The World Of The Magic

The World Of The Magic
Pertanda apa ini..?



Hutan white land terlihat berkabut sore ini. Tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada hutan itu kecuali seorang gadis yang tengah berdiri di dekat jendela dengan tatapan mata yang tajam.


"Yang mulia putri, saya mengantarkan cemilan yang anda inginkan.." seru seorang pelayan sambil menunduk hormat


"Hmm.." sahut Keisya dingin


Keisya melambaikan tangannya tanpa menoleh dan itu adalah pertanda bahwa si pelayan diperintahkan untuk meninggalkan kamarnya. Keisya berbalik badan dan segera duduk di meja yang diatasnya sudah disiapkan cemilan kesukaannya yaitu kue muffin dan ada segelas teh beraroma melati.


Dia menikmati hidangan itu dengan perlahan tapi tiba-tiba saja dia berdecih kesal saat penglihatannya menangkap pergerakan orang yang tidak di kenal memasuki hutan white land.


.....


"Seperti ada yang salah dengan hutan white land, tidak seperti biasanya hutan itu berkabut.." ucap seorang wanita berpakaian pelayan yang tengah bergosip dengan pelayan lainnya


"Ah, jangan-jangan itu pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak baik.." sahut pelayan lainnya


"Aku setuju dengan mu, biasanya hutan itu akan memberikan petunjuk jika akan terjadi sesuatu yang tidak baik seperti penyihir black land yang mulai memasuki wilayah kita.." sahut pelayan yang satunya


"Hustt, kalian jangan bergosip nanti jika ada yang mendengar kalian menyebar berita seperti itu kalian bisa di hukum.."


"Itu memang kenyataan, tadi aku tidak sengaja melihat hutan itu berkabut saat melewati pasar. dan yang paling mengerikan kabut itu sangat tebal hingga tidak bisa melihat pepohonan di hutan itu.." bisik pelayan


"Pertanda apa ini..?" batin Alina yang tidak sengaja mendengar perkataan pelayan itu


Alina pun bergegas pergi dari sana dan menuju kamar kakaknya. Dia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa hingga membuat Arzou ingin mengutuk adiknya yang selalu mengganggu waktu istirahatnya.


"Ada apa Alina? Mengapa mengetuk pintu seperti orang yang sedang dikejar-kejar penjahat.." ketus Arzou kesal


"Kak, tadi aku mendengar pelayan bergosip.."


"Mereka memang selalu bergosip sepanjang waktu.." sahut Arzou acuh


"Tapi ini berbeda kak, seorang pelayan melihat hutan white land tertutup kabut saat dia pergi ke pasar dan parahnya kabut itu sangat tebal melebihi tebalnya saat kita pertama kali ke hutan itu tanpa Yang mulia putri.." jelas Alina membuat Arzou yang tadi acuh dengan hal itu mendadak menatap sang adik dengan lekat


"Apa katamu..?" seru Arzou tidak percaya yang hanya di balas dengan anggukan kecil dari Alina


Dengan segera Arzou menarik Alina pergi menuju ruang tahta untuk berpamitan pada sang ayah dan ibunya.


"Pangeran Arzou dan Putri Alina memasuki ruangan.." teriak seorang pengawal penjaga pintu


"Salam ayahanda Raja dan Ibunda Ratu.." hormat Arzou dan Alina


"Berdirilah anakku, ada apa hingga kalian menghampiri ayah dan ibu..?" tanya Raja Denis


"Ayah, Ibu... Kami meminta ijin untuk meninggalkan istana beberapa hari karena ada hal yang harus kami lakukan bersama Yang mulia putri Keisya.." seru Arzou mewakili


"Apakah ini termasuk dalam tugas kalian menjaga negeri magical..? Jika iya maka kalian ku perbolehkan untuk pergi.." sahut Raja Denis


"Terima kasih ayahanda Raja atas ijinnya dan kami akan pergi hari ini.." sahut Alina


"Lakukan tugas kalian dengan baik dan utamakan rakyat dari pada diri kalian sendiri.." seru Raja Denis


"Baik ayahanda Raja, kami mengerti.." sahut Alina dan Arzou bersamaan


"Berhati-hatilah putraku Arzou dan putriku Alina, pulanglah dengan selamat.." seru Ratu Silva dengan berlinang air mata


"Kami berjanji Ibunda Ratu.." sahut Alina dan Arzou bersamaan


Setelah itu, mereka berdua pun bergegas pergi menuju hutan white land dengan menggunakan kemampuan teleportasi.


....


Pria itu menatap tak suka kearah gadis bertopeng itu yang sialnya dia tidak tahu identitas sang gadis.


"Itu bukan urusanmu gadis sialan.." serunya ketus


"Itu menjadi urusan ku saat kau menginjakkan kaki mu di wilayah white land.." seru gadis bertopeng itu dengan seringai yang tercetak jelas di bibirnya


Pria berjubah hitam yang tak lain adalah Jendral Danzo itu pun mengibaskan tangannya hingga mengeluarkan petir dan menyambar pohon tempat sang gadis bertopeng duduk.


"Hah, kau merusak pohonku.." seru gadis bertopeng kesal


Dengan cepat gadis bertopeng itu pun melompat turun dan terbang menggunakan sihir anginnya lalu melemparkan panah es ke arah jendral Danzo. Panah itu meleset karena Jendral Danzo menghindarinya dan mengenai pohon yang berada di sampingnya. Jenderal Danzo tersenyum miring kemudian melesat ingin menghantam tubuh gadis bertopeng itu. Namun, gadis itu menghindar dan membalas serangan jenderal Danzo dengan sebuah pukulan yang mengenai dada sang jenderal.


Jendral Danzo tertunduk menahan rasa sakit di dadanya. Tapi dia tidak ingin mengalah dia kembali menyerang gadis bertopeng dengan menggunakan bola api hitam yang memang dikuasainya tekniknya. Gadis bertopeng itu hanya tersenyum miring lalu dengan cepat menggunakan kekuatan controller untuk menghentikan serangan jendral Danzo lalu membuat serangan itu berbalik pada tuannya.


"Akhhhh..." teriak jendral Danzo saat api itu mengenai dirinya


"Bagaimana rasanya saat serangan mu malah berbalik menyerangmu.." seru gadis bertopeng itu dengan sinis


"Diam kau gadis rendahan, aku akan membalas mu berkali lipat saat perang nanti.... Dan ingatlah kami akan menyerang wilayah ini tepat saat bulan purnama diatas kepala.." setelah mengucapkan itu jendral Danzo menghilang


Perlahan pakaian gadis bertopeng itu berubah menjadi gaun berwarna coklat dan topeng itu pun menghilang digantikan dengan tampilan wajah rupawan sang putri dari kerajaan Emerald.


"Yang mulia putri anda tidak apa-apa..? kami mendengar suara pertarungan saat akan menuju kemari.." seru Alina saat sudah sampai di samping Keisya


"Tidak apa-apa.." sahut Keisya dingin


"Yang mulia sebenarnya ada apa, mengapa hutan white land berkabut seperti ini dan lagi kabut ini sangat tebal hingga menghalangi pandangan mata.." seru Arzou


"Ini adalah sebuah pertanda..." seru Keisya lirih


"Pertanda apa Yang mulia..?" tanya Alina


"Dimana Sergia dan Alvian, kita akan mengadakan rapat mengenai hal ini.." seru Keisya mengalihkan pembicaraan agar Alina tidak bertanya lebih banyak


"Ah mereka belum sampai Yang mulia, aku sudah mengabari mereka tadi.." sahut Arzou


"Bagus, kita akan mengadakan rapat di bukit takagama malam nanti. Jadi kalian bersiaplah mulai sekarang.." seru Keisya lalu menghilang dari hadapan Alina dan Arzou


"Kak, seperti ada yang aneh dengan perkataan Yang mulia putri Keisya.." seru Alina sambil menatap Arzou lekat-lekat


"Kau benar, dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita.." sahut Arzou


"Aku sangat takut jika terjadi sesuatu padanya, dia adalah leader kita, calon Ratu pemimpin negeri magical ini.."


"Kita akan berusaha untuk selalu berada di sampingnya Alina karena kita adalah rekannya.." seru Arzou menenangkan kegusaran adiknya


"Semoga saja ini bukan pertanda buruk bagi wilayah white land.." batin Alina


.....


"Mereka akan menyerang saat bulan purnama diatas kepala.." gumam Keisya sambil menghembuskan nafas kasar


"Sepertinya perang kali ini akan berlangsung lama terlebih ini adalah perang saudara. ckck, aku merindukan senjata-senjata modern ku untuk menghabisi semua orang di perang itu tapi sialnya aku tidak membawa satu pun kedunia ini..." seru Keisya berdecih kesal


"Tapi omong-omong mengenai perang kali ini entah mengapa aku merasa takut dan gugup secara bersamaan. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa diriku.." lirihnya sambil mengusap kasar wajahnya.