanya Raffa.


Clara tersenyum pias, "Bukankah saya memang sekretaris Anda, Pak. Tidak ada yang salah dengan penilaian mereka." jawab Clara memastikan.


"Tetapi aku juga ingin, kita terlihat layaknya seorang pasangan Clara."


Clara memahami apa yang dimaksud Raffa, bagaimana pun Raffa begitu melekat dengan pembawaannya sebagai Direktur, sementara Clara begitu melekat dengan image-nya sebagai seorang sekretaris. Image yang sama-sama kuat, sehingga orang yang melihat keduanya pun akan menyangka bahwa keduanya hanya memiliki hubungan professional antara atasan dan sekretaris.


"Sabar Mas, mungkin karena kerja sama kita yang sudah lama sehingga image atasan dan sekretaris sudah sama-sama melekat pada diri kita." ucap Clara berusaha menenangkan Raffa.


"Hmm. Iya. Aku rasa kita masih harus memperjelas status kita Clara. Tidak hanya sebagai atasan dan sekretarisnya. Tetapi juga sebagai sepasang kekasih yang saling menyayangi. Aku juga ingin orang lain melihatmu sebagai kekasihku, tidak hanya sebagai sekretarisku saja."


Clara menaruh pisau dan garpunya, kini satu tangannya meraih tangan Raffa yang berada di atas meja. "Tidak apa-apa, kita akan memperjelas status kita sebagai pasangan perlahan-lahan. Yang pasti antara kita saling mengetahui perasaan satu sama lain. Bukankah waktu kita berdua sangatlah banyak bukan?


Raffa pun tersenyum, hatinya merasa sedikit lega mendengar ucapan Clara. " Ya, kita bisa melakukan perlahan-lahan. Memang tidak mudah mengubah image kita berdua. Hanya saja, aku pun ingin dunia tahu bahwa kau satu milikku."


"Iya, Mas. Sekarang jangan cemberut, jangan terlalu dipikirkan. Kita yang menjalani, kita yang akan membuktikannya kepada mereka bahwa kita saling menyayangi." ucap Clara masih mencoba memegang satu tangan Raffa yang masih berada di atas meja.


"Makasih ya sudah menenangkanku. Maaf, mungkin aku kekanak-kanakkan atau melebihkan segala sesuatu, tetapi aku pun ingin mereka tahu bahwa kau adalah milikku."


"Iya Mas, aku tahu. Untuk sekarang kita jalani saja ya. Kita memperjelas status kita, sekaligus memperdalam ikatan kita dalam hubungan ini."


Raffa menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan perkataan Clara. "Iya... terima kasih sudah menenangkanku. Dan, ya... Kita masih perlu banyak waktu untuk perlahan-lahan mengubah image yang begitu melekat pada diri kita berdua sebagai sekretaris dan atasannya."


"Iya Mas, apa pun yang akan terjadi di depan kita jalani dan hadapi bersama-sama ya..."


"Iya, tentu. Pasti kita akan menghadapinya bersama-sama." jawab Raffa.


Clara mengutas senyuman di sudut bibirnya. "Terima kasih, Mas..."


"Untuk apa?" sahutnya cepat.


"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena bersungguh-sungguh dalam membina hubungan ini. Terima kasih." ucap Clara merasa terharu.


"Jangan terlalu banyak berterima kasih. Sudah seharusnya dan selayaknya aku melakukan semua itu. Toh aku melakukannya bukan untuk orang lain, aku melakukannya untukmu, gadis yang aku cintai."


Blush.


Wajah Clara seketika merona merah mendengar ucapan Raffa.


"Bagaimana pun aku tetap berterima kasih, Mas."


"Jangan terus-menerus berterima kasih, karena kau tahu apa perbedaan tugas laut dan tugasku?"


"Tugas apa Mas? Sayangnya aku tidak tahu apa perbedaan keduanya itu." sahutnya sembari terkekeh.


Raffa menatap lekat-lekat wajah Clara, "Dengarkan aku. Jika tugas laut adalah membuat ombak, maka tugasku adalah memikirkan dan mencintaimu."🥰


Happy Reading🥰💓