
Juno dan Jessyca tiba di bioskop Cinemark Theatres, Juno turun dan mengajak Jessyca membeli tiket, popcorn dan cola untuk menemani mereka menonton film the favourite yang baru di rilis dan bergenre comedy. sebelum tertarik menonton, Juno membaca sinopsisnya lebih dulu
The favourite adalah sebuah film yang terkait dengan intrik politik sebuah kerajaan dibalut dengan gaya komedi yang jenaka, Film The Favourite berkisah tentang bagaimana memainkan trik, antara Sarah, seorang bangsawan yang menggunakan status sosialnya untuk memengaruhi Queen Anne.
Queen Anne pun tidak tinggal diam, ia berbuat “jahil” dengan lebih cerdik. Ia menempatkan Abigail Masham untuk menaklukkan ambisi Sarah.
Setelah membeli tiket, popcorn dan cola, Juno dan Jessyca memilih kursi mereka, ruangan begitu ramai penonton sehingga mereka kebagian bangku belakang.
Hampir sepanjang film di putar Juno dan Jessica tak berhenti tertawa, film yang mereka tonton sukses menghibur mereka hingga lupa tentang rasa sakit yang mereka rasakan.
Setelah menonton film, suasana hati Juno dan Jessica membaik, mereka melanjutkan makan malam bersama di restoran club a steakhouse.
Selagi menunggu pesanan disiapkan, Juno dan Jessyca berbincang santai.
"Jes, aku mau tanya sama kamu?" kata Juno
"mau tanya apa?" kata Jessyca
"kira-kira kapan proyek kerja sama perusahaan kita selesai?" tanya Juno sedikit menyeringai
"Entahlah, aku juga kurang tahu kapan akan berakhir.." kata Jessyca mengangkat kedua bahunya
"nanti kalau proyeknya sudah selesai, kita bisa tetap jadi teman kan?" kata Juno tersenyum
"aku tidak mau punya teman sepertimu" kata Jessyca tergelak
"ya sudah, kita pura-pura tidak saling kenal saja" kata Juno datar
"hari ini, aku sedikit terhibur.. untung ada kamu" kata Juno sambil menatap Jessyca
"tidak masalah, kemarin waktu aku lagi down dari Erick kamu juga menghiburku" kata Jessyca tersenyum
Juno memperhatikan wajah Jessyca yang selintas mirip dengan aktris Dakota Johnson, rambut yang ikal di urai membuatnya jadi semakin mirip.
"ada sesuatu di wajahku?" tanya Jessyca
"ada, ada tahi lalat" kata Juno menjawab cepat sambil menahan rasa malunya dengan tawanya
"Oh" jawab Jessyca sambil tersenyum
"Jes, thanks ya untuk hari ini" kata Juno
"sama-sama, kan kemarin kamu juga membantuku" kata Jessyca mengedipkan sebelah matanya
pesanan mereka akhirnya tiba di meja makan, steak tartare dan baked potato masing-masing dua porsi, minuman capuchino dan Americano sudah ada di hadapan Juno dan Jessica.
Mereka makan tanpa bersuara, Juno penasaran mengapa Ia bisa menatap wajah Jessyca lekat? Ia menepis pikiran bahwa Ia mulai tertarik dengan Jessyca. Jessyca juga sedang berpikir mengapa Juno menatapnya begitu lekat? apa ada yang salah dengannya malam ini? atau jangan-jangan Juno mulai tertarik padanya? benarkah hanya gara-gara tahi lalat? namun Jessyca tak mau berharap, Ia belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain, pikirnya.
Makan malam selesai dan Juno mengantar Jessyca kembali ke apartemennya, pemandangan kota New York yang begitu indah menemani perjalanan mereka, selama di perjalanan Juno banyak bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang terjadi di perkuliahannya, Juno bukan tipe lelaki yang mudah menceritakan hal-hal di hidupnya pada perempuan, namun Ia merasa nyaman menceritakan kisah lucunya pada Jessyca, Jessyca memberikan respon positif pada cerita Juno. Kadang Jessyca juga ikut tertawa.
Jangan lupa Like dan komentarnya ya Readers agar Author lebih bersemangat untuk menulis lanjutan ceritanya.. 💕