
Pagi yang cerah saat sinar matahari menyusup malu-malu dari gorden jendela kamar Melissa, Melissa mengusap matanya pelan. Suara ketukan Mrs. Jean berhasil membuatnya membuka mata. Mrs. Jean memberitahukan Melissa bahwa sudah saatnya untuk sarapan pagi. Melissa kemudian segera bergegas menuju keluar kamar, di meja makan Mr. Gabriel dan Mrs. Angelica sedang menunggu, dengan santai Ia mengikuti Mrs. Jean
"Mrs. Jean, Apa Hendry sudah di bangunkan?" tanya Melissa pada Mrs. Jean
"Belum Miss, Saya baru akan membangunkannya sekarang" kata Mr. Jean hati-hati
"Tidak perlu, biar Aku yang membangunkannya" kata Melissa sambil tersenyum pada Mrs. Jean
"Baiklah kalau begitu Miss" kata Mrs. Jean undur diri
Melissa segera menuju kamar Hendry untuk membangunkannya, Dia mengetuk pintu perlahan dan tidak ada jawaban dari dalam. Diputarnya grandel pintu dan masuk kedalam kamar Hendry, namun Hendry tidak ada di atas ranjang, apa mungkin Dia sudah bangun? pikir Melissa. Tidak lama kemudian sebuah suara mengejutkan Melissa
"Kamu kenapa melamun Sayang?" tanya Hendry yang baru saja keluar dari kamar mandi
Melissa menoleh, Ia terkejut melihat Hendry yang bertelanjang dada dan hanya melilitkan handuk dari pinggang kebawah, Dada bidang dan perut sixpack Hendry membuat wajah Melissa memerah dan spontan Melissa menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Aku tadinya mau membangunkanmu untuk sarapan pagi sayang, tapi rupanya Kamu sudah bangun" kata Melissa masih dengan mata yang ditutupinya dengan telapak tangannya
Hendry tergelak dengan sikap Melissa, Ia segera memakai baju kaos Prada hitam miliknya.
"Sudah Sayang, buka saja matamu.. Aku sudah pakai baju kok" kata Hendry tertawa menatap Melissa yang takut-takut menurunkan telapak tangannya
"Ayo turun, Ibu dan Ayah sudah menunggu" kata Melissa
"Silahkan keluar lebih dulu, atau Kamu tidak keberatan jika Aku mengganti celana di hadapanmu Sayang" kata Hendry tersenyum menggoda
"Ok Aku duluan, segera menyusul ya" kata Melissa dengan wajah merah merona karena malu
Melissa turun lebih dahulu, Mr. Gabriel dan Mrs. Angelica sedang berbincang santai.
"Selamat pagi Sayang.. Ibu dengar dari Mrs. Jean bahwa Kamu yang membangunkan Hendry, tapi Ibu tidak melihatnya" kata Mrs. Angelica tersenyum penuh arti
"Kenapa lama?" tanya Mr. Gabriel sambil mengneguk Kopi Americano di hadapannya
"Selamat pagi Ayah dan Ibu.. Tadi saat Melissa pergi ke kamar Hendry ternyata Hendry sedang mandi dan karena lama menunggu jadi Melissa turun lebih dulu" kata Melissa tersenyum
"Apakah kalian yakin bahwa hari ini akan pulang ke New York? Ibu masih rindu sama Kamu Sayang" tanya Mrs. Angelica sambil mengusap punggung Melissa
"Iya Bu, kuliah Melissa sedang padat-padatnya, jadi hari ini harus pulang ke New York, Melissa juga sangat rindu Ibu dan Ayah" kata Melissa penuh penyesalan
Tidak lama kemudian, Hendry sudah berada di ruang makan keluarga Zoan, Dia duduk persis di seberang Melissa dan Mr. Gabriel berada tepat di sampingnya.
"Nah ini Hendry, Selamat pagi" kata Mrs. Angelica ramah
"Selamat pagi, Ayah dan Ibu" kata Hendry sedikit canggung
"Selamat pagi" kata Mr. Gabriel datar
Pie Blueberry dan Sandwich telur menjadi menu sarapan pagi ini, Kopi Espresso menjadi pelengkap yang sempurna bagi Hendry. Mr. Gabriel sedikit mengangkat kacamatanya dan bertanya pada Melissa
"Jam berapa kalian akan pulang ke New York? " tanya Mr. Gabriel
"Setelah makan siang" kata Melissa menjawab sambil mengunyah Pie Blueberry di mulutnya
"Ayah dan Ibu akan mengantar kalian, namun pagi ini Ayah akan pergi ke kantor karena ada rapat, nanti kalian pulang dengan pesawat atau kereta api?" tanya Mr.Gabriel sambil menyeduh kopinya
"Pesawat, alasannya untuk menghemat waktu. Aku dan Hendry akan punya banyak waktu untuk istirahat dan mengerjakan tugas kuliah yang akan di kumpul besok, Iya kan Sayang" kata Melissa menatap Hendry
Hendry mengangguk tanda setuju, Ia pun sependapat dengan Melissa. Perjalanan dengan kereta api sangat menyenangkan, namun mereka bukan sedang berlibur sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk beristirahat jika harus naik kereta api.
Selesai makan, Hendry dan Melissa kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap. Mrs. Angelica mengikuti Melissa ke kamarnya, Ia ingin berbincang lebih lama dengan anak gadisnya itu.
"Sayang, Apa keadaan di New York baik-baik saja? Apakah di sana Kamu merasa aman?" tanya Mrs. Angelica tiba-tiba sambil menatap Melissa yang sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya
"Aman kok Bu, Ibu tidak perlu khawatir" kata Melissa tersenyum
"Lancar kok Bu, jangan khawatir ya" kata Melissa
"Sejak kapan anak manja Ibu jadi seorang gadis yang mandiri?" kata Mrs. Angelica terkekeh, Ia tahu bahwa sebelum tinggal di New York, Melissa bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur untuk memasak
"Iya dong, Melissa tumbuh dengan baik saat tinggal di New York" kata Melissa tersenyum
Dengan tergesa-gesa Mrs. Jean masuk ke dalam kamar Melissa yang pintunya memang tidak ditutup.
"Miss, ada Mr. Lucas di depan" kata Mrs. Jean
"Ada keperluan apa Kak Lucas datang?" tanya Melissa heran
"Coba Miss temui sekarang, Lelaki itu sedang menunggu di bawah" kata Mrs. Jean
"Coba Kamu temui dulu sayang, mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan Lucas padamu" kata Mrs. Angelica
"Baiklah Bu" kata Melissa, melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kebawah tempat Lucas menunggu
Diliriknya kamar Hendry yang berseberangan dengan kamarnya, apakah harus memberitahunya atau tidak, apa yang sebenarnya ingin dikatakan Lucas padanya, pikiran Melissa menerawang. Setelah sampai di ruang tamu, dilihatnya sosok lelaki memakai seragam polisi berwarna biru navy sedang duduk menunggunya.
"Hai Kak" sapa Melissa dengan ramah
"Hai juga Baby" kata Lucas tersenyum menggoda
"Ada apa Kak, tumben Kakak datang" kata Melissa tersenyum
"Apa Aku tidak boleh datang? Bukankah Aku adalah Kakakmu?" kata Lucas tersenyum getir
"Bukan begitu Kak, tentu saja Kakak boleh datang kapanpun Kakak mau" kata Melissa tersenyum, Ia lupa bahwa Lucas mudah tersinggung
"Aku ingin memberikan sesuatu untukmu" kata Lucas mengeluarkan sesuatu dari sakunya
"Apa itu Kak?" kata Melissa penasaran, keningnya sedikit berkerut memperhatikan benda yang diberikan Lucas padanya
"Itu adalah camera pengintai berbentuk pulpen, Ku dengar Kamu tinggal sendirian di New York" kata Lucas santai
"Kurasa Aku tidak membutuhkannya Kak" kata Melissa menolak dengan halus
"Itu penting untukmu, Frans sudah menikah. Mungkin tidak bisa mengawasi dan menjagamu dengan baik, Mr. Gabriel dan Mrs. Gabriel juga sibuk" kata Lucas memaksa
"Tidak Kak, Aku sudah terbiasa sendiri dan di New York sampai saat ini Aku merasa aman-aman saja" kata Melissa tersenyum
"Aku akan tersinggung jika Kamu tidak menerima pemberianku" kata Lucas tajam
Melissa tahu bahwa sebagai seorang polisi, Lucas pastinya sangat protektif, namun apa kata Hendry nantinya jika Ia menerima pemberian Lucas, apalagi mengingat kelakuan Hendry yang posesif. Melissa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Baiklah Kak terima kasih atas perhatian Kakak, Camera ini akan Aku bawa ke New York" kata Melissa sedikit menyeringai
"Kamu boleh meneleponku kapan saja jika butuh sesuatu dan ingat untuk menggunakan dengan baik benda itu, Jika merasa ada sesuatu yang janggal Kamu bisa mengaktifkanya kapan saja" kata Lucas sambil tersenyum karena pemberiannya di terima oleh Melissa
Melissa tidak berniat untuk menggunakannya, namun mengingat kejadian di Chinatown membuatnya jadi sedikit waspada dan akhirnya mau menerima pemberian dari Lucas. Melissa dan Lucas mengganti topik pembicaraan mereka, Lucas bercerita tentang dirinya selama Melissa di New York dan juga menceritakan tentang pekerjaannya, sesekali Ia bertanya tentang pengalaman Melissa di New York. Melissa menanggapi dengan baik cerita lucas dan hanya bercerita sedikit tentang dirinya, Ia sengaja bercerita tentang pengalaman berkebun di Villa Hendry agar Lucas tidak mengharap lagi cintanya, Lucas hanya mendengus dan tidak menanggapi cerita tentang Hendry.
Setelah cukup puas bercerita, Lucas pamit undur diri untuk melanjutkan patrolinya. Lucas sebenarnya berencana mengantar Melissa ke Bandara namun Melissa mengatakan bahwa Ia akan diantar Ayah dan Ibunya.
Dan sepasang mata dari pemilik tubuh yang sedang kesal sudah mengintai dari lantai dua kediaman keluarga Zoan.
Jangan lupa Like dan Komentarnya ya Readers agar Author lebih bersemangat untuk menulis lanjutan ceritanya..💕
Novel ini sedang di ikutkan dalam contest "You Are Writer 2" mohon Like, Komen, Vote dan Rating bintang lima dari Readers sekalian.....🙏
Salam Hangat dari Author.