
Keisya pov..
Setelah dari ruangan bibi Rain aku pun kembali ke asrama. Di sana aku mendapati Sergia yang mengomeliku karena aku terlambat untuk melatihnya, karena suasana hati ku sedang tidak baik aku pun menyuruhnya berlibur. Walaupun dia sempat bingung tapi pada akhirnya dia menerimanya dengan senang.
Saat ini aku sedang berada di kamar ku, aku menutup mata untuk merekaulang kejadian masa lalu yang dialami ibuku dan bibi Rain.
Tak terasa air mataku menetes kala melihat betapa banyak siksaan yang diterima ibu dan bibi di rumah keluarga Adarnort. Karena tidak ingin melihat kepedihan itu lagi aku pun menyudahi kegiatan ku itu.
Tok... Tok.. Tok..
Aku melirik pintu kamarku yang diketuk ntah siapa yang mengetuknya, aku memutuskan untuk membuka pintu tersebut.
Keisya pov end..
"Ada apa..?" tanya Keisya saat melihat Alin yang berdiri di depan pintunya. Sudah bisa ditebak bukan kalau Alin lah yang mengetuk pintu kamar Keisya
"Apa aku boleh masuk? ada yang ingin aku tanyakan padamu.." ucapnya sambil tersenyum simpul
Keisya pun memiringkan sedikit tubuhnya bermaksud untuk memberikan Alin jalan.
Setelah Alin masuk ke kamarnya, Keisya pun segera menutup pintu dan berdiri di depan Alin yang sedang duduk di kursi rias Keisya sambil bersedekap dada.
"Ada apa..?" tanya Keisya mengulangi kembali pertanyaannya
"Hei, tadi aku tidak sengaja melihat mata mu sembab, apa kau menangis..?" tanya Alin memandang Keisya dengan teliti dan masih melihat bekas air mata di sudut mata Keisya
"Tidak.." sahut Keisya singkat dan mengalihkan tatapan matanya dari Alina
"Kau boleh bercerita padaku Key, sebuah masalah tidak baik disimpan sendirian.." saran Alina yang entah mengapa hari ini mendadak menjadi lebih dewasa
"Dan aku juga ingin meminta maaf dengan mu mengenai sifat ku yang selama ini kurang menyenangkan" sambung Alina sambil menunduk, dia malu dengan sikapnya yang tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang putri Raja
"Aku hanya kesal karena kau selalu bersikap dingin pada kami terlebih pada ku. Aku hanya ingin kau berteman dengan ku dan menerima semua sifat ku seperti Sergia.." ucap Alin mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan Keisya
Keisya lalu memandangnya "Sepertinya dia sudah menyadari sifatnya dan berani meminta maaf.." batin Keisya diam-diam tersenyum tipis
"Tidak apa-apa aku mengerti.." sahut Keisya dingin
"Kau mau memaafkan ku kan, aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi. Aku akan belajar bersikap layaknya seorang putri Raja.." ucapnya menatap Keisya dengan sendu
"Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau minta maaf..." sahut Keisya
Alin yang begitu senang pun langsung memeluk Keisya dengan senyum tulus yang mengambang di bibirnya.
"Akhirnya lega juga sudah meminta maaf padanya.." batin Alin yang mampu didengar oleh Keisya
"Jadi Key, ada apa? Mengapa kau
menangis..?" tanya Alin setelah melepas pelukannya
"Tidak, hanya masalah kecil dengan Miss Rain.." sahut Keisya
"Kau bertengkar dengan bibi mu..?" tanya Alina sambil mengangkat sebelah alisnya
"Tidak. Ini hanya masalah kecil mengenai keluarga kami.." sahut Keisya yang tidak sepenuhnya berbohong
"Begitu ya. Baiklah aku tidak akan ikut campur mengenai masalah keluargamu karena itu tidak sopan.." ucap Alin menepuk bahu Keisya pelan
"Kalau begitu aku keluar dulu ya, aku ingin membangunkan Sergia agar tidak telat ke cafetaria.." ucap Alin lalu beranjak dari duduknya menuju pintu
"Alin.." panggil Keisya menghentikan langkah Alina
"Iya.." sahut Alina
"Aku mau mengajarimu berlatih sihir dan mengendalikan element mu.."
Alin melongo mendengar perkataan Keisya yang tiba-tiba "Mak...maksud mu apa..?" tanyanya tidak percaya
"Aku mau mengajari mu berlatih sihir seperti Sergia" ucap Keisya memperjelas perkataannya
"Benarkah..?"
"Iya.."
"Aaahhh.. Aku sangat senang. Aku ingin memberi tahukan kabar baik ini pada Sergia dan kak Zou, terima kasih Key.." sahutnya senang
***
Di sebuah tempat tergelap di black land, nampak seorang pemuda yang sedang berdiri dengan raut wajah gelisah.
"Ada apa Reynand? Mengapa kau terlihat gelisah sekali? Apakah kau tidak menemukan anak-anak yang dikatakan yang mulia
Ergus..?" tanya seorang temannya bertubi-tubi
"Lalu apa yang kau gelisahkan..?"
"Ini karena gadis cantik itu.." sahut Rey dengan hembusan nafas kasar
"Hoho... Ternyata ini masalah cinta ya? Kau menyukai seorang gadis ternyata di Academy Magica.." ucap temannya yang bernama Danzo itu sambil tertawa geli
"Diamlah Danzo, ini bukan masalah cinta.."
"Lalu masalah apa..?" tanya Danzo bingung
"Gadis itu mengenaliku.."
"Mengenalimu? Bukankah kau sudah memakai nama samaran..?" tanya Danzo terkejut
"Iya, tapi ntahlah. Aku tidak tahu dari mana dia mengetahui namaku yang sebenarnya.."
"Apa kau tidak mencari tahu identitas gadis itu? Ini bisa menjadi bumerang tersendiri bagimu.."
"Aku sudah mencarinya. Tapi tidak ada yang istimewa di semua data gadis itu.."
"Ini sangat sulit jika tidak ada petunjuk.."
"Iya, kali ini kau benar Danzo.."
Keheningan tiba-tiba merayap di tengah mereka berdua, tidak ada yang ingin membuka percakapan lagi. Danzo tidak berani bertanya lebih pada Rey dikarenakan pemuda itu sedang dalam masalah akhir-akhir ini.
"Kapan kau akan membawa anak-anak yang berjiwa pemberontak itu..?" tanya Danzo memecah keheningan di antara mereka hanya itu yang terucap dari bibirnya
"Secepatnya.." sahut Rey menyeringai
***
"Alina Carolina Apollous, putri bungsu kerajaan Apollous dengan kekuatan es dan senjata katana benar..?" ucap Keisya pada Alina
Kini Keisya, Alina dan Sergia berada di hutan white land untuk melatih sihir Alina.
"Benar.." sahut Alina
"Aku ingin kau membekukan sebagian pohon disini selama 5 menit, apa kau bisa..?" tanya Keisya
"Aku akan berusaha..."
"Gevries.." ucap Alina sambil merentangkan tangannya seketika beberapa pohon sudah hampir membeku
"Sergia, kontrol Alina agar dia tidak berhasil membekukan pohon-pohon itu.." ucap Keisya
"Tapi kenapa..?" tanya Sergia terkejut
"Jangan banyak bertanya, lakukan saja.."
"Baiklah.."
"Nie beweeg nie.." seru Sergia
Sebuah mantra dengan lancar terucap dari bibir Sergia membuat Alina yang hampir membekukan sebagian pohon sesuai perintah Keisya menjadi tidak bisa bergerak.
"Apa..apa yang terjadi.." ucap Alina bingung lalu matanya melihat ke arah Sergia yang menggunakan kekuatannya untuk mengontrol dirinya
"Apa yang kau lakukan Gia, mengapa kau mengontrolku.." ucap Alin dengan kaku karena tidak bisa bergerak
"Fokuskan pikiran mu Alin, dan kau Sergia tetap kontrol Alin.." ucap Keisya memberi aba-aba
Alin terengah-engah karena kekuatan Sergia yang begitu kuat mengontrol dirinya.
Saat dirasa sudah cukup dengan latihan hari ini Keisya pun menyuruh Sergia untuk berhenti mengontrol Alin.
"Key mengapa kau menyuruh Gia mengontrolku padahal tadi aku hampir bisa membekukan pohon-pohon ini.." ucap Alina dengan kesal
"Itu karena aku ingin menguji kekuatan Sergia.." sahut Keisya santai
"Ah iya Key aku mulai bisa mengontrol tubuh seseorang.." kata Sergia menimpali dengan bahagia
"Itu bagus, dan karena kau sudah bisa mengembangkan sihirmu, mulai besok aku tidak akan mengajari mu lagi.." ucap Keisya dengan nada dingin membuat Sergia terkejut
"Hah..mengapa begitu Key..?" tanya Sergia kaget
"Seperti yang sudah di sepakati aku hanya akan mengajari kalian mengembangkan sihir kalian, lalu untuk memperdalamnya kau bisa belajar dengan guru atau mempelajarinya lewat buku perpustakaan.." ucap Keisya panjang lebar..
Terima kasih sudah membaca..
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yah..