
Melissa menatap A dan B bergantian di hadapannya, jadi diantara kalian berdua tentu saja mudah menentukan siapa tersangkanya, "Mrs.A kamu adalah tersangka mutlak dalam kasus ini". Mrs.B tersenyum senang Ia tampak sangat puas, Melissa mengamati ekspresi wajahnya.
"Kurasa kamu tidak pantas disebut Jaksa, Kamu hanya percaya apa yang kamu lihat saja kan" kata Mrs.A marah
"70% saksi beserta beberapa dokumentasi foto memar jelas memberatkanmu" kata Melissa tegas
"Aku berani bersumpah Aku tidak mencekik dan menamparnya, kuakui tanganku memang sempat menyentuh lehernya tapi tidak sampai mencekik" kata A bersikeras
"Kau ingin menghadirkan saksi mungkin?" tawar Melissa
"Aku tidak punya saksi, anakku menunggu di parkiran dan orang-orang hanya sibuk menonton saat terjadi pertengkaran" jelas A
"Panggil beberapa penonton yang netral, yang berada di tempat kejadian" kata Melissa santai
"Jelas Aku lupa dan tidak mengenal mereka, semua penjual juga merupakan teman B" jelas Mrs.A kesal
"Kalau begitu kau harus dipidana dengan hukuman penjara paling singkat 3 bulan" kata Melissa menatap Mrs.A yang masih sangat kesal
Mrs.A dan Mrs.B keluar ruangan, Melissa tampak tenang karena merasa telah menyelesaikan kasusnya. Ini sangat mudah, pikirnya.
"Entah mengapa, Ia ingin sekali lagi memeriksa dokumentasi yang ada, gara-gara penjelasan Mrs.A Melissa jadi berpikir ulang.
Investigator Keily masuk ke ruangannya Ia mengambil barang diatas lemari dengan tangan kirinya, Melissa memperhatikan. Ia baru tahu bahwa Investigator Keily seorang kidal.
Melissa menatap pada satu foto yang agak janggal, bekas tamparan berada di sebelah kanan, sedangkan Mrs.A tidak kidal artinya tamparan sekeras ini harusnya berada di bagian pipi kiri Mrs.B jika memang Mrs.A yang menamparnya.
"Ya Ampun" Melissa mememekik agak keras
"Ada apa?" kata Investigator Keily menoleh karena kaget
"Aku hampir memenjarakan seseorang dengan kesalahanku" kata Melissa tampak kesal
"Maksudnya? bukankah semua bukti dan saksi sudah jelas?" kata Keily tidak mengerti
"Beberapa hal-hal kecil yang tidak diperhatikan dan tidak orang lain ketahui kadang dapat menjadi bukti mutlak" kata Melissa menjelaskan
"Aku masih tidak mengerti" kata Investigator Keily heran
Dengan susah payah Melissa menjelaskan secara rinci analisisnya pada Investigator Keily
"Benarkah? Kalau begitu menurutmu apakah saksi akan percaya?" kata Investigator Keily
"Iya, tentu saja mungkin tangan Mrs.A sempat berada pada pipi atau lehernya Mrs.B tapi Mrs.A tidak sampai mencekik dan menampar keras Mrs.B, itu tadi disampaikan Mrs.A langsung padaku bahkan Ia berani bersumpah, ditambah bukti bahwa Ia tidak kidal seharusnya tamparan berada pada pipi kiri Mrs.B bukan pipi kanannya" jelas Melissa
"Baiklah, besok akan dimulai sidang. Kamu harus menjelaskan dengan sebaik-baiknya" kata Keily yang tampak mempercayai Melissa
"Aku sedikit gugup" jelas Melissa
"Kau akan makin bersemangat saat tepuk tangan memenuhi podium seusai sidang" kata Investigator Keily menjelaskan
***
Sidang berlangsung, Melissa berhasil menyampaikan analisanya dengan baik, Mrs.B tampak tidak terima dengan penjelasan Melissa, "Jelas-jelas Ia memang menamparku, tanyakan saja pada para saksi" jelas Mrs.B penuh percaya diri
"Adakah dari para saksi yang mampu menjelaskan Mrs.A menampar dengan tangan kanan?" tanya Melissa keras
Tidak ada saksi yang berani menjelaskan karena memang letak tamparan memar berada pada pipi kanan Mrs.B. Seharusnya tamparan berada di pipi kiri Mrs.B kalau memang Mrs.A menamparnya. Hal ini membuat Mrs.B tampak sangat marah karena tidak berhasil memasukkan Mrs.A kedalam penjara. Tatapan kebencian jelas Ia tujukan untuk Mrs.A dan Melissa
"Mrs.A mungkin memang menamparmu di sebelah pipi kiri namun tidak keras dan sampai memar, hal itu kau manfaatkan dengan menyertakan saksi yang tidak memperhatikan posisi tamparan dan Kau tampar pipi kananmu dengan sangat keras hingga memar, Kau ingin agar Mrs.A di tindak pidana. Tangannya yang tidak sengaja menekan lehermu ketika berkelahi, Kau katakan mencekik hingga sulit bernafas padahal saat itu Kau menggunakan Syal kan?" Melissa menjelaskan secara tegas
Mrs.B diam. Kali ini sulit baginya menjelaskan, sidang selesai dan Mrs.A dibebaskan tanpa syarat.
"Maaf menuduhmu sebagai Jaksa yang tidak kompeten" kata Mrs.A pada Melissa
"Kau bisa menuntut balik jika mau, kenapa tidak kau lakukan?" tanya Melissa
"Jika mata dibalas mata maka dunia akan gelap" kata Mrs.A menjelaskan
"Benar sekali, sangat sedikit seseorang sepertimu di dunia ini" kata Melissa tersenyum
"Semoga kau makin sukses dengan karirmu kedepannya" kata Mrs.A tulus
"Aamiin, doa yang sama untukmu" kata Melissa melambaikan tangannya pada Mrs.A, Mereka berpisah di parkiran.
Melissa berjalan cepat sambil bersiap menuju ke mobil Investigator Keily yang sedang menunggunya.
"Bagaimana? Apa kau puas?" tanya Investigator Keily
"Sangat puas" kata Melissa senang
"Bukankah suara tepuk tangan kemenangan adalah kebanggan para Jaksa dan Pengacara" kata Investigator Keily senang
"Kasus tidak akan berjalan mulus kalau kamu tidak menemaniku dalam menyelidiki kasus ini, Terimakasih banyak Investigator Keily" kata Melissa senang
"Kuharap Aku bertemu lagi denganmu sebagai Jaksa sesungguhnya di Kirkland and Ellis" kata Investigator Keily sambil fokus menyetir
"Tentu saja, Akupun berharap bersama dengan Investigator Keily menyelidiki berbagai kasus" kata Melissa senang
Mereka segera menuju ruang kantor. Mr.Arhur berada di dalam ruangan
"Congratulations Melissa" sebuah letusan balon sedikit mengagetkan Melissa untuk pertama kalinya Ia lihat Mr.Arthur tertawa
"Terima kasih Mr. Arthur, kesempatan ini membuatku makin bersemangat" kata Melissa senang
"Investigator Keily. Malam ini kita adakan pesta makan malam bertiga sebagai bentuk kegembiraan atas selesainya kasus unpredictable" kata Mr. Arthur senang
"Ok, Aku akan menyiapkan lokasi makan malam ini Sir" kata Investigator Keily
Mr. Arthur yang punya rahang tagas dan tampak berkarisma mengajak Melissa menceritakan segalanya tentang kasus yang terjadi dan cara penyelesaiannya. Melissa dengan semangat menjelaskan dan itu membuat Mr.Arthur jadi senang, fakta bahwa Mahasiswa bimbingannya ternyata sangat kompeten akan meningkatkan prestisenya sebagai Jaksa senior.
Melissa keluar makan siang bersama Almero, kebetulan Kantor mereka dekat jadi Almero sering menemaninya makan. Ia bercerita tentang kasusnya dengan semangat pada Almero.
"Stop. Aku berada di ruang sidang tadi dan menyaksikan penjelasan dan analisismu dengan jelas" kata Almero senang
"Kedepannya, Aku yakin karirmu bahkan mungkin lebih baik dari karirku" kata Almero tampak murung.
"Itu jelas salah, seorang yang kompeten sepertimu pastinya juga akan sukses, kau hanya belum berkesempatan diberikan kasus" kata Melissa senang
"Setidaknya dari kasus ini, karirmu akan makin cemerlang kedepannya" kata Almero tersenyum
"Kuharap juga begitu" kata Melissa senang
"Makananmu Aku yang teraktir ya" kata Melissa tersenyum pada Almero
"Kau tampak sombong" kata Almero kesal
"Hahaha... Kalau begitu Aku tidak jadi mentraktir" kata Melissa kesal
"Eh jangan.. Aku hanya bercanda" kata Almero tertawa.
Bersambung
Jangan lupa like dan komentarnya ya Readers Agar Author makin bersemangat menulis ceritanya... 💕