The World Of The Magic

The World Of The Magic
Monster hasil eksperimen Emma



Liburan sudah berakhir, kini semua murid harus kembali ke academy untuk menuntut ilmu sihir.


"Ah, akhirnya kita kembali lagi..." seru Alvian senang


"Aku kembali Academy Magica..." teriak Alina bersemangat


"Kau terlalu semangat Alina..." seru Zou mengacak lembut rambut adiknya


"Ihh, jangan mengacak rambut ku kak, lihat jadi kusut kan..." kesal Alina dan kembali merapikan rambutnya


Sergia hanya tertawa melihat teman-temannya yang terlalu semangat pagi ini "Apa yang membuat kalian terlihat semangat hari ini..?"


"Tidak ada..." sahut Alvian bohong


"Kau bohong Alvin.." seru Zou dengan wajah tengilnya


"Aku tidak bohong...." sanggah Alvian lalu memalingkan wajahnya


"Benar kah? Apa kalian ingin tahu apa alasan Alvin terlihat bersemangat hari ini..?" tanya Zou pada Alina dan Sergia


"Memangnya apa...?" tanya Sergia penasaran


Zou berjalan mendekat ke arah Sergia dan Alina lalu berbisik ke telinga mereka secara bergantian "Dia merindukan Key.."


"APA...?????" teriak Sergia dan Alina bersamaan mereka sangat terkejut mendengar pengakuan Zou mengenai hal yang membuat Alvian bersemangat


"Apa yang Zou katakan pada kalian.." seru Alvian menatap was-was pada kedua teman perempuannya


"Apa itu benar Alvian..?" tanya Alina


"Apa kau benar-benar memiliki perasaan pada Key...?" tanya Sergia pula


"Astaga mengapa kau tidak memberitahu kami.." ucap Alina


Pertanyaan dari kedua gadis itu membuat wajah Alvian memerah menahan malu.


"Aku tidak menyukai-nya.." seru Alvian membantah


"Kau tidak bakat untuk berbohong Alvin" seru Sergia "Aku mengenal mu sejak kecil jadi aku tahu kau sedang berbohong atau tidak. Lagian mata mu itu menyiratkan rasa kagum jika sedang menatap Key..." goda Sergia dan berhasil membuat wajah Alvian bertambah merah


"Kalian...argghh.." seru Alvian kemudian dia berlalu meninggalkan teman-temannya yang sedang menertawainya


"Sepertinya dia marah pada kita.." seru Alina


"Biarkan saja, dia memang seperti itu.." sahut Sergia


Sementara Alvian sudah berada di lorong menuju asramanya, ditengah perjalanan dia berpapasan dengan Key.


"Pagi Alvian.." seru Key dingin menyapa Alvian


Alvian menatap Key "Pa..pagi Key.." sahutnya gugup membuat Key menatap bingung padanya


"Ada apa dengan mu..?"


"Aku...."


"Alvin, jangan marah pada kami, seharusnya kau marah pada kak Zou dia yang telah memberitahu kami..." teriak Alina keras memotong ucapan Alvian dan membuat Pria itu kesal setengah mati


"Alvin, aku minta maaf ya..." seru Zou


Mereka tidak menyadari keberadaan Key di samping Alvian.


"Kalian kenapa .?" tanya Key dingin membuat mereka menoleh terkejut pada Key kecuali Alvin


"Key, sejak kapan kau disitu.." seru Alina menggaruk tengguknya salah tingkah


"Dia sudah sedari tadi disini.." seru Alvian membuat ketiga orang yang baru sampai tadi membulatkan matanya terkejut


"Yang mulia putri Emerald aku membawa pesan dari Draka.." seru seekor burung merpati yang hinggap di vertilasi.


"Kemarilah.." seru Key membuat burung itu terbang dan hinggap di bahu Key


"Merpati..?" seru Zou bingung


Mereka menatap Key dan burung merpati itu dengan tatapan bingung.


'apa Key sedang berbicara dengan merpati itu?" pikir mereka


"Pesan apa yang kau bawa..?"


"Draka mengatakan jika dia melihat monster yang mirip sapi mengamuk dan mengacaukan desa yang mulia.."


"monster sapi...?" tanya Keisya bingung


"Benar yang mulia.."


"Emma..." seru Key dingin dengan nada pelan tapi masih terdengar oleh temannya


"Emma? Siapa Key..?" seru Zou


Key menatap Zou dan yang lain bergantian "Bukan siapa-siapa.."


Key pun berteleport dan menuju desa yang dikatakan oleh si burung merpati.


"Mau kemana dia...?" seru Alina


"Tidak tahu..." ketus Alvian


"Apa kau masih marah pada kami...?"


"Pikir saja sendiri..."


"Oh ayolah, Alvin kami hanya becanda..." seru Zou terkikik geli


***


"Ayo-ayo, hancurkan semuanya.." seru Emma pada monster sapi yang sedang mengamuk


Dia duduk di atas pohon seolah-olah sedang menonton sebuah flim action, melihat monster eksperimen-nya mengamuk.


"Huh.. Senang rasanya melihat mu bisa mengacaukan para penduduk disini.."


Key tiba di desa tersebut, dia menggunakan kekuatan transparannya, agar tidak ada orang yang melihat dan menyadari kedatangannya.


Di tatapnya sekitar desa yang telah kacau itu hingga tatapannya beralih pada seorang gadis yang memakai jubah hitam tengah duduk diatas pohon sambil tertawa senang.


"Sudah ku duga, ini pasti ulahnya.." seru Key memandang tajam pada gadis berjubah yang tidak lain adalah Emma.


Emma menyadari ada yang memperhatikannya, dia pun mulai mencuri-curi pandang terhadap sekitar dan dia mengkerutkan dahinya bingung karena tidak ada siapa pun disekitarnya.


"Aku yakin, ada yang memperhatikan diriku sedari tadi. Tapi siapa? Aku tidak melihat siapa pun disini..." seru Emma


Key pun mengalihkan perhatiannya dari Emma dan fokus untuk mengalahkan monster sapi milik Emma.


Masih dengan kekuatan Transparannya, Key menendang monster itu hingga terpental dan menabarak pohon hingga pohon itu rubuh. Monster sapi itu mendengus seperti banteng dan menerjang ke segala arah tanpa tahu dimana musuhnya berada.


Key kembali menendangnya dan menyerangnya menggunakan kekuatan elementnya. Dia menggunakan element tanah untuk menjebak si monster sapi agar tidak bisa bergerak. Key melanjutkan serangannya dengan menggunakan element petir, dia menyambar monster itu dan berhasil melukai si monster.


Emma yang melihat monster sapi miliknya diserang oleh musuh yang tidak terlihat pun marah dia menyerang ke arah yang menurut instingnya benar.


Emma melepaskan sihir kristalnya dan melemparkannya ke arah belakang monster itu, beruntung Key dapat menghindar dengan sempurna.


"Dia bisa menebak dimana diriku berada.." seru Key pelan


"Aku harus bisa menghindari serangan es-nya, jangan sampai aku ikut menghilang seperti warga lainnya..." lirih Key


Key pun melepaskan serangan apinya pada Emma dan berhasil ditangkis oleh gadis itu.


"Perlihatkan wujudmu bajingan, jangan hanya berani menyerang dari belakang.." seru Emma berteriak marah


"Belum saatnya gadis kotor seperti mu melihat wujudku.." seru Key membalas ucapakan Emma dan berhasil membuat gadis berjubah hitam itu meradang marah


"Jangan sombong kau..." serunya marah


Key tertawa sinis, lalu dengan gerakan yang cepat dia memenggal kepala monster sapi yang masih terperangkap pada element tanahnya.


Emma benar-benar marah karena eksperimen yang dia buat dan dia anggap lebih hebat dari pada eksperimen-nya yang sebelumnya berhasil dikalahkan oleh seorang gadis yang tidak dia ketahui wujudnya.


"Tugas ku sudah selesai.." seru Key membuat Emma mengalihkan tatapannya ke tempat dimana Key berada sesuai feeling-nya.


Key menghilang begitu saja, Emma menatap monster sapi hasil eksperimennya yang telah gagal.


"Kau sungguh mengecewakan, padahal aku sudah mengira jika kau lebih hebat dari pada hasil eksperimen ku yang lainnya..." seru Emma datar


"Dan siapa orang itu? Aku yakin dia termasuk penduduk white land ini..." seru Emma kesal


Emma pun memilih kembali ke wilayah black land, dia akan menyiapkan eksperimen yang jauh lebih hebat dan lebih kuat lagi dari pada ini.


"Aku akan kembali lagi, lihat saja, kalian tidak akan bisa hidup dengan tenang..." seru Emma sebelum benar-benar masuk ke dalam portal.


Selesai....


Jangan lupa vote dan comment ya gays.


Terima kasih karena sudah mau membaca ceritaku.


Merci.