
Tak ada yang tau seperti apa perasaan pangeran Alvian saat ini. Tatapan mata yang kosong menatap hamparan taman istana Emerald. ia jauh lebih baik dari jendral wilayah black land itu tapi mengapa yang mulia putri Keisya tak bisa melihatnya.
"Akan aku tunjukkan kalau aku lebih baik daripada jendral itu, lihatlah yang mulia putri Keisya aku akan membuktikannya.. " gumam Alvian dengan tatapan tajam serta tangan yang terkepal disisinya
Sementara itu di depan istana sudah ada kereta kuda yang datang dengan lambang kerajaan Criolous. Arzou, Alina dan Sergia yang melihatnya pun tak bisa untuk tidak terkejut.
"Apa benar Alvian akan pulang hari ini bukanlah kita akan mengadakan rapat dengan yang mulia putri mengenai wilayah black land.. " seru Alina bertanya pada Arzou dan Sergia
"Entahlah aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.. " sahut Sergia sambil memijit pangkal hidungnya
"Mungkin ini ada hubungannya dengan yang mulia putri dan jendral itu. Seharusnya Alvian tau tidak semudah itu untuk mendapatkan hati seorang Keisya.. " batin Arzou
Disaat ketiga temannya masih bergelut dengan pikiran mereka, dari arah yang berlawanan terlihat Alvian yang berjalan dengan tegap dan langkah yang tegas. dia pun berjalan melewati ketiga temannya tanpa berniat untuk menyapa. Sebelumnya dia sudah berpamitan pada Raja dan Ratu kerajaan Emerald namun tidak dengan Keisya.
"ALVIAN.. " teriak ketiga temannya bersamaan membuat Alvian menghentikan langkahnya
"Ada apa..? " sahutnya tanpa berbalik
"Ada apa denganmu, hari ini kita masih memiliki urusan dengan yang mulia putri tapi kenapa kau ingin pergi.. " seru Sergia mengeluarkan unek-uneknya
"Kalian tidak perlu tau jawabannya dan aku tidak akan menghadiri rapat itu.. " serunya ketus
"Tidak bisakah masalah pribadi ini disingkirkan Alvian. Kau seorang pangeran dan keselamatan rakyat jah lebih penting dari pada masalah pribadimu dengan yang mulia putri.. " kini Arzou membuka suaranya dan itu membuat bingung kedia gadis yang berada disampingnya
"Apa maksud kakak..? " tanya Alina
"Kau tidak tau apa-apa Zou jadi berhentilah mengatakan omong kosong.. " seru Alvian lalu membalikkan badannya kemudian menatap tajam Arzou
"Sebenarnya ada apa ini mengapa hanya aku dan Alina yang tidak tau apa-apa.. " seru Sergia
"Bukan apa-apa.. "
"Alvian mencintai leader.. "
Alvian dan Arzou menjawab dengan dua kalimat yang berbeda dan itu lagi-lagi membuat kedua gadis itu terkejut.
"Apa.. " seru Alina tidak percaya
"Kau pasti bercanda.. " sahut Sergia sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Itu memang kenyataannya.. " sahut Arzou singkat dengan senyum miringnya
"Ku kira itu hanya lelucon pada waktu itu.. " lirih Alina yang dibalas anggukan kecil dari Sergia
"Tapi kau perlu tau Al, tidak semudah itu mendapatkan yang mulia putri Keisya dan kau lihat bahkan usaha kita yang sebagai rekannya saja belum bisa membuat dia membuka hatinya pada kita. tapi jendral itu mampu melakukannya dan kurasa mereka memang pantas bersama. Itu sudah terlihat jika yang mulia putri hanya akan menghangat jika bersama jendral itu.. " jelas Sergia panjang lebar
"Sergia benar Alvian, kau tidak seharusnya memiliki perasaan pada yang mulia putri, kita ditakdirkan hanya sebagai rekan bukan sebagai pasangan yang saling mencintai." sahut Alina pula
"Kubur perasaanmu itu Alvian suatu saat nanti kau akan mendapatkan gadis yang benar-benar mencintaimu.. " seru Arzou kemudian melangkah pergi meninggalkan Alina, Sergia dan Alvian di depan gerbang
Alvian terlihat diam dan tidak bisa membantah perkataan teman-temannya, dia menunduk sedih saat melihat respon temannya yang satupun tak ada yang mau mendukungnya untuk bersanding dengan leader mereka.
Key benar-benar muak melihat tingkah Alvian yang sama sekali tidak masuk akal itu, seharusnya dia sudah tau konsekuensi menjadi rekannya.
"Kehilangan satu rekan bukan masalah yang berarti.. " seru Keisya sinis
............
Saat ini Zou tengah duduk di pinggir danau diluar kerajaan Emerald dia melempar batu ke dalam danau berulang kali. suara yang dihasilkan oleh batu yang terkena air itu menjadi musik penenang buatnya. Pikirannya masih melayang mengenai permasalahan Alvian dan Keisya.
"Siapa sebenarnya jendral itu mengapa dia bisa mengambil hati leader tanpa harus bersusah payah seperti kami rekan-rekannya.. " lirih Arzou menghela nafas pelan
"Sepertinya kau ada masalah.. "
perkataan itu membuat Zou menoleh kebelakang dan menemukan jendral Danzo yang berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan disini.. " ketus Zou tidak suka
"Tidak ada, aku hanya melihat mu lalu datang menghampiri mu.. " sahut Danzo lalu menampilkan senyum tipisnya "boleh aku duduk..? " tanyanya
"Silahkan saja.. " sahut Arzou
"Huft, aku ingin minta maaf jika kedatanganku diantara kalian membuat banyak masalah.. "
"Itu memang benar.. "
Danzo tersenyum tipis "Kau tau, aku jauh lebih dulu mengenal Keisya dibanding kalian, bahkan lebih dulu aku daripada Draka si naga merah itu.. "
Zou mengalihkan tatapannya ke arah Danzo dia begitu penasaran seberapa dekat leadernya dengan pria ini.
"Dimana kau mengenalnya..? "
"Disuatu tempat yang sama sekali tidak pernah ada orang yang tau. Pertama kali aku bertemu dengannya saat gadis itu berusia 4-5 tahun, tidak ada yang mau berteman dengannya ataupun mengajaknya berbicara. Saat itu aku yang sedang berlatih pedang melihatnya untuk yang pertama kalinya dan akulah orang pertama yang mengajaknya berteman. Kau tau pangeran Arzou, sejak saat itu banyak hal yang sudah ku lakukan demi bisa membuatnya tertawa dan menampilkan ekspresi lain di wajahnya. Bahkan untuk membuatnya berbicara lebih dari satu kata saja nyawa ku pernah hampir terenggut dari tubuhku.. " cerita Danzo mengenang pertemuan pertamanya dengan Keisya sewaktu mereka masih menjadi Kania dan Andrew
Arzou bergidik ngeri saat mendengarnya namun dari tatapannya terlihat sorot kagum pada pria yang kini duduk di sampingnya.
"Perlahan demi perlahan dia mulai bisa berinteraksi denganku, dia tak lagi kaku bahkan lebih sering tertawa jika bersama denganku. dia melakukan banyak hal bersama ku dan yang perlu kau tau posisiku juga sama seperti dirimu pangeran, aku rekannya dan orang kepercayaannya.." lanjut Andrew
"Dia sangat percaya pada mu..? "
"Tentu.. "
"Bagaimana cara mendapatkannya..?"
"Tidak semudah itu untuk membuatnya percaya bahkan ratusan orang yang sudah berjuang bersamanya tidak mendapatkan kepercayaan penuh darinya.. " jelas Danzo menghembuskan nafas pelan
"Bahkan kami pun tidak mendapatkannya.. " lirih Arzou menunduk sedih
"Jangan menunduk seperti itu pangeran Arzou, kau tau Keisya sangat tidak menyukai orang yang gampang putus asa. Teruslah berjuang untuk mendapatkan kepercayaannya aku yakin kau mampu melakukannya.. " setelah mengatakan itu Danzo memilih untuk bangkit dari duduknya dan meninggalkan Arzou sendirian untuk merenungi ucapannya..
Merci gays...