We Will Never Be Apart

We Will Never Be Apart
Chapter XVII Waktu Berdua



Hendry dan Melissa sedang menyantap makanan mereka sambil melihat pemandangan di luar jendela restoran Manhattan yang begitu indah, pemandangan seluruh kota New York dapat terlihat dengan Indah dari tempat mereka makan saat ini. Hendry sedang menghabiskan potongan Steak terakhirnya ketika Melissa membuka suara.


"Sayang, tadi aku sudah cerita sedikit tentangku, nah sekarang gantian dong" kata Melissa sambil tersenyum menatap Hendry


"Tidak banyak yang bisa kuceritakan, mungkin juga tidak menarik" kata Hendry tergelak


"Tetap harus cerita, kan tidak adil kalau hanya aku yang cerita" kata Melissa dengan nada kesal


"Ok sayang, jangan marah dong" kata Hendry mencubit lembut pipi Melissa


"Kamu sih.. " kata Melissa pura-pura marah


"Aku anak Sulung di keluarga Wilson, Ayah berkebangsaan Amerika dan Ibu berkebangsaan Indonesia, Aku punya satu adik perempuan yang masih SMP, tapi mereka tinggal di Indonesia karena Ayah bekerja disana dan tinggal Aku sendiri di Villa sekarang ini" kata Hendry


"Nina sepupu dari ibu atau ayah?" Melissa menanggapi dengan penasaran


"Ibu Nina dan Ibuku bersaudara tapi Nina sekeluarga tinggal di New York, mereka begitu baik dan perhatian, Nina dan Garry hampir sering ke Villaku.. Om dan tante kadang berkunjung sebulan sekali" kata Hendry sambil mengelap keringat di dahinya.


"Ok, terus apa Hobbymu dan Hal-hal yang sangat kamu benci sayang?" tanya Melissa penasaran


"Aku suka memancing, olahraga dan berkebun dan hal yang kubenci jika dihianati dan dibohongi" kata Hendry singkat


Melissa tersenyum, dalam hatinya ada rasa sedikit bersalah karena tidak menceritakan tentang Juno pada Hendry. Siapa yang mau menceritakan tentang cinta pertama pada saat kencan pertama dengan kekasih yang sekarang? bisa-bisa merusak suasana hati dan suasana romantis mereka, batin Melissa.


Selesai makan Hendry dan melissa menghabiskan waktu mereka untuk nonton bioskop, mereka menonton film Annabelle 3, sepanjang film diputar Melissa lebih sering bersembunyi di balik popcornnya dibanding menatap ke layar bioskop, padahal Melissa lah yang mengusulkan untuk nonton film itu.


Hendry tidak terlalu menyukai film horor tapi dia tetap menikmati alur ceritanya dengan baik, dan untuk meredakan ketakutan Melissa, Ia menarik Melissa ke pelukannya, di perlakukan seperti itu jantung Melissa berdebar-debar dan Ia membenamkan wajah meronanya di dada Hendry.


Setelah nonton bioskop, Hendry mengajak Melissa ke pusat perbelanjaan Fifth Avenue. Hendry ingin membeli beberapa pakaian, celana, sepatu dan jam tangan. Ia ingin Melissa juga membeli barang yang diperlukannya.


"Sayang, ayo belanja.. Pilih saja yang Kamu mau" kata Hendry menarik tangan Melissa ke toko pakaian wanita bermerk


"Tidak usah sayang, masih punya kok uang kiriman dari ayah" kata Melissa menolak traktiran Hendry


"Anggaplah ini hadiah dariku" kata Hendry sambil memilihkan gaun merk Dior tipe Haute Couture  berwarna biru dongkel yang tampaknya sangat cocok jika di pakai Melissa yang berkulit putih, pikir Hendry.


"Yakin mau yang itu?" kata Hendry dengan nada sedikit kecewa karena Melissa seolah menolak hadiah yang ingin diberikannya


"Ini lebih simpel, Aku suka" kata Melissa santai


Melissa tidak mau menggerogoti Hendry, baginya hubungan mereka terbilang baru, dan lagi pula Dia bukan tipe perempuan yang memanfaatkan lelakinya untuk mendapatkan kesenangan dan kemewahan.


"Bungkus yang ini juga" kata Hendry menunjuk gaun yang dipilihnya tadi dan membisikkan pada penjaga toko pakaian selagi Melissa sedang memeriksa Handphonnya.


Hendry memasukkan gaun yang tadi di pilihnya dalam satu tas belanja Melissa, namun saat barang sudah di bayar Melissa baru menyadari bahwa tas belanjanya agak berat dan setelah Ia periksa betapa terkejutnya Melissa karena gaun yang tadi ditolaknya tetap dibeli oleh Hendry


"Sayang, Mengapa kamu masih membelikanku gaun Ini?" kata Melissa setelah mereka keluar dari toko sambil menunjuk gaun merk Dior


"Memangnya Mengapa? Aku mau lihat Kamu pakai gaun itu saat nanti kita pergi ke pesta" kata Hendry tersenyum


"Aku punya gaun lain yang serupa kok, Kamu pikir Aku tidak mampu beli sendiri?" kata Melissa menautkan kedua alisnya


"Iya sayang, tentu Kamu punya tapi ini berbeda sebab ini dariku" kata Hendry tersenyum menatap wajah Melissa yang tampak kesal


"Terserah lah" Melissa berjalan mendahului Hendry karena merasa kesal


"Jangan marah ya" kata Hendry sambil menggenggam tangan Melissa menuju parkir mobil


"Tidak marah kok, cuma kesal sama Kamu yang keras kepala" kata Melissa dengan bibir maju 1cm


"Keras kepala tapi Kamu cinta kan?" kata Hendry dengan senyum menggoda


"Kalau itu.. tentu saja" kata Melissa menundukkan wajahnya karena malu


Selesai Belanja tidak terasa hari sudah malam mereka keluar dari pusat perbelanjaan, Hendry meluncurkan mobil Chevroletnya menuju salah satu Restoran terkenal di New York.


Jangan lupa Like dan Komentarnya ya Readers agar Author lebih semangat untuk nulis lanjutan ceritanya.. 💕