
Melissa sedang membereskan berkas yang akan Ia ajukan sebagai judul skripsinya, ini adalah tahun terakhir Ia menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa, di Amerika perkuliahan strata 1 hanya berlangsung selama tiga tahun, tidak terasa sudah dua tahun Ia menjalani masa perkuliahan. Hari ini Melissa akan menemui dosen pembimbingnya namun di luar sedang hujan deras, sementara Hendry sedang dalam perjalanan menjemputnya untuk menemaninya bimbingan hari ini.
"Drtt.. Drtt.." Handphone Melissa bergetar sebuah panggilan dari Hendry
"Hallo" Melissa menjawab dengan antusias karena seharusnya Hendry tiba sepuluh menit sebelumnya dari waktu yang dijanjikan.
"Hallo, Sayang.. Maaf Aku agak terlambat menjemputmu karena beberapa hal, barusan Aku mendapat telepon dari sepupu Joana bahwa Joana kecelakaan lalu lintas, bisakah kita mampir ke rumah sakit sebelum pergi ke rumah dosen?" tanya Hendry dengan nada khawatir. Sebenarnya Hendry segan untuk menyebutkan nama Joana namun Melissa akan marah jika tidak diberi tahu lebih dulu.
"Kamu tahu kan dosen pembimbingku type killer dan sangat displin?" kata Melissa dengan nada kesal
"Iya sayang, tentu Aku tahu tapi Joana sedang kecelakaan, kedua orangtuanya di luar negeri, tampaknya mereka kesulitan membayar administrasi rumah sakit karena ini merupakan kasus tabrak lari" kata Hendry berusaha menjelaskan
"Ok, terserah jika Kamu mau ke rumah sakit lebih dulu, Aku akan pergi sendiri menemui dosenku" kata Melissa sambil memutus teleponnya
"tut... tut... tut" Hendry menghela napas panjang, diliriknya jam ditangannya menunjukkan pukul 14.30, Apartemen Melissa dan rumah sakit tempat Joana di rawat berlawanan arah, akhirnya Hendry tetap memilih menuju Apartemen Melissa. Dengan cepat Hendry menekan call pada nama Joana, sepupunya Irina mengangkat telepon dari Hendry menggunakan Handphone Joana.
"Hallo" kata Irina langsung menjawab telepon
"Hallo, ini Irina? masalah biaya rumah sakit yang tadi dibicarakan biar saya yang menanggungnya, kirimkan no rekening dan nominal yang dibutuhkan" kata Hendry cepat
"Tapi..." jawab Irina ragu
"Tapi apa?" kata Hendry mengerutkan alis matanya yang tebal
"Akan lebih baik jika Kamu bisa datang kemari, saat Joana sadar pasti Ia akan menanyakan tentang Kamu" kata Irina ragu-ragu
"Maaf Aku tidak bisa datang saat ini, pacarku sedang sangat membutuhkanku saat ini" kata Hendry
"Baiklah, terima kasih banyak untuk bantuannya, nanti uang yang kami pinjam akan dikembalikan jika kami sudah mendapatkan kiriman" kata Irina agak terengah
"Jangan sungkan, Aku hanya membantu sahabat kecilku" kata Hendry dengan nada santai
"Sekali lagi terima kasih banyak, Kuharap Kamu bisa datang nanti jika tidak sibuk" kata Irina penuh harap
"Akan Kuusahakan datang.. Baiklah, sampai jumpa" kata Hendry sambil menutup teleponnya setelah Iriana menjawab sampai jumpa
Mobil Hendry segera menuju Apartemen Melissa dengan kecepatan diatas rata-rata, ternyata Melissa sedang bersiap, Ia sedang menunggu taksi datang, Hendry datang tepat waktu dan membukakan pintu mobilnya untuk Melissa, Melissa masuk ke mobil dengan wajah ditekuk.
"Sayang, Apa Kamu marah padaku?" tanya Hendry tersenyum sedikit menoleh kearah Melissa yang sedang menatap keluar jendela.
"Menurutmu?" tanya Melissa dengan nada kesal
"Aku minta maaf, kupikir bimbinganmu bisa ditunda" kata Hendry tersenyum untuk menyembunyikan kecemasannya, sambil menggenggam tangan Melissa, Ia menyetir dengan menggunakan satu tangan
"Aku tidak bermaksud memaksamu harus menemaniku sekarang, pergilah jika urusan menemui Joana lebih penting" kata Melissa dengan ekspresi kesalnya
"Lantas? Kamu harus selalu ada untuknya?" kata Melissa semakin kesal
"Bukan begitu.. Ah sudahlah" kali ini Hendry menjawab dengan nada putus asa sepertinya apapun jawabannya Melissa tetap akan marah padanya
Mereka diam untuk beberapa saat, sebuah panggilan masuk ke handphone Melissa, kali ini Bella yang menelepon.
"Hallo Bell?" kata Melissa
"Mell, barusan Aku dapat kabar bahwa Prof. Harold mengubah lokasi bimbingan hari ini di Datura Villa, Aku baru saja dapat infonya" kata Bella menjelaskan
"Apaaa? Datura Villa?" Melissa sedikit terkejut dan nada suaranya agak meninggi Datura Villa cukup jauh dari lokasi tempat mereka saat ini butuh waktu dua jam untuk sampai kesana
"Iya Mel, sekarang hujan semakin deras waktu pertemuan di undur 2 jam" kata Bella menjelaskan
"Baiklah, terima kasih infonya" kata Melissa dengan agak lega
"Bye Mel" kata Bella memutus sambungan teleponnya
"Bye" kata Melissa juga menutup teleponnya
"Kita putar arah" kata Melissa sambil menoleh kearah Hendry
"Ok" kata Hendry yang sedari tadi menguping pembicaraan, segera mengemudikan mobilnya menuju Datura Villa
Perjalanan cukup lama, setelah melewati jalan yang menukik dan berkerikil tiba-tiba mesin mobil Hendry mati di tengah jalan. Jam menunjukkan pukul 16.00. Raut wajah Melissa cemas, Ia khawatir akan gagal bimbingan hari ini.
Hendry berusaha memperbaiki masalah pada mobilnya, namun tidak berhasil memperbaiki, mobil Hendry akhirnya di derek menuju bengkel. Hendry dan Melissa akhirnya memutuskan naik taksi untuk sampai ke Datura Villa, Melissa terlihat kesal karena bajunya basah dan mereka harus menunggu tiga puluh menit untuk taksi yang mereka pesan.
Melihat baju Melissa yang transparan karena air hujan yang mengguyur tubuhnya, Hendry melepas jacket kulit miliknya untuk dikenakan Melissa.
"Tidak perlu, sebentar lagi taksi segera tiba" kata Melissa mencoba menolak
"Sayang, baju kaos yang kukenakan cukup tebal, jadi lebih baik jaket ini kamu yang pakai" kata Hendry memasangkan jaketnya pada Melissa
Raut wajah Melissa yang tadi tampak kesal kini berubah cerah, bagaimanapun Ia sangat suka Hendry yang perhatian padanya.
Karena mobil Hendry yang macet dan taksi yang berjalan lambat, mereka tiba di Villa Prof. Harold pukul 18.00 terlambat tiga puluh menit dari waktu pertemuan seharusnya, Bella dan Maria bahkan sudah selesai bimbingan dan lebih dulu berpamitan pada Melissa, Melissa segera menemui Prof. Harold yang menatapnya agak marah, semua mahasiswa tahu bahwa Prof. Harold sangat tegas dan disiplin, biasanya ketika di ruang kelas, Mahasiswa yang terlambat datang pada perkuliahannya harus pulang dan tidak di perbolehkan mengikuti mata kuliah.
Jantung Melissa berdebar-debar, Ia takut Prof. Harold akan menyuruhnya pulang tanpa hasil bimbingan. Pelan-pelan Ia melangkah masuk menuju ruang tamu, Prof. Harold menunggunya dengan raut wajah dingin.
Jangan lupa like dan komentarnya ya readers.. Agar Author lebih semangat untuk menulis lanjutan ceritanya..💕