The World Of The Magic

The World Of The Magic
Janji...



Bukit takagama disitulah Alina, Arzou, Sergia dan Alvian berdiri, di depan gua yang pernah mereka masuki waktu pertama kali mengetahui kalau Keisya adalah leader mereka. Gua itu masih tertutup tapi mereka bisa merasakan kalau Keisya sudah berada di dalam. Tak lama gua itu pun terbuka dan menampilkan lorong-lorong gelap yang hanya di sinari oleh obor-obor yang menyala di sepanjang jalan.


Sergia menggunakan kemampuan mata vampirnya untuk membawa rekannya yang lain menuju ke tempat dimana Keisya berada.


"Salam leader.." sapa mereka kala sudah berada di hadapan Keisya


"Bangun dan segera duduk kita akan membahas strategi perang yang akan terjadi saat bulan purnama berada di atas kepala.." seru Keisya


"Astaga kenapa bisa secepat itu leader, bulan purnama akan terlihat sempurna tepat dua Minggu lagi.." seru Alvian


"Benarkah..?" tanya Alina terkejut


"Tentu saja.." sahut Alvian


"Sepertinya mereka sengaja memilih perang disaat bulan purnama terjadi, karena disaat itu bukan hanya mereka yang akan kita hadapi. tapi para werewolf yang berstatus Rogue pun akan bermunculan karena bulan purnama membuat kekuatan mereka meningkat drastis.." jelas Sergia dengan mata merahnya yang berkilat tajam


"Maka dari itu kita harus membuat strategi untuk menangani masalah ini. Strategi ini akan menjadi inti serangan kala berhadapan langsung dengan pasukan penyihir black land. Aku yakin gelombang pertama yang akan menyerang adalah para monster yang telah disiapkan oleh Emma.." seru Keisya panjang lebar


"Iya aku juga berpikir seperti itu leader, dan mungkin saja nanti para Rogue akan ikut bergabung dengan mereka.." seru Sergia


"Lalu, bagaimana menurut anda strategi yang akan kita rancang leader..?" tanya Alina menatap Keisya penasaran


Keisya mengalihkan tatapannya ke sepenjuru gua, entah kenapa kali ini dia ingin memakai salah satu strategi yang dia rancang saat masih menjadi Kania di dunianya. Strategi yang selalu dia pakai saat dia dan Andrew turun tangan langsung ke lapangan untuk memberantas musuh-musuhnya.


"Aku ingin...."


.....


"Surat apa itu Yang mulia Raja..?" tanya Ratu Azusa saat melihat Raja Argus memegang sepucuk surat saat memasuki ruang singgasana


"Surat perang Ratuku, ternyata Ergus benar-benar ingin memerangi kakaknya sendiri.." lirih Raja Argus pelan


"Bersabarlah Yang mulia, hamba yakin putri kita bisa mengatasi masalah ini, kita serahkan semuanya pada Keisya.." seru Ratu Azusa sambil mengusap bahu sang suami


Ratu Azusa pun memeluk Raja Argus, dia sangat tau bagaimana perasaan suaminya saat ini. Adik yang selama ini sangat di sayanginya walaupun tidak pernah bertemu sejak tragedi pemilihan penerus tahta karena memilih pergi dari istana akibat kecemburuan kini mengibarkan bendera perang padanya.


"Baiklah, sebaiknya aku memang harus menyusun beberapa strategi untuk menyambut serangan adikku.."


"Lakukanlah Yang mulia karena anda adalah pemimpin negeri ini. lakukan yang terbaik untuk rakyat.." seru Ratu Azusa menyemangati suaminya


"Terima kasih Ratuku.."


"Kembali kasih Yang mulia.."


.....


Setelah mengadakan rapat singkat mengenai strategi apa yang akan mereka jalankan di peperangan nanti, Keisya dan rekan-rekannya menuju sebuah kedai makan. Kedai ini cukup terkenal dan kualitas makanannya pun terjamin sangat enak.


Kedai ini biasanya dikunjungi oleh para bangsawan dan Raja-raja juga para rakyat biasa. Kali ini mereka duduk di meja yang terletak di sudut.


"Kalian sering mendatangi tempat ini untuk makan..?" tanya Keisya


"Iya leader, disini makanannya sangat enak dan mereka juga tidak membeda-bedakan orang, siapa pun berhak datang untuk makan disini.." seru Alina senang dia merasa Keisya menyukai tempat ini


"Kalau anda sendiri bagaimana leader? apakah sering mendatangi tempat ini..?" tanya Alvian


"Hanya sesekali itu pun untuk mendapatkan informasi.." sahut Keisya tersenyum samar


"Informasi apa leader..?" tanya Sergia


"Informasi apa pun yang berkaitan dengan rakyat.." seru Keisya sambil mengendurkan bahunya acuh


Tak lama beberapa pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka.


"Terima kasih.." seru Keisya saat pelayan itu akan pergi


Pelayan itu pun tersenyum tulus "Sama-sama Yang mulia putri.."


"Wah, coba cium.. aroma makanan ini sangat wangi dan tatanannya juga membuat perutku lapar.." seru Arzou bersemangat


"Selamat makan..." seru Alina dengan mata yang berbinar-binar


Mereka pun menyantap makanan dengan penuh semangat. Namun, tidak dengan Keisya disaat seperti inilah firasat buruk yang sedari tadi menghinggapi hatinya kembali hadir.


Melihat tawa dan kebahagian rekan-rekannya membuat hati Keisya mencelos. Dia takut kalau suatu saat nanti dia tidak bisa menjaga senyum mereka untuk tetap merekah seperti sekarang.


"Leader, apakah makanan anda kurang lezat..?" tanya Alvian membuyarkan lamunan Keisya tentang perang yang akan terjadi


"Ah tidak, makanan ini sangat lezat.." sahut Keisya dengan senyum tipisnya tapi semua rekannya dapat melihat senyum itu


"Sepertinya itu benar, makanan leader sangat enak itu terbukti dari senyum yang tercipta di bibir leader walaupun itu tipis.." seru Sergia tersenyum senang


Keisya hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali memakan makanannya.


"Hah, aku kenyang sekali.." seru Alina


"Tentu saja, kau menghabiskan banyak makanan.." seru Alvian sinis


"Perutku tidak bisa menolak kelezatan makanan ini Al, jadi jangan menyudutkan ku seperti itu.." seru Alina kesal


"Ya ya ya terserah mu saja putri Alina.." sahut Alvian malas


"Sepertinya untuk beberapa hari ini kalian lebih baik tinggal di istana Emerald. ini akan memudahkan kita untuk merancang banyak taktik perang.." seru Keisya


"Baiklah leader kami akan tinggal di istana Emerald.." sahut Arzou


"Kalau begitu ayo pergi.." seru Keisya


Mereka pun menghilang dari kedai itu menggunakan teleportasi dan tiba di depan gerbang istana Emerald.


"Salam Yang mulia putri, Pangeran dan Putri.." seru pengawal sambil menunduk hormat lalu membuka pintu gerbang


Keisya dan rekan-rekannya pun masuk dan langsung menuju ruang singgasana dimana dia sangat yakin ayah dan ibunya masih berada disana.


"Salam Yang mulia Raja Argus dan Yang mulia Ratu Azusa.." sapa mereka sambil menunduk hormat


"Bangunlah nak.." sahut Raja Argus datar namun terlihat kelembutan di bola matanya


"Ayah, Key tau ayah sudah menerima surat itu jadi Key meminta ijin untuk mereka tinggal beberapa hari di istana kita.." seru Keisya


"Iya, ayah sudah menerima surat dari paman mu dan ayah akan mengijinkan mereka tinggal sementara di istana.."


"Terima kasih ayah.."


"Terima kasih kembali putriku.."


"Baiklah, kalian beristirahatlah di kamar masing-masing, beberapa pelayan akan memandu kalian menuju ruangan yang akan kalian tempati.." seru Keisya dan benar saja beberapa pelayan langsung datang dan memandu para pangeran dan putri menuju ruangan yang akan mereka tempati


"Ada apa ayah..?" tanya Keisya saat semua rekannya keluar dari ruangan


Raja Argus mengembuskan napas kasar kemudian turun dari singgasana. Dia berjalan pelan dan memunggungi Keisya dan juga Ratu Azusa.


"Benarkah perang ini akan terjadi..?" tanya nya lirih


"Ayah mau tidak mau perang ini akan terjadi, kita akan menyadarkan paman lewat perang ini.." seru Keisya pelan


"Bagaimana jika dia tewas di peperangan nanti.."


"Key tau ayah sangat menyayangi paman maka Key berjanji akan membawa paman pulang kepada ayah kembali.."


"Putriku.." lirih Ratu Azusa pelan


"Tidak perlu khawatir ibu, ini adalah janji seorang putri kepada ayahnya sekaligus janji seorang pemimpin kepada rakyatnya.." seru Keisya lalu menunduk hormat di hadapan Raja Argus dan Ratu Azusa


"Berjuanglah putriku, aku merestui segala keputusan mu.." seru Raja Argus dan Ratu Azusa bersamaan disertai senyum bangga menatap putri tunggal mereka..