We Will Never Be Apart

We Will Never Be Apart
Chapter LXXI Kecewa



Pukul 07.00 pagi, Jessyca bangun dari tidurnya, mengusap matanya dan pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah bersih dan wangi, Ia berganti pakaian dan bersiap keluar kamarnya, secara kebetulan seorang pelayan sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya bersiap mengetuk pintu ketika Jessyca bersiap keluar.


"Nona, Tuan sudah menunggu nona di meja makan" kata Mrs Luncaster tersenyum datar


"huffftt... " Jessyca hanya menghela napas dan menuruni anak tangga melengkung menuju ruang makan


Mr. Robinson menurunkan sedikit kacamatanya ketika dilihatnya Jessyca sudah berada diseberang meja. Meja makan tampak sangat jauh karena hanya mereka berdua yang duduk di meja makan panjang itu.


"Hai Ayah" Jessyca berusaha menyapa seolah tidak terjadi apa-apa diantara Ia dan Ayahnya, seolah mereka tidak sedang perang dingin. Namun hatinya merasa ada yang tidak beres dari senyum miring Mr. Robinson


"Hai sayang, tidurmu nyenyak?" kata Mr. Robinson sedikit menaikkan alis mata kirinya


"Menurut Ayah?" tanya Jessyca dengan nada datar sembari meletakkan roti sandwich ke mulutnya.


Setelah tiga hari tinggal di rumah Ayahnya, Jessyca merasa seperti sedang masuk penjara. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah bahkan tidak diizinkan pergi belanja dan bekerja. Mr. Robinson terlalu protektif kali ini. Namun itulah yang terbaik bagi Jessyca yang bisa dilakukan Mr. Robinson untuk menjauhkannya dari Erick.


"Bagus, Ayah harap Kamu menjauhi Erick. Kamu boleh bekerja lagi jika kamu berhasil melupakan Erick" kata Mr. Robinson sambil menyeruput kopi Americano favoritnya


"Ayaaah..." kata Jessyca sedikit berteriak


"Ayah punya kejutan untukmu.. Ayah tidak yakin Kamu akan bertahan dengan Erick setelah melihat ini" kata Mr. Robinson menunjukkan benda di antara jari telunjuk dan jempolnya


"Kali ini apa lagi?" kata Jessyca dengan nada kesal, Jessyca memutar kedua bola matanya


Mr. Robinson hanya tersenyum Ia sangat yakin bahwa Jessyca kali ini akan meninggalkan Erick selamanya.


"Kemarin orang suruhan Ayah berhasil membuntuti Erick" kata Mr. Robinson sambil menyeruput kopi ditangannya


"Dan Kamu tahu, ini adalah hasil rekaman yang berhasil Ia dapatkan" kata Mr. Robinson melanjutkan, sembari tersenyum cerah dengan air muka gembira


"Kurasa Aku tidak tertarik untuk melihanya" kata Jessyca santai


"Ini menyangkut masa depanmu Jessyca, percayalah pada Ayah" kata Mr. Robinson dengan nada kesal dan sedikit meninggi


"Ok baiklah, Aku akan menonton rekamannya di dalam kamar, berikan padaku" kata Jessyca sambil menyodorkan tangannya


"Ayah akan ikut menonton" kata Mr. Robinson singkat seulas senyum tipis menghiasi wajahnya


"Terserah" kata Jessyca kesal


Jessyca melangkah menaiki anak tangga melengkung menuju kamarnya diikuti Mr. Robinson tepat di belakangnya.


Sebuah laptop kini menampilkan sebuah rekaman tentang Erick yang keluar dari rumahnya menuju kearah mobil yang didalamnya tampak seorang laki-laki telah menunggunya.


"Apa yang salah dengan ini Ayah? Erick menemui temannya" kata Jessyca lagi-lagi merasa kesal


"Tonton sampai selesai, Kamu akan tahu mengapa Ayah menyuruhmu untuk nonton video ini" kata Mr. Robinson santai


Tidak beberapa lama, dalam rekaman Erick dan temannya keluar dari mobil, dan betapa terkejutnya Jessyca melihat bahwa mobil yang sedari tadi tidak terlalu mencolok kini mulai ada di pikirannya, mobil itu sangat mirip dengan mobil seseorang yang berusaha melakukan kejahatan padanya beberapa waktu lalu.


"Bagaimana? Kamu mengingat sesuatu?" kata Mr. Robinson sambil memperhatikan wajah Jessyca yang diam mematung


"Itu.. " Jessyca tidak yakin untuk melanjutkan kata-katanya


"Ma.. maksud Ayah?" Jessyca berusaha menahan rasa kecewanya terhadap Erick di depan Mr. Robinson Ia merasa sangat malu, kecewa, terluka, dan merasa sakit. Jessyca merasa seolah dunianya runtuh saat itu juga dan yang lebih parah, Ia harus berusaha menyembunyikan ekspresi hancurnya.


"Kamu bodoh?" kata Mr. Robinson menatap tajam kearah Jessyca


"Yang berusaha melakukan penyerangan terhadapmu, yang membahayakan nyawamu dan juga menipumu.. Semua adalah Erick, Dia sudah merencanakan ini dengan orang suruhannya, dan Kamu masih melihatnya sebagai seorang pahlawan tanpa tahu kebenarannya" kata Mr. Robinson menjelaskan dengan nada marah dan kesal pada Jessyca


"Cukup Ayah, tidak perlu bicara sekejam itu.. Mungkin saja Erik punya alasan melakukannya" kata Jessyca terisak, Ia tidak mampu lagi menahan air matanya, kali ini Ia hanya bisa menutup matanya dengan kedua telapak tangannya


"Ayah tidak habis pikir, Kamu masih membelanya, walaupun sudah jelas-jelas Kamu dibodohi olehnya" kata Mr. Robinson sedikit berteriak, kedua pupil matanya melebar dan bergetar. Amarahnya sampai ke ubun-ubun melihat putrinya menangis


"Aku.. hu.. hu.. kumohon tinggalkan Aku sendiri Ayah" kata Jessyca sambil terus menangis


Mr. Robinson makin marah, Ia meraih Handphone di saku celananya dan menekan nomor Mr. Eugene.


"Halo, Aku ingin menyewa pengacara handal untuk menjebloskan seseorang ke dalam penjara" kata Mr. Robinson dengan nada tegas dan penuh amarah


"Baik tuan, saya akan segera mengurusnya" kata Mr. Eugene dari seberang


"Cukup Ayah, jika Ayah memasukkan Erick ke penjara maka Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Juno sekaligus mengakhiri hidupku" kata Jessyca sambil terisak


Mendengar ancaman Jessyca, Mr. Robinson ragu untuk melanjutkan rencananya, yang Ia tahu bahwa Jessyca adalah gadis keras kepala sama seperti dirinya.


"Baiklah Mr. Eugene, tahan dulu.. Biarkan Aku bicara lebih dulu dengan Jessyca" kata Mr. Robinson sambil menghela napas panjang


Mr. Robinson memutus panggilan dan berjalan kearah Jessyca yang sedang duduk terisak di sisi ranjang.


"Ayah hanya ingin memberi baji*an itu pelajaran, apa salahnya?" kata Mr. Robinson dengan nada kesal


"Jessyca ja..nji akan me..njau..hi Erick ayah dan mem..blo..kir semua kon..tak de..ngan..nya" kata Jessyca berusaha bicara dengan sedu sedan


"Ayah tidak ingin Kamu berbohong" kata Mr. Robinson dengan nada mengancam


"Perlukah dibuat surat perjanjian?" kata Jessyca sambil berusaha mengusap air matanya


"Ayah ingin pernikahanmu dengan Juno segera terlaksana" kata Mr. Robinson dingin


"Ayah, Juno belum siap. Dia bahkan belum lulus dan masih magang. Bahkan Jessy juga baru lulus tahun ini, Kami belum siap" kata Jessyca menjelaskan panjang lebar


"Ayah akan buat pertunanganmu dan Juno dipercepat dalam satu bulan kedepan" kata Mr. Robinson sedikit menaikkan kacamatanya


"Tapi Ayah.. " kata Jessyca sambil menatap mata Mr. Robinson


"Tidak ada tapi-tapian, atau Erick akan Ayah jebloskan ke penjara" kata Mr. Robinson dengan nada mengancam


Jessyca hanya bisa diam, entah apa lagi alasan yang harus Ia lontarkan. Kalaupun Ia bilang bahwa Ia dan Juno tidak saling mencintaipun Mr. Robinson tidak akan membatalkan perjodohan mereka.


"Ayah tahu Kamu sedih, tapi Erick tidak pantas bahkan untuk sebutir air matamu" kata Mr. Robinson menatap Jessyca yang tampak melamun


Melihat Jessyca yang diam dan sedikit tenang akhirnya Mr. Robinson memutuskan untuk meninggalkannya sendiri, Ia tahu Jessyca pasti butuh waktu sendiri.


Jangan lupa like dan komentarnya ya readers agar Author lebih semangat untuk menulis lanjutan ceritanya..💕