
17 tahun kemudian....
Putri Keisya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbakat namun dingin. Diusianya yang sekarang dia mampu mengendalikan sihirnya bahkan dia belum masuk ke Academy khusus bangsawan.
Di negeri magical seorang gadis akan belajar di Academy saat berumur 17 tahun. Di sana mereka akan diajarkan mengenai berbagai hal seperti berlatih pedang dan mengendalikan element, melatih sihir dan etika menjadi seorang gadis bangsawan.
Putri Keisya sendiri sangat membenci pelajaran etika. Dia lebih memilih latihan berpedang dari pada melakukan hal-hal yang menurutnya konyol. Bahkan putri Keisya tidak suka keramaian dan dia juga tidak suka datang berkunjung ke kerajaan lain.
Sedangkan Ratu Azusa hanya bisa menghela nafas melihat tingkah putri tunggalnya.
Seperti saat ini, kerajaan Emerald terlihat ramai karena banyak Raja dan Ratu dari berbagai bangsa di negeri magical mendatangi istana kerajaan Emerald. Ada juga para putri dan pangeran serta para bangsawan lainnya yang berlalu-lalang disekitar ruang pertemuan.
Mereka semua ingin mengadakan rapat bulanan sekaligus meminta stempel kerajaan Emerald untuk formulir pendaftaran di berbagai Academy di negeri magical. Sudah menjadi ketentuan bagi seorang putri atau putra bangsawan yang ingin bersekolah di Academy harus memakai stempel kerajaan Emerald yang menandakan jika anak tersebut mendapat ijin dari Raja Argus untuk bersekolah di Academy.
Sedangkan untuk para rakyat, putra putri mereka harus mendapatkan stempel dari Raja kerajaan dimana mereka tinggal.
"YANG MULIA RAJA ARGUS DAN YANG MULIA RATU AZUSA MEMASUKI RUANGAN.." teriak pengawal
"SALAM YANG MULIA RAJA ARGUS DAN YANG MULIA RATU AZUSA, SEMOGA DIBERKATI KEPEMIMPINANNYA.." teriak semua orang sambil menunduk hormat menyambut kedatangan Raja Argus dan Ratu Azusa
"BERDIRILAH.." seru Raja Argus
Setelah itu, Raja Argus dan Ratu Azusa pun menduduki singgasana. Raja Argus menatap semua orang yang menghadiri rapat. Kali ini mereka akan membahas tentang sebuah bendungan yang hancur karena perbuatan penyihir hitam.
"Bagaimana dengan bendungan desa bunga apakah sudah selesai..?" tanya Raja Argus dingin
"Pembangunan berjalan lancar yang mulia mungkin sekitar dua minggu lagi bendungan itu akan selesai.." sahut seorang bangsawan dari negeri bunga
"Lalu, apakah rakyat desa bunga kekurangan bantuan..?" tanya Raja Argus lagi
"Tidak yang mulia. Para rakyat tidak kekurangan bantuan sama sekali.." sahut seorang bangsawan wanita
"Baiklah, bagaimana dengan yang lain..?" tanya Raja Argus sambil menatap perwakilan dari berbagai bangsa
"Yang mulia.." seru seorang perwakilan dari bangsa Mermaid
"Katakan ada apa..?" seru Raja Argus menatap perwakilan itu tajam
"Yang mulia lautan di sebelah barat kerajaan Oceana tiba-tiba saja berubah menjadi hitam dan sudah banyak rakyat mermaid yang mati ketika bersentuhan dengan air itu.." seru perwakilan itu dengan serius
"Berubah menjadi hitam dan rakyat mermaid banyak yang mati..?" seru Raja Argus mengulang kalimat si perwakilan
"Benar yang mulia.."
"Bagaimana awalnya, mengapa bisa berubah menjadi seperti itu..?" tanya Raja Argus
"Kami tidak tau yang mulia. Tapi, seorang rakyat pernah melihat ada gadis yang memakai jubah hitam melempar sesuatu ke dalam laut yang mulia.."
"Dari mana asal gadis itu..?" tanya Ratu Azusa lembut
"Kami juga tidak tau yang mulia Ratu, setelah melemparkan sesuatu tersebut gadis itu langsung menghilang.."
Raja Argus memijit dahinya pelan. Air laut yang berubah menjadi hitam bukanlah hal yang mudah diselesaikan, apalagi sudah banyak mermaid yang mati.
"Katakan pada raja Oceana untuk memberikan perintah pada rakyat mermaid agar tidak mendekati laut sebelah barat sampai aku menemukan cara menetralisir racunnya.." titah Raja Argus dingin
"Baik yang mulia.."
"Apa ada lagi yang lain..?" tanya Raja Argus
"Perampokan di desa matahari sudah semakin meresahkan warga yang mulia
Raja.." seru seorang bangsawan dari desa matahari
"Aku akan mengirimkan beberapa prajurit senior untuk berjaga-jaga di gerbang desa matahari.." seru Raja Argus
"Terima kasih yang mulia Raja.."
Berbeda dengan di ruang rapat dimana semua orang sibuk mengatakan keluh kesahnya pada sang Raja. Di taman istana terlihat sepasang remaja yang sedang duduk di kursi besi yang terdapat di sana.
"Kak, kakak tau tidak Ayah mendaftarkan kita di Academy mana..?" seorang gadis berambut coklat panjang bertanya pada kakaknya
"Entahlah Alin, kakak juga tidak tau. Ibu tidak mau mengatakannya.." seru sang kakak dengan kesal
"Begitu yah. Alin berharap Ibu dan Ayah akan mendaftarkan kita di Academy Magica yang terbaik itu.." seru Alina
"Kalau begitu harapan kita sama, kakak juga berharap bisa masuk Academy itu.." sahut Arzou
"Apa kalian juga akan masuk ke Academy Magica..?" tanya seseorang menyambung percakapan dua beradik itu. Mereka berdua pun langsung menoleh ke arah datangnya suara tersebut
"Pangeran Alvian, putra mahkota dari kerajaan Criolous.." seru Arzou menatap pangeran Alvian dengan heran
"Kau belum menjawab pertanyaan ku pangeran Arzou.." seru Alvian dengan kesal
"Kami tidak tau akan masuk ke Academy Magica atau tidak pangeran karena Ibu Ratu tidak memberitahunya.." sahut Alina santai
"Kau putri Alina bukan..?" tanya pangeran Alvian menatap Alina yang sudah menjawab pertanyaannya
"Iya itu aku.." sahut Alina tersenyum lebar
"Senang juga bisa bertemu dengan
pangeran.." sahut Alina
"Panggil saja Alvian, aku risih jika harus dipanggil dengan embel-embel pangeran padahal yang memanggil ku juga seorang pangeran.." seru Alvian bercanda yang disambut anggukan oleh Alina dan Arzou
"Kalau begitu hal itu pun berlaku untuk kami. Kau tidak boleh memanggil ku dengan embel-embel pangeran.." seru Arzou
"Tentu saja.." kekeh Alvian
"Alvian..." teriakan seorang gadis dari arah belakang Alvian membuat ketiga orang yang berada di sana langsung menutup telinga
"Aduh, telinga ku bisa tuli karena teriakan membahana mu itu Gia.." seru Alvian kesal sambil menggosok telinganya
"Kemana saja kau hah.. Aku mencarimu sejak tadi dan kau malah enak-enakan mengobrol disini bersama mereka.." ketus gadis yang di panggil Gia oleh Alvian tadi
"Ah, maaf Gia aku lupa.." sahut Alvian meringis
"Aku akan memaafkan mu jika kau memberiku seekor kijang segar.." seru Gia dengan mata berbinar saat membayangkan lezatnya darah kijang
"Kau menyuruhku berburu..?" seru Alvian menatap Gia tidak percaya
"Tentu saja, kau mau aku memaafkan mu
kan?"
"Baiklah aku akan berburu untuk mu selepas pertemuan ini selesai.." sahut Alvian pasrah
"Aku tunggu.." seru Gia yang di balas anggukan pasrah dari Alvian
"Gia perkenalkan mereka teman baruku.." seru Alvian
Gia menatap kearah Arzou dan Alin lalu mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan nama ku Sergia Lusionna De Vallen. Aku berteman sejak kecil dengan Alvian.."
"Nama ku Arzou Alexander Apollous dan ini adikku Alina Caroline Apollous.." sahut Zou membalas uluran tangan Gia
"Salam pangeran dan putri kerajaan
Apollous.." seru Gia menunduk hormat
"Tidak perlu terlalu formal Gia, kau bisa memanggilku seperti kau memanggil Alvian." seru Arzou
"Ah, baiklah kalau begitu.."
"Tubuh mu sangat dingin.." seru Alina tiba-tiba
"Tentu saja, Gia itu Vampir.." sahut Alvian
"Oh pantas saja. Apa kau sama seperti Vampir lain yang menghisap darah penyihir dan manusia..?" tanya Alina
"Tidak, aku tidak pernah meminum darah manusia atau penyihir karena aku adalah Vampir vegetarian.." sahut Gia
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang memperhatikan mereka. Siapa lagi jika bukan putri mahkota kerajaan Emerald.
"Membosankan.." batin putri Keisya lalu menghilang dalam sekejap mata
Sergia mendongak menatap jendela besar tempat Keisya berdiri memperhatikan mereka tadi.
"Ada apa Gia..?" tanya Alin
"Aku merasakan ada yang memperhatikan kita dari jendela besar itu.." seru Gia
"Tidak ada apa-apa disana Gia, mungkin itu hanya perasaan mu saja.." sahut Arzou yang ikut melihat ke arah jendela
"Mungkin saja.."
"Bagaimana jika kalian berdua ikut saja ke kerajaan Vampir menemaniku untuk
berburu..?" seru Alvian sambil menatap Alin dan Arzou bergantian
"Apakah tidak masalah..?" tanya Alina
"Tidak kok, kalian aman disana.." sahut Gia
"Baiklah kami akan ikut, tapi kami harus ijin dulu pada Ibu dan Ayah.." sahut Arzou
"Baiklah.." sahut Alvian
"Oh iya kalian pernah liat gak sih putri mahkota kerajaan Emerald ini..?" tanya Alvian
......
Jangan lupa Vote yah..