
Jessyca menatap wajah Erick lekat-lekat, Ia tidak mempercai dirinya yang sekarang kembali menyayangi Erick, padahal Ia masih benci jika mengingat penghianatan yang dilakukan Erick sebelumnya. Namun cinta tetaplah cinta, hati Jessyca luluh oleh pengorbanan Erick padanya beberapa saat lalu. Kini Jessyca berusaha melupakan rasa sakit hatinya dan membuka hatinya untuk Erick lagi.
Erick memperhatikan Jessyca yang menatapnya begitu dalam, Ia sedang menebak apa yang sedang di pikirkan gadis dihadapannya, apakah masih mencoba mengingat nomor plat mobil Charles? tiba-tiba Erick merasa cemas.
"Ada apa Sayang? Apa yang sedang Kamu pikirkan sehingga menatapku seperti itu? Kamu sangat merindukanku ya?" kata Erick sedikit bercanda
"Ih, Kamu ya.. Siapa yang rindu Kamu? Aku lagi mikir Apa Kamu harus menginap di rumah sakit malam ini?" kata Jessyca mencoba berbohong
"Kamu tidak pernah bisa berbohong?" kata Erick tergelak
"Apa? tadi Aku menatap matamu saat bicara" kata Jessyca kesal
"Dengan nada bicara yang bergetar?" kata Erick mendekatkan wajahnya pada Jessyca
"Huh" kata Jessyca mendengus dan memalingkan wajahnya
"Katakan sejujurnya Sayang" kata Erick menyentuh dagu Jessyca sehingga mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat
"Iya.. iya Aku memang rindu Kamu.. Puas?!" kata Jessyca dengan nada sedikit kesal
Erick menarik tangan Jessyca sehingga Jessyca jatuh kedalam pelukannya, Ia memeluk Jessyca sangat lama seolah tidak ingin melepaskan gadis itu. Ia bahkan pernah berjanji akan menjadi lelaki yang pantas untuk menikahi Jessyca suatu hari nanti. Perlahan Erick mencium kepala Jessyca, Ia mencium kembali aroma shampo yang selalu dirindukannya.
Jessyca membenamkan wajahnya di dada bidang Erick, sebenarnya Ia memang sangat merindukan lelaki yang saat ini memeluknya dengan erat, entah kenapa tiba-tiba air matanya jatuh dan membuat Erick terkejut hingga melepaskan pelukannya.
"Maaf, Apa Aku memelukmu terlalu erat?" kata Erick cemas
"Tidak kok, Aku.. Entah mengapa Aku.." kata Jessyca tidak sempat melanjutkan kata-katanya
Erick mencium bibir Jessyca secara intens, Ia merasakan dan menikmati setiap sudutnya. Jessyca bahkan kesusahan mengambil napas. Namun Erick tidak melepaskan ciumannya. Ada banyak gadis di luar sana, bahkan Erick pernah mencium beberapa gadis selain Jessyca, selama ini Ia tidak menyadari betapa berharganya Jessyca dalam hidupnya, setelah kehilangan Jessyca beberapa waktu, barulah Ia sadar bahwa Ia tidak bisa sendiri tanpa Jessyca, wanita-wanita di bar hanya mampu menghiburnya untuk sesaat.
Jessyca mulai terengah karena kesulitan mengambil napas, Ia sekarang sedang berusaha melepas ciuman Erick yang begitu dalam dan mulai memanas, melihat wajah Jessyca mulai memerah, Erick akhirnya melepaskan ciumannya.
"Maaf, sekali lagi.. Aku terlalu merindukanmu" kata Erick menundukkan wajahnya
"Sudah malam, Ayo Kita pulang.." kata Erick menatap Jessyca mesra
"Tapi sebaiknya Kamu mengi.." kata-kata Jessica terpotong karena jari telunjuk Erick yang menahannya untuk bicara
"Aku tidak perlu menginap disini" kata Erick tersenyum
"Kamu masih belum pulih Sayang" kata Jessyca mengerutkan dahinya
"Siapa bilang? Aku baik-baik saja.. "kata Erick berbohong, sebenarnya waktu berciuman tadi Ia menahan rasa sakit di bibirnya karena bekas pukulan Charles
"Hihi.. Bahkan kini bibirmu bengkak Sayang" kata Jessyca terlekeh
"Benarkah?" Erick menengok ke arah cermin di salah satu sudut ruangan
"Aku bercanda Sayang, bibirmu tetap seksi" kata Jessyca manja
"Dasar Kamu perempuan nakal" kata Erick menarik hidung Jessyca
"Sebelum pulang Kita makan malam dulu ya" kata Jessyca menatap Erick
"Baiklah, Ayo kita pergi.. Mau makan malam dimana?" tanya Erick
Jessyca selalu bingung jika harus menentukan tempat makan, Jika Ia memilih restoran mahal, Ia takut menyusahkan Erick, jika memilih restoran biasa, Ia takut kalau Erick merasa terhina. Pernah suatu hari Ia dan Erick makan di salah satu restoran mewah di New York, Jessyca menawarkan untuk membayar makanan mereka namun Erick selalu menolaknya dengan kasar. Jessyca tahu bahwa pendapatan Erick tidaklah cukup untuk membayar makan siang mereka setiap hari, ditambah lagi Erick selalu memilih makan di Restoran yang cukup mahal. Akhirnya Jessyca kadang mengajak Erick makan di Apartemennya dengan alasan Erick harus mencicipi masakannnya, hanya dengan cara begitu Ia tidak menyulitkan Erick.
"Kamu yang menentukan, Aku akan ikut" kata Jessyca tersenyum
"Baiklah kalau begitu" kata Erick senang
Sepanjang jalan Erick mengemudikan mobil Jessyca dengan satu tangan, dan tangan satunya Ia gunakan untuk menggenggam tangan Jessyca. Seolah tidak mau lepas, bahkan tangan Jessyca jadi berkeringat ketika mereka tiba di Restoran Charter Oak.
Jangan lupa Like dan Komentarnya ya Readers agar Author lebih bersemangat untuk menulis lanjutan ceritanya..💕