The World Of The Magic

The World Of The Magic
Hampir selesai dan kembalinya mereka yang hilang..



Disana berdiri sosok gadis yang mengenakan topeng silver. dia membelakangi kedua Raja tersebut. Argus dan Ergus berdiri perlahan dan menatap tajam sosok yang berada tak jauh dari mereka.


"Beraninya kau.. " teriak Ergus marah


"Memangnya kenapa..? " dingin seolah tak tersentuh itulah jawaban yang di berikan


"Siapa kau..? " tanya Raja Argus penasaran pasalnya aura sosok itu begitu familiar


"Sebaiknya kalian tidak perlu bertengkar hanya karena masalah tahta. pangeran Ergus bercerminlah kenapa Raja Defron tidak memilih anda waktu itu. anda memang kuat tapi tingkah dan prilaku anda tidak mencerminkan seorang Raja... " Ergus menggeram marah saat sosok gadis bertopeng itu menceramahinya


"Berhenti bicara omong kosong.. " marah Pangeran Ergus


Gadis bertopeng itu menghempaskan tubuh pangeran Ergus hingga terpental jauh menabrak pohon. lalu gadis itu juga menyerangnya dengan bola-bola api hitam pertanda kekuatan gelap juga ada pada gadis tersebut.


"Jangan memotong perkataanku.. " geram gadis itu dengan mata yang berkilat merah bercampur gold


"Siapa kau sebenarnya, mengapa kau melukai adikku.. " seru Raja Argus marah dia juga menyerang gadis itu dengan serangan mematikan miliknya namun selalu bisa dihindari


"Masih membelanya hah? disaat dia sama sekali tidak memperdulikanmu..? " sinisnya


"Tentu saja dia adikku dan selamanya akan selalu seperti itu.. "


seketika pangeran Ergus terdiam mematung saat mendengar perkataan dari kakaknya Raja Argus. dia sama sekali tidak membencinya walaupun dirinya sudah berulang kali membuat Raja Argus marah bahkan hampir mer3ngguy nyawanya.


"Haha... naif sekali, kau yang tidak ingin menjadi Raja malah terpilih karena sifatmu yang bijaksana. namun, kau kehilangan sosok adikmu dan memusuhi mu. kau selalu sedih ketika malam telah tiba, kau selalu memandang ke arah perbatasan white land dan black land berharap adikmu pulang dan mau memerintah di Kerajaan bersama mu.. " sinis gadis itu lagi


Raja Argus begitu terkejut mendengar penjelasan gadis tersebut. selama ini tidak ada yang tau mengenai hal itu tapi mengapa gadis ini mengetahuinya dengan mudah pikirnya.


"Selesaikan masalah kalian dan akan kulihat dapatkah kalian berdamai setelahnya.. "


Usai mengatakan hal itu gadis bertopeng tersebut pun menghilang meninggalkan serbuk glitter dan dedaunan yang berterbangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jendral Danzo yang tak lain raganya sudah dimasukin oleh jiwa Andrew pun menatap peperangan yang begitu sengit. dia belum mendapatkan aba-aba dari Kania alias Keisya.


"ckck, lama sekali.. " gumamnya kesal


"Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin turun tangan.. "


Andrew berbalik dan menatap Keisya kesal. dia sudah menunggu sejak tadi tapi gadis itu baru saja tiba dengan wajah tanpa dosanya.


"Kau sangat lambat leader.." dengus Andrew


"Tentu, aku harus menyelesaikan perselisihan dia saudara terlebih dahulu.. "


"Lalu bagaimana dengan rencana kita..? "


"lakukan sesuai formasi andalan saat melakukan penyerangan ala Rose blood.. "


"Baik leader.. "


Diwaktu yang bersamaan pasukan dari white land sudah banyak yang tumbang. yang masih memiliki kekuatan hanya para vampir dan werewolf itu pun mereka sudah kelihatan lelah.


"Oh begitu.. " sahut suara berat yang berwibawa


mereka para rogue pun memandang tajam penuh hasrat membunuh ke arah pria tampan dengan jubah emasnya. postur tubuhnya yang tinggi, kulit putih bersih, rahang kokoh dan bibir tipisnya tersenyum miring.


"Ah alpha Darren ternyata, akhirnya setelah sekian lama aku menunggu inilah saatnya untuk mengalahkan alpha lemah sepertimu.. " teriak pemimpin rogue tersebut


"Bermimpilah untuk mengalahkan aku, karena aku adalah alpha king.. " bersamaan dengan itu terdengarlah gemeretak tulang yang bergeser dengan mengerikan disusul lolongan panjang sang alpha king yang memanggil pasukannya yang sudah di tentukan oleh sang pemimpin negeri Magical


Disebrang sana, Keisya yang berdiri di dahan pohon mendengar lolongan dari alpha Darrel pertanda sang alpha king itu sudah memulai aksinya.


"Tidak lama lagi semua akan selesai.. " lirih keisya


Keisya melompat turun dari pohon dan melesat menuju ke arah barat dimana disana sudah ada Emma yang berhadapan dengannya.


"Kau akan menerima akibatnya karena sudah bermain-main dengan ku putri keisya.. " seru Emma sinis di tangannya sudah ada bola listrik hasil eksperimennya


"Lakukan jika kau bisa mengalahkan aku.. " sinis Keisya dengan memancing amarah lawan itu membuat keuntungan tersendiri padanya


Emma menyerang Keisya dengan bola listriknya. Keisya hanya menghindar dan berupaya agar Emma masuk dalam jebakannya. Dia berniat ingin membunuh Emma agar bisa mengembalikan orang-orang yang mengulang akibat dari kekuatan kristal milik penyihir tersebut.


Bertukar jurus, saling menendang walaupun Keisya sudah terlihat terluka di bagian lengan karena terkena serangan Emma dan itu membuat gadis penyihir tersebut senang.


"Yang mulia gunakan kekuatan ku untuk menyerangnya karena kekuatanku tidak berpengaruh pada kekuatan nature banner.. " ucapan dari kalung hati safir itu pun membuat Keisya terdiam dan pelan-pelan mulai menyerap kekuatan si batu safir


Setelah dirasa cukup, Keisya pun menyerang tanpa takut. melihat Keisya yang menyerangnya dengan mudah membuat Emma panik.


"Bagaimana mungkin dian bisa menyerang ku disaat kekuatan protector ku masih aktif. Ini tidak bisa dibiarkan, jika begini terus aku bisa kalah.. " batin Emma kesal


Dengan kekuatan penuh Emma menggunakan kekuatan kristalnya untuk menghancurkan Keisya. namun, lagi lagi harus menelan kekecewaan karena Keisya bukanlah gadis bodoh yang tidak bisa menebak pola serangan lawan.


"Matilah Emma.. " setelah mengatakan itu Keisya langsung menebas kepala Emma dengan menggunakan kekuatan gabungan dari batu safir.


bunga-bunga berterbangan, berbagai kristal terlihat melayang di langit. perlahan namun pasti semua kristal yang melayang itu jatuh ke permukaan tanah kemudian memecah menjadi berkeping-keping. dari dalam kristal itu muncullah berbagai orang yang hilang secara massal dalam satu tahun terakhir di negeri Magical.


"Akhirnya mereka selamat.. " lirih Keisya


Sergia menetap kepingan kristal itu dengan mata berbinar dia menangkupkan tangannya yang mengepal.


"Yang mulia putri berhasil mengembalikan mereka.. " serunya dengan senang


Alina yang berada di sampingnya pun tak kalah senang dia sampai merangkul Sergia seolah lupa kalau mereka sedang berada di medan perang. melihat kedua gadis itu lengah seorang penyihir menyerang mereka namun di gagalkan oleh seorang gadis elf.


"Berhati-hatilah putri dan tolong jangan lengah berbahaya.. " seru chintya lantang


"Terima kasih chintya.. " seru Alina dan Sergia yang dibalas dengan anggukan dari chintya


gadis elf itu kembali maju ke medan tempur, dia menghilangkan auranya agar tidak ada dari pasukan musuh yang menyadari keberadaannya. Chintya berhasil membantai banyak musuh dengan kekuatan yang tidak bisa di pandang sebelah mata.


"Jangan mengecewakan ku.. " Kata-kata dari putri Keisya seolah menjadi motivasi yang membakar semangatnya ditambah dirinya juga ingin membalaskan dendam kaum elf yang telah di rendahkan oleh penyihir black land tersebut.