
Juno masih berada di Veondra Lovera Cafe, menatap gelas kopinya dan kopi Melissa, tidak ada yang berubah dari Melissa kecuali hati dan cinta Melissa yang bukan lagi untuknya. Menatap Coffee with full cream milik Melissa membuat Juno termenung dan mengingat kembali kenangan Mereka.
POV Juno
Aku menunggu tiga puluh menit sebelum waktu perjanjian pertemuan kami, agar dapat melihat Melissa lebih lama. Selama diperguruan tinggi Aku selalu merindukannya setiap saat, berharap agar dapat bertemu dengannya setiap hari seperti saat kami masih SMA.
Aku jatuh cinta Melissa sejak awal jumpa, saat itu Kami sama-sama mendapatkan penghargaan sebagai siswa dan siswi terbaik di jenjang High school dalam berbagai aspek seperti kedisiplinan, keteladanan dan wawasan mewakili kelas masing-masing, ketika dipanggil maju kedepan, Aku menoleh padanya, saat itulah Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Melissa, saat namanya dipanggil, saat Kami berdiri bersebelahan menerima hadiah sebagai siswa-siswi terbaik perwakilan tingkat High school. Rasanya Aku begitu terpesona padanya, Ia tampak berbeda dari wanita-wanita lain diluar sana, ada aura innerbeauty yang kulihat ketika Aku menatapnya.
Aku sering memperhatikan Melissa diam-diam tanpa sepengetahuannya, walaupun pada Akhirnya Aku berhasil dekat dan sering ngobrol dengannya dan Nina sahabatnya, tetapi tetap saja Aku merasa ingin selalu memperhatikannya, mencarinya, dan rasanya sangat menyenangkan bila bisa selalu dekat. Sayangnya kesempatan untuk memperhatikannya sangat sedikit, kadang Aku sibuk dengan teman-teman yang lain, terutama banyak teman-teman wanita yang cukup agresif mendekatiku secara terang-terangan. Melissa sering menjauh dan kesal padaku setelahnya, kupikir inilah yang disebut cemburu. Melissa yang pecemburu, Aku sering mengatainya begitu.
Ada banyak kenangan tentang Aku dan Melissa, salah satu kenangan yang lucu adalah ketika Kami berada di kantin, Aku, Melissa, Nina, dan teman-teman anggota kelompok Sains, karena hari itu tugas kelompok Kami mendapatkan nilai A maka sebagai ketua kelompok Aku berencana untuk mentraktir makan semua anggota. Aku meminta mereka untuk makan apapun yang mereka inginkan, Aku bersedia mentraktir mereka, dengan percaya diri Aku juga menambahkan menu-menu yang harganya mahal di kantin Kami untuk disantap semuanya. Tapi ternyata saat akan membayar barulah Aku sadar bahwa Aku lupa membawa dompet. Wajahku pucat, Aku berusaha mencari bantuan pada teman-teman yang berada di dekatku saat itu namun Mereka berdalih bahwa uang mereka tidak cukup untuk membayar semuanya. Aku melirik Melissa yang berada diseberangku, saat itu Ia sedang mengelap sisa makanan di mulutnya dengan tisu, Aku tahu Melissa pasti bisa membantuku, kartu kreditnya selalu Ia bawa kemana-mana, Uang kiriman Ayahnya lumayan banyak untuk uang jajan dan biaya hidup selama satu bulan. Keluarga Melissa sebenarnya tinggal di Boston, Melissa ikut kakaknya Frans yang sedang kuliah di Columbia University. Tapi dengan meminjam uang pada Melissa saat itu akan membuatku malu seumur hidup. Raut wajahku yang pucat dan gerak-gerikku yang gelisah agaknya bisa ditebak oleh Melissa. Dia keluar dari kantin dan memberiku isyarat untuk mengikutinya.
Diluar kantin Melissa langsung menanyakan padaku tentang Apakah Aku butuh pinjaman uang, seolah Ia bisa menebak isi hatiku yang ingin kuutarakan padanya, saat itu ingin rasanya kukatakan Tidak. Tapi entah bagaimana nasibku di kantin itu setelahnya, Akhirnya Aku mengiyakan dan Melissa menawari pinjaman uang darinya, kulihat Dia dengan raut wajah senyum tertahan, jujur berapa malunya Aku saat itu. Melissa bilang "santai Jun. Jangan Khawatir dan jangan dipikirkan, Kamu boleh pinjam uangku kok". Dengan ekspresi senyum tertahan. Oh rasanya ingin menghilang seketika saat itu juga, setelah itu Aku berjanji untuk mengembalikan uangnya secepatnya. Walau di hari berikutnya Aku langsung mengembalikan uang Melissa namun rasa malu itu belum hilang sampai sekarang, saat itu Aku baru dekat dengan Melissa jadi wajar jika rasa Jaim dan gengsian diutamakan.
Setelah kuliah setahun di California University barulah Aku tahu bahwa Jessyca juga tidak pernah menghadiri pertemuan keluarga yang diatur oleh orang tua Kami, Aku juga mengetahui bahwa Jessyca sudah memiliki kekasih. Hal itu kuketahui dari percakapan Ayah dan Mr. Robinson secara tidak sengaja ketika Ayah berkunjung ke Apartemenku di California. Aku lega dengan fakta yang kudengar sehingga Aku setuju untuk berkomunikasi dengan Jessyca via handphone dan berpacaran dengannya, yang tentu saja sudah Kami sepakati bahwa itu hanya kesepakatan bisnis dan sifatnya sementara.
Aku dan Jessyca sengaja menunjukkannya secara terang-terangan pada media sosial bahwa kami berpacaran agar orang tua kami percaya. Jessyca berhasil memberitahukan kekasihnya Erick tentang hubungan sandiwara pacaran Kami, sedangkan Aku tidak memberitahukan hubunganku dengan Jessyca pada Melissa karena kupikir hubungan sandiwara ini tidak akan lama, lagipula tentang hubunganku dan Melissa yang tidak berpacaran membuatku ragu untuk memberikan penjelasan padanya. Aku menginginkan Melissa namun Aku belum siap untuk terikat, Aku tahu Melissa sangat mengekang jika Aku jadi kekasihnya, Melissa sangat posesif, sementara Aku punya banyak teman wanita. Tidak sedikit pula yang suka padaku. (itu kata writernim loh, he..he..).
POV end
Mengingat Melissa membuat Juno teringat pada hutangnya dengan Jessyca yang belum sempat Ia bayar, Ia berencana untuk segera melunasinya dan mengatur pertemuan dengannya. Perasaan sedih masih dirasakan Juno, namun Ia harus mengatakan pada Jessyca bahwa Ia belum siap untuk pernikahan mereka. Juno yakin bahwa Jessyca juga belum siap dengan pernikahan mereka.
Jangan Lupa like dan Komentarnya ya readers, agar Author lebih bersemangat untuk menulis lanjutan ceritanya..💕