
Aku turun dari jet pribadiku dan menatap sekeliling ku dengan tatapan tajam. Banyak pasang mata yang menoleh ke arah ku dan Drew.
Yah, aku dan Drew baru saja tiba di Indonesia. Setelah berkutat dengan semua masalah di Berlin, akhirnya aku bisa terbang ke Indonesia untuk membalaskan dendam ku pada seseorang di masa lalu.
"Mereka memperhatikan kita seperti tidak pernah melihat manusia saja. Risih sekali.." keluh Drew sambil merapatkan jaketnya dan menutup wajahnya dengan menggunakan masker
Aku dan Drew memang tidak mengenakan pakaian formal seperti biasa saat di kantor. Kali ini kami mengenakan pakaian santai, dengan aku mengenakan dress berwana putih selutut dan Drew mengenakan pakaian denim dan jeans serta jaket dan masker.
"Abaikan saja..." ucapku lalu aku pun pergi sambil menarik koperku menuju mobil Ferarri yang sudah menunggu di sudut bandara
Setelah aku dan Drew masuk ke dalam mobil, mobil itu pun melaju dengan kecepatan standar meninggalkan bandara.
Baru pertama kali ini aku menginjakkan kaki di negara ini dan menurutku negara ini tidak terlalu buruk.
Gedung-gedung bertingkat, jalan raya yang macet, polusi dimana-mana. Hal ini sama persis seperti Berlin, hanya saja pemerintah di Berlin sangat ketat hingga siapa pun yang melanggar peraturan akan mendapatkan hukuman tergantung berat atau tidak kesalahannya.
"Leader, Apakah kita akan ke markas terlebih dahulu..?" perkataan Drew membuyarkan lamunan ku yang sedang membandingkan Indonesia dengan Berlin
"Tentu saja, kita akan membahas masalah
ini." jawab ku
Sebenarnya, aku memang memiliki markas Rose blood di Indonesia hanya saja aku tidak pernah berkunjung. Bukan karena aku lepas tangan dengan markas itu hanya saja aku merasa semua anak buahku mampu mengatasi masalah disini dan aku hanya akan bekerja di balik layar saja.
Pemasukan senjata, obat-obatan dan bahan makanan lainnya selau terkirim dengan baik ke markas ini dan itu dilakukan setiap bulan sekali agar semua orang di markas ini hidup dengan baik dan layak.
"Leader kita sudah sampai.." seru seseorang yang menyetir mobil yang ku naiki
Aku mengangguk dan keluar dari mobil. Disana aku melihat semua orang penghuni markas itu berbaris rapi seolah sedang menunggu kami dan aku tau ini adalah ulah dari Drew yang mengatakan kedatangan kami.
"Selamat datang di markas cabang Indonesia Leader.." seru mereka serentak
"Hmm.. terima kasih.." sahut ku dingin dan melangkah dengan angkuh namun anggun
"Robbi bagaimana data yang sudah ku
minta..?" tanya Drew berjalan di samping Robbi
Robbi ini merupakan pengurus dari markas cabang Indonesia dan dia juga merupakan orang kepercayaan Dave.
"Aku sudah mengurusnya. Dan yah, dia memang mengubah identitasnya dan memboyong semua keluarganya untuk tinggal di Indonesia.." sahut Robbi
"Dimana tempat tinggalnya..?" aku pun tidak tahan untuk tidak bertanya
"Mereka tinggal di kota S Leader. Sekarang seorang mata-mata dari tim inti sedang mengawasi mereka.." sahut Robbi serius
Aku tersenyum miring dengan tangan mengepal.
"Kumpulan semua orang di aula kita akan membahas masalah ini secepatnya.."
Setelah mengatakan itu, aku segera pergi meninggalkan Drew dan Robbi.
"Menurutmu berapa persen keberhasilan kita dengan menggunakan kekuatan dari tim cabang Indonesia ini..?" tanya Drew pada Robbi yang membuat pria itu menatap tajam ke arahnya
"Jangan meremehkan kekuatan kami Andrew, aku tau kalau kekuatan tim Berlin lebih kuat
hanya saja kau tidak boleh meremehkan kami.." seru Robbi lalu pergi meninggalkan Drew dengan tangan mengepal
....
Sedangkan itu disebuah mansion yang sangat besar dan mewah terlihat seorang laki-laki tua yang sedang menatap luar jendela.
Matanya yang sayu menatap tajam ke arah sebuah pohon di mana disana seorang berbaju hitam tengah duduk sambil mengintai rumahnya.
Sebenarnya dia sudah mengetahui keberadaan laki-laki itu dua hari yang lalu saat dirinya tidak sengaja menatap ke arah pohon itu.
"Siapa dia..? Mengapa dia mengintai rumahku...?" pria itu bertanya-tanya sambil mengerutkan keningnya
Tak lama seseorang yang bertubuh besar dengan tato yang memenuhi kedua lengan kekarnya datang menghadap para pria tua tersebut.
"Tuan.." serunya sambil menunduk hormat
"Bagaimana, apa kamu sudah mengetahui siapa laki-laki yang ada disana..?" tanya Pria tua itu sambil menunjuk seseorang yang berada di atas pohon dengan dagunya
"Tuan Zero jika dilihat dari baju yang dia pakai terdapat lambang mawar hitam disana dan itu sudah membuktikan kalau mereka berasal dari organisasi Rose Blood Mafia.." seru pria yang berbadan besar itu pada tuan yang bernama Zero
"Rose Blood Mafia..? mengapa mereka mengintai keluarga ku, aku tidak pernah bersinggungan dengan mereka.." seru tuan Zero dengan tatapan bingungnya
"Saya juga tidak tau mengenai hal itu tuan. Tapi, sepertinya tanpa sengaja salah satu dari mereka telah kita singgung.." sahut pria bertato itu
"Aku tidak peduli mengenai hal itu. Tugasmu sekarang menjaga keluarga ku dengan ketat dan jangan biarkan mereka pergi tanpa pengawalan.." seru tuan Zero dengan tajam
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu.."
Tuan Zero hanya mengangguk dan kembali menatap ke arah luar lewat jendela yang sama. Dan saat dia menatap ke arah pohon itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
"Mengintai ku sama dengan menyerahkan nyawa kalian kepadaku.." gumam tuan Zero sambil menyeringai
"Dan aku menunggu tantangan perang dari kalian.." sambung tuan Zero dengan senyuman yang masih menyeringai
"Papa..." panggil seorang gadis belia menghampiri tuan Zero yang masih berdiri di tempat yang sama
"Ada apa sayang..? Apa kau butuh sesuatu..?" tanya tuan Zero dengan senyum hangatnya sambil mengelus rambut anaknya dengan lembut
"Papa bolehkah Sina pergi ke taman..? Sina sudah lama tidak pergi kesana.." seru gadis yang bernama Sina itu dengan tatapan memohon dan memelasnya
"Kau boleh pergi kesana nak tapi tidak untuk sekarang. Keadaan di luar sana belum aman bisa saja rival bisnis papa menyerang mu saat melihat dirimu sendiri tanpa Papa.." seru tuan Zero dengan tegas
"Tapi... tapi Pah Sina hanya ingin menikmati angin sore di taman dan Sina berjanji akan berhati-hati.." sahut Sini masih dengan wajah memohon
Tuan Zero menghela nafas panjang dan menatap putri bungsunya dengan tatapan lembut.
"Hah, Papa selalu saja kalah berdebat denganmu.Kau boleh pergi tapi kau harus membawa dua orang bodyguard untuk menjagamu.." seru tuan Zero akhirnya
"Baiklah tidak apa-apa yang penting Sina bisa pergi ke taman.." seru Sina sambil tersenyum lebar
"Terima kasih Papa.. Papa yang terbaik.." sambung Sina sambil berlari meninggalkan tuan Zero di ruangannya dengan senyum sendu
"Semoga kau selalu bahagia putriku.." lirih tuan Zero sendu
Terima kasih sudah membaca..
Jangan lupa tinggalkan jejak yah...