
Erick melamun dan sarapan dihadapannya tidak tersentuh sama sekali, Ia sangat sedih setelah membaca surat dari Jessyca malam itu. Surat Jessyca tidak terlalu panjang juga tidak bisa disebut singkat.
"Erick, Aku menyesal mengatakan ini. Tapi hubungan kita memang harusnya telah berakhir, mengapa? Bukankah seharusnya kita kembali seperti dulu? Pasti itu yang ada dalam pikiranmu. Beberapa hari yang lalu orang suruhan ayah berhasil mengungkap trik kotormu dengan temanmu untuk mencelakaiku, jujur Aku malu dan kecewa di hadapan ayahku, dan maaf.. Aku rasa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Apapun alasanmu, kuharap Kamu mengerti. Aku tidak bisa menerima kekecewaan lagi. Semoga kita bisa bahagia di jalan masing-masing"
-Jessyca L. Wayne
Erick masih mengingat jelas isi surat Jessyca, bahkan minum wine dan brendy tidak bisa membuatnya melupakan isi surat Jessyca. Dalam lamunannya, Erick menyesali tindakannya yang gegabah untuk menemui Charles beberapa hari yang lalu. Namun pertemuan itu menyangkut persidangan Charles jadi mereka memang harus bertemu.
"Oh, *****.. Mengapa Aku tidak beruntung seperti orang lain" Erick memaki dirinya
Erick beranjak dari tempat duduknya dan mengambil Handphonya, Ia kembali mencoba menghubungi nomor Jessyca namun selalu gagal.
"Nomor yang anda tuju tidak terdaftar, mohon periksa kembali nomor tujuan anda" operator mengulangi kata-katanya
Erick hanya bisa mengambil napas berat dan menghembuskannya perlahan
Erick kemudian mengemudikan mobilnya, kali ini Ia berencana membuntuti Jessyca bagaimanapun caranya, Ia harus bisa bicara berdua dengan Jessyca kali ini. pikirnya
***
Jessyca agak tergesa-gesa pagi ini, semalam setelah makan malam dengan Juno entah mengapa Ia tidak bisa tidur nyenyak, akhirnya pagi ini Ia bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan pagi, hanya sempat minum susu. Ia langsung mengemudikan mobilnya menuju kantor.
Pukul 09.30 Jessyca tiba diparkiran dan berjalan cepat menuju lift.
"Jessyca" sebuah suara mengagetkannya ketika Ia hendak keluar dari pintu lift
Jessyca menoleh, dilihatnya Erick bergegas kearahnya, saat ini bodygard Jessyca berada di parkiran, Jessyca menolak untuk diawasi saat berada di dalam kantornya, Ia tidak menyangka Erick sudah menunggunya dan berhasil masuk, dengan mudahnya? bukankah Ayahnya melarang untuk mengizinkan orang yang bernama Erick masuk ke kantor? pikir Jessyca.
"Jessyca, kumohon ikut Aku sebentar" kata Erick dengan raut wajah putus asa
"Bukankah Aku sudah menuliskan jelas di surat" kata Jessyca menatap tajam mata Erick, ada kilatan kebencian di matanya
"Aku belum menerima atau membaca apapun Jessyca" kata Erick berpura-pura tidak tahu tentang surat yang sebenarnya sudah Ia baca
"Kamu pembohong Erick, Aku sangat membencimu" kata Jessyca berusaha menjauh dari Erick
"Kumohon Jessy, Aku membutuhkan penjelasan" kata Erick memelas
"Tidak Erick, Kamu pembohong..! Tidak ada yang perlu dijelaskan, Aku tidak peduli apakah suratku Kamu baca atau ridak" teriak Jessyca, beberapa rekan kerja menoleh pada mereka, Jessyca pergi meninggalkan Erick tanpa menoleh
Erick diam tertegun merasa tidak enak karena diperhatikan oleh orang-orang di sekitar mereka, Ia bahkan harus berpura-pura menjadi pengantar barang untuk bisa masuk ke dalam perusahaan. Merasa di abaikan Jessyca, Erick tetap menunggunya di restoran pizza dekat dengan perusahaan.
Jessyca masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu, para manager terkejut dan menoleh, seseorang bahkan terlihat mengangkat bahu, pertanda bahwa Ia tidak tahu mengapa Direktur mereka bersikap demikian.
"Erickkkk... Oh harus bagaimana Aku menghadapimu?" Jessyca membanting tubuhnya ke atas sofa putih yang empuk di hadapannya.
Jessyca menengadah ke langit-langit, bayang wajah Erick muncul di pikirannya. Ia berpikir bagaimana bisa Erick masuk ke dalam perusahaannya, Aku harus segera menjauhinya, mungkin pertunangan dengan Juno ada baiknya segera di laksanakan, pikir Jessyca sembari menggigit kuku jempol tangannya.
"Drrtt..Drrt.. "Jessyca mengangkat Handphonya sembari menanda tangani lembaran-lembaran proposal kegiatan di hadapannya
"Hallo, Ada apa ya?" kata Jessyca agak acuh karena mood yang sedang tidak baik
"Apa Aku mengganggu?" tanya Juno sedikit mengerutkan alis matanya
"Maaf, tidak kok.. Aku hanya baru bertemu Erick jadi moodku agak kacau" kata Jessyca menjelaskan
"Maaf, tapi ada baiknya Kamu tidak bertemu lagi dengannya Jess" kata Juno dengan nada serius dan tampak memerintah tanpa Ia sadari
"Iya sih, tapi kok responmu jadi tegang begini? ha..haa" kata Jessyca tergelak
"Yah, bukan begitu juga.. Aku hanya memberi saran" kata Juno agak salah tingkah, Juno juga heran dengan responnya yang spontan itu, orang lain yang mendengarnya pasti akan mengatainya sedang cemburu
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya karena Dia nekat menemuiku di perusahaan" kata Jessyca berbicara dengan nada santai karena moodnya mulai membaik karena mendengar respon Juno barusan
"Aku akan kesana Jess" kata Juno mengatakannya dengan lugas dan penuh semangat
"Tidak perlu sampai begitu Jun, lagipula Erick sudah pergi" kata Jessyca menjawab dengan tersenyum, Ia merasa agak aneh dengan sikap Juno sejak makan malam kemarin
"Maksudku Aku akan kesana karena Aku butuh mendiskusikan beberapa masalah terkait kerja sama proyek perusahaan yang kita lakukan saat ini" kata Juno dengan nada santai, padahal sebenarnya tidak begitu mendesak dan bisa didiskusikan lain waktu, belakangan ini Juno selalu ingin melihat Jessyca.
"Baiklah jika memang harus, Apa kita akan bertemu di kantor?" tanya Jessyca
"Iya, Aku akan kesana dan akan tiba dalam tiga puluh menit" kata Juno sambil melihat ke arah jam tangannya
"Ok, Bye.. Sampai jumpa" kata Jessyca mengakhiri teleponnya
"Bye" kata Juno
Juno segera meninggalkan perusahaannya, membawa beberapa berkas yang menurutnya penting untuk dibawa, dalam perjalanan Juno merasa tidak sabar untuk menemui Jessyca, Ia menambah kecepatannya, berpikir untuk membawakan sebuket bunga Lili untuk Jessyca namun Ia mengurungkan niatnya, entah bagaimana respon Jessyca jika Ia melakukannya, bahkan Jessyca tidak mencintanya, pikir Juno.
Jessyca segera menyelesaikan tugas yang Ia kerjakan, merapikan baju, rambut dan riasan wajahnya, Ia bercermin dan tersenyum senang.
Jam menunjukkan pukul 12.30, seseorang sekretaris memberitahukan bahwa seseorang bernama Juno minta bertemu. Jessyca beranjak dan bersiap untuk menemui Juno. Dilihatnya Juno sudah tersenyum ke arahnya di ruang tunggu.
"Kamu sudah membawa berkas yang perlu di tandatangani kan?" tanya Jessyca yang kini berada di dalam mobil Ferrari
"Tentu, Kita tidak akan membahasnya di dalam mobil kan?" kata Juno tergelak sambil menoleh ke arah Jassyca
"Kamu akan mengajakku kemana Jun?" tanya Jessyca penasaran
"Aku tahu tempat yang membuatmu senang" kata Juno tersenyum
"Sok misterius" kata Jessyca dengan tatapan kesal
Juno segera melajukan mobilnya menuju tempat yang Ia pikir Jessyca akan senang jika berada disana.
Jangan lupa like dan komentarnya ya readers agar Author semangat untuk melanjutkan tulisannya..💕