The World Of The Magic

The World Of The Magic
Berpindah dimensi dan menjadi bayi



Suara tembakan itu menggema di seluruh penjuru mansion. Andrew yang sedari tadi berada di pintu belakang menegang kaku dan perasaannya pun jadi tidak enak. Dengan segera Andrew berlari masuk ke dalam mansion meninggalkan tim 2 yang sedang berjaga.


Sedangkan di dalam mansion tepatnya di ruang tamu terlihat Kania yang tergeletak bersimbah darah. Yah, tadi saat Kania menodongkan pistolnya ke arah tuan Zero tiba-tiba dari arah belakang seorang anak buah tuan Zero menembak Kania dan mengenai jantung, kaki dan bahunya.


"Haha... bagaimana dengan kejutan ku..? Menyenangkan bukan. Sudah ku katakan kau tidak akan bisa membunuhku.." tuan Zero tertawa dan sesekali mengejek Kania dengan tatapan tajam


"Kau... pengecut...Zero.." seru Kania terbata-bata


"Tidak peduli kau bicara apa dalam peperangan cara apa pun bisa dilakukan.." sinis Zero


"KANIA.." teriakan dari arah pintu mengalihkan tatapan tuan Zero dari Kania dan melihat ke asal suara


Andrew tidak peduli, dia berlari mendekati Kania dan memangku kepala Kania.


"Andrew..." lirih Kania pelan bahkan hampir tak terdengar


Tatapan Andrew berubah tajam, dengan perlahan dia menaruh kembali kepala Kania ke lantai dan berdiri dengan pelan.


"Beraninya kalian melukai leader kami.." suara serak Andrew membuat tuan Zero dan pria yang tadi menembak Kania mendadak merinding


Dengan gerakan cepat Andrew menerjang pria yang melukai Kania hingga menabrak dinding. Lalu, dia berlari ke arah tuan Zero dan mengarahkan Desert Eangle Mark XIX Pistol rakitan Kania dan menembaknya tepat mengenai kepala tuan Zero.


"Kalian harus membayar mahal karena telah melukai Kania.." sinis Andrew tajam


Andrew kembali beralih pada pria yang tadi menabrak dinding. dia berjalan sambil memainkan Desert Eagle di tangannya, karena tidak ingin bermain-main lagi Andrew pun melepaskan peluru kedua dan bersarang di jantung lalu kembali menembak di kedua bahu dan terakhir pada kepalanya.


Setelah itu, Andrew berjalan cepat menuju Kania yang masih sadarkan diri walau lemah.


"Kania.." lirih Andrew sambil kembali memangku kepala Kania dan menggenggam tangannya


"Andrew... ada... surat... di.. kamarku... bacalah.." lirih Kania terbata-bata


"Aku tidak butuh surat Kania, kau sudah berjanji tidak akan terluka tapi kau mengingkarinya. lihat saja aku akan menghabisi seluruh pasukan mu di Berlin karena kau mengingkari janjimu.." seru Andrew tajam dengan sorot mata yang menggelap namun tidak menutupi hatinya yang sedih


Para anak buah Kania yang baru saja tiba pun sangat terkejut melihat keadaan sang leader. Mereka semua sangat sedih melihat Kania yang seperti itu, walaupun mereka baru bersama selama seminggu tapi mereka sudah merasa nyaman dengan Kania.


"APA LAGI YANG KALIAN TUNGGU, CEPAT HUBUNGI AMBULANCE.." teriak Andrew menyadarkan semua orang untuk segera mencari pertolongan


"Andrew.. tidak.. perlu.." lirih Kania menghentikan tindakan Andrew


"Apanya yang tidak perlu hah, kau harus selamat kau sudah berjanji akan menjadi temanku selamanya dan tidak akan meninggalkan ku. Jadi kau harus selamat apa pun caranya.." sentak Andrew yang sudah dikelilingi amarah dan sedih


Kania menggeleng pelan lalu tersenyum untuk yang terakhir kalinya pada Andrew yang merupakan teman pertamanya saat berada di markas Rose Blood.


Bayangan saat pertama kali dirinya di bawa oleh Dave ke markas Rose Blood terngiang di kepala Kania. Saat dimana Andrew mengajaknya untuk latihan tanding, belajar bisnis dan banyak lagi.


"Drew.. jadilah.. pemimpin... Rose..Blood.. bawa... Rose...Blood.. pada... puncak.. kejayaan..yang...lebih.. tinggi.. lagi.. maaf.. aku...tidak.. bisa... menemani..mu...lagi.." lirih Kania pelan lalu matanya perlahan tertutup dan genggaman tangannya dengan Andrew pun terlepas


"TIDAK..... KANIA..... JANGAN TINGGALKAN AKU.." teriakan kepiluan itu menggema disertai petir yang bergemuruh dan tak lama hujan pun turun dengan deras seakan mengerti kesedihan yang dialami oleh Andrew dan seluruh orang dibawah naungan Rose Blood Mafia.


Sementara itu di dunia antah berantah, terlihat seorang pria tampan yang memakai jubah kebesaran seorang Raja dengan mahkota diatas kepalanya tengah berjalan mondar-mandir di depan sebuah pintu berlapis emas.


Sedangkan wanita cantik yang di sampingnya hanya memutar bola matanya dengan malas saat melihat kepanikan di wajah sang Raja.


"Berhentilah berjalan mondar-mandir seperti itu di depan ku yang mulia Raja.." seru wanita itu dengan kesal


"Diamlah kak, aku sedang mencemaskan keadaan Ratu ku di dalam sana.." seru sang Raja dingin


"Tenanglah, serahkan semuanya pada tabib dan yang perlu anda lakukan hanya berdoa kepada dewa agar persalinan yang mulia Ratu berjalan dengan lancar.." sahut wanita cantik itu dengan santai


"Kau terlalu santai kak tidakkah kau sedikit cemas dengan keadaan adikmu di dalam sana hah, dia sedang bertarung mati-matian untuk melahirkan anakku. Bagaimana nantinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.." seru Raja itu dengan kesal karena melihat sang kakak yang terlalu santai


"Ingat yang mulia perkataan adalah doa, jika kau berkata seperti itu maka jangan salahkan jika dewa mengabulkannya dengan cepat.." sahut wanita cantik itu dengan santai sambil tersenyum tipis tanpa ada yang tau


Jika boleh jujur, wanita itu sangat senang adiknya mendapat seorang suami yang begitu menyayangi nya bahkan rela melakukan apa saja untuk membahagiakan sang adik.


"Kau beruntung Azu, semoga saja disaat anak kalian lahir kebahagiaan semakin menyertai kalian.." doa sang kakak dalam hatinya


Sementara di dalam ruangan tempat sang Ratu bersalin, seorang tabib perempuan berusaha membuat sang permaisuri bertahan.


"Sedikit lagi yang mulia bertahanlah dan dorong lebih keras lagi.." aba-aba sang tabib


Sebuah cahaya transparan masuk kedalam perut sang Ratu dan tidak ada yang menyadari itu.


"Akkkkkkhhhhh...."


Oek...oek..oek...


Tangisan bayi mengakhiri perjuangan sang ibu dan betapa bahagianya dia melihat bayinya lahir dengan selamat. Tapi, itu tidak bertahan lama karena sang Ratu tiba-tiba tidak sadarkan diri karena kelelahan dan tenaganya terkuras habis.


"Kak, kau dengar itu, itu suara anakku. Anakku telah lahir.." senyum bahagia menghiasi wajah sang Raja dan wanita cantik yang sedari tadi menunggu di depan pintu


Setelah itu tabib yang tadinya membantu persalinan pun keluar dengan menggendong seorang bayi mungil.


"Selamat yang mulia Raja anda mendapatkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik." seru tabib tersebut sambil menyerahkan bayi itu kepada sang Raja


"Terima kasih tabib dan bagaimana keadaan Ratu..?" tanya sang Raja


"Ini sudah tugas hamba yang mulia Raja dan mengenai yang mulia Ratu, dia masih belum sadarkan diri karena kehabisan tenaga. Tapi yang mulia Raja tidak perlu khawatir karena hamba telah memberikan ramuan pemulihan tenaga padanya.." jelas sang tabib


"Terima kasih atas bantuan mu tabib.."


"Ini bukan apa-apa yang mulia Raja kalau begitu hamba permisi dulu.."


"Silahkan tabib.."