We Will Never Be Apart

We Will Never Be Apart
Chapter XXXV Senyuman Manis



Juno akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen Jessyca, pukul 19.00 Ia tiba di apartemen gadis itu, Juno belum memberitahu Jessyca bahwa Ia akan datang, kedatangannya bisa dikatakan mendadak.


Ting.. tong.. bel apartemen berbunyi, Jessyca yang baru selesai mandi segera menuju pintu apartemen, dilihatnya Juno sedang menunggu di depan apartemennya. Dengan hanya menggunakan piyama handuk selutut dan rambut berbalut handuk, Jessyca membukakan pintu untuk Juno.


"Hai.. " kata Juno sambil tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih


"Hai.. Kok kamu tidak bilang kalau mau datang?" tanya Jessyca sambil mempersilahkan masuk


"Ini mendesak Jes, Aku kabur dari rumah dan butuh bantuanmu" kata Juno sambil melirik Jessyca yang hanya menggunakan piyama handuk


"Nanti kita bicara lagi, aku ganti baju dulu" kata Jessyca sambil menuju ke kamarnya


"Ok" kata Juno singkat


Jessyca mengenakan gaun tidurnya dan segera kembali menemui Juno di ruang tamu, dengan rambut yang masih sedikit lembab, Ia terlihat sexy.


"Jadi bagaimana ceritanya?" kata Jessyca santai setelah duduk di sisi lain sofa


"Aku kabur dengan hanya membawa uang tunai beberapa dolar Jes, semua kartu kredit dan kartu ATM di blokir Ayah, Kamu kan tahu betapa kerasnya Ayahku, Aku bosan mengikuti aturannya dan memilih kabur dari rumah" kata Juno panjang lebar sambil menatap dalam mata Jessyca


"Mau pinjam uangku dulu?" kata Jessyca menawarkan


"Kalau tidak keberatan sih" kata Juno sambil tersenyum senang


"Kamu butuh berapa?" kata Jessyca santai


"Kamu mau kasih pinjam berapapun Aku terima kok" kata Juno tergelak, Ia tahu bahwa uang bagi Jessyca hanya tampak seperti mainan yang memang seharusnya dihabiskan


"Tidak apa-apa, to the point saja, Kamu butuh berapa?" tanya Jessyca serius


"Aku pinjam $3000 dolar saja, jika Kamu tidak keberatan.." kata Juno


"Tidak kurang?" kata Jessyca santai


"Tidak kok, nanti aku cari kerja paruh waktu biar cukup buat tambahan kebutuhanku, oh iya.. Aku pasti kembalikan uangmu dua kali lipat Jess" kata Juno tersenyum


"Benarkah? tapi tidak perlu.. Bahkan jika Kamu tidak mengembalikan uang ini juga tidak masalah" kata Jessyca tersenyum dengan satu sudut bibirnya terangkat


"Oh, Aku bukan pengemis yang meminta-minta" kata Juno agak tersinggung dengan perkataan Jessyca


"Bukan maksudku demikian, kembalikan uang ini sebanyak yang Kamu pinjam saja" kata Jessyca mulai memeriksa dompetnya


"Ya baiklah kalau memang Kamu maunya begitu" kata Juno memperhatikan Jessyca yang tanpak agak gusar


"Ok.. tapi aku tidak punya uang tunainya, harus ke ATM dulu" kata Jessyca


"Ok, kita ke ATM dulu" kata Juno dengan nada santai


Mereka pergi ke ATM terdekat dan kembali lagi ke apartemen Jessyca.


"Boleh, ide yang bagus" kata Juno tersenyum


Jessyca yang sebelumnya sudah masak kini mempersiapkan makanan di Meja makan, bebek panggang dan spicy seafood dengan dua botol minuman bersoda terhidang di Meja makan


"Bagaimana rasanya?" tanya Jessyca sambil melirik Juno yang sudah menyendok makanan ke dalam mulutnya


"Enak" kata Juno nyengir kuda, hanya hambar dan pedas dirasakannya pada spicy seafood dan bebek panggang yang Ia makan


"Apa iya?" kata Jessyca menyuap makanannya


"Beneran kok" kata Juno mengacungkan jempolnya


"Kurang asin ya?" kata Jessyca tersenyum malu


"Sedikit" kata Juno tersenyum


"Harusnya Kamu jujur, Aku memang tidak pandai masak, dulu Ibu sering bilang kalau masak daripada keasinan lebih baik agak hambar" kata Jessyca tergelak


"Kenapa begitu?" kata Juno heran dan menautkan alisnya


"Kalau rasanya agak hambar masih bisa di tambah garam, nih tinggal di tambahkan secukupnya" kata Jessyca sambil memberikan kotak garam pada Juno


"Oh" kata Juno sambil menyendok sedikit garam ke makanannya


"Bagaimana? sudah lumayan kan?" tanya Jessyca


"Iya, sudah pas rasanya" kata Juno menganggukkan kepalanya


Mereka tertawa dan melanjutkan makan tanpa bersuara, Jessyca membersihkan peralatan makan mereka dan Juno memaksa membantunya, lantai di sekitar washtafel yang licin membuat Jessyca tergelincir, dengan cekatan Juno menahan tubuh Jessyca dengan tangannya agar tidak jatuh ke lantai. Mata mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama, Juno yang salah tingkah langsung berusaha mengalihkan pandangannya. Jantung Jessyca berdebar-debar entah karena terkejut hampir jatuh atau karena bertatapan intens dengan Juno, Jessyca segera berdiri tegak dari posisinya.


"Aduh.. hampir saja jatuh, thanks ya udah bantu" kata Jessyca canggung


"Sama-sama" kata Juno tersenyum


"Mau nonton televisi?" tanya Jessyca menawarkan


"Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai Jes, Aku pulang saja" kata Juno agak salah tingkah


"Ok kalau begitu" kata Jessyca tersenyum dengan sangat manis


"Thanks ya sudah mau meminjamkan uang padaku, nanti kalau udah punya uang akan segera ku kembalikan" kata Juno tersenyum canggung


"Iya tidak masalah, jangan sungkan" kata Jessyca menatap Juno yang agaknya masih salah tingkah


Juno pamit pulang, Jessica mengantarnya sampai ke parkiran. Juno mulai merasa bingung dengan perasaannya yang merasa senang tiap kali melihat senyum Jessyca.


Jangan lupa Like dan Komentarnya ya Readers agar Author semakin bersemangat untuk menulis lanjutan ceritanya.. 💕