The World Of The Magic

The World Of The Magic
Peristiwa hilang massal



Raja Ergus menatap bengis ke arah jendral Danzo, dia baru saja mendapatkan kabar mengenai kematian panglima-nya Reynand.


"Mengapa kau tidak tahu jika Rey dan keluarganya di bantai..." bentak Raja Ergus marah sambil memandang tajam jendral Danzo


"Maaf yang mulia, saya tidak mendapatkan informasi mengenai hal ini.." jendral Danzo menjeda ucapannya sebentar


"Tapi dari beberapa pelayan yang selamat mereka mengatakan jika yang membantai panglima Rey dan keluarganya adalah seorang gadis dari Academy magica yang mulia..." sambungnya sambil menunduk takut


"Gadis dari Academy Magica.." seru Raja Ergus menyeringai


"Panggilkan aku Emma.." seru Raja Ergus memerintahkan seorang pengawal


Emma adalah seorang panyihir handal dari black land, dia mempunyai kekuatan kristal.


Tak butuh waktu lama, kini di depan Raja Ergus sudah berdiri seorang penyihir perempuan yang memakai jubah hitam.


"Ada apa yang mulia mencari saya.." seru Emma


"Aku ingin kau membuat kekacauan di wilayah white land.." seru Raja Ergus


"Kau boleh melakukan apa saja menggunakan kristal-kristal mu itu.."


"Wahh,, benarkah.." seru Emma senang


"Aku sangat senang, baiklah aku berangkat.."


Emma langsung menghilang dan akan memulai aksinya dengan menjadikan Academy Magica yang menjadi target pertamanya. Lalu disusul dengan desa-desa yang berada di wilayah white land.


Emma berdiri diatas pohon yang berada tidak jauh dari magica academy, sihir kristal miliknya mampu menembus barier yang melindungi Academy Magica.


"Aku akan mengubah kalian semua menjadi es dan kemudian duarrr menghilang hahah.." seru Emma sambil tertawa


Emma si gadis penyihir itu langsung saja melemparkan beberapa es berbentuk bulat ke arah barier academy. Beberapa detik kemudian, es yang tadi berbentuk bulat mengenai seorang murid dan murid itu terkurung dalam es kristal lalu es kristal itu pecah disertai dengan hilangnya si murid Academy Magica.


Beberapa murid juga mengalamai hal yang sama. setelah puas dengan apa yang dia lakukan di magica academy, Emma pun langsung menuju desa-desa untuk melakukan hal yang sama pada warga desa.


Banyak yang merasa ketakutan karena melihat peristiwa itu, bahkan sebagian dari para senior yang sedang menjalani misi juga terkena es kristal dan menghilang.


Semenatara di magica academy, semua murid yang selamat kini di masukkan kedalam ruang bawah tanah untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi hal serupa yang menimpa mereka.


Alina menatap satu persatu semua murid yang ketakutan, air matanya menetes "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka berubah menjadi es dan menghilang..?"


"Sudahlah Alin jangan menangis.." seru Zou menenangkan adiknya yang sedari tadi menangis


"Apa yang harus kita lakukan? sungguh aku tidak tahan melihat mereka yang ketakutan.." seru Sergia menimpali


"Kita ini pangeran dan putri negeri magical, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka. Aku merasa sangat tidak berguna.." lirih Alvian


Keisya yang sedari tadi diam tidak menggubris semua keluhan teman-temannya. Baginya berbicara dan mengeluh saja tidak cukup. Mata Keisya terpaku pada seekor semut yang sedang merayap di dinding beton.


"Mengapa kau melihat ku seperti itu.." tegur si semut saat dirinya merasa Keisya memperhatikannya sedari tadi


"Boleh ku tahu apa yang terjadi di luar? Apa yang menyebabkan Mereka berubah menjadi es dan menghilang..?" tanya Keisya dengan bahasa yang hanya dia dan si semut yang tau


"Kau tahu di depan sana ada seorang penyihir wanita berjubah hitam sedang mengamuk.."


"Mengamuk..?"


"Iya, dia melemparkan bongkahan es berbentuk bulat ke dalam barier dan mengenai beberapa murid. Ku rasa itu yang membuat murid-murid berubah menjadi es dan menghilang.."


"Terima kasih, untuk informasinya.." ucap Keisya


Pandangan Keisya menyapu semua orang yang berada di ruang bawah tanah. Lalu dia menepuk pundak Zou membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Aku ingin keluar, jika Miss Rain bertanya bilang saja tidak tahu.." seru Keisya dingin


"Tidak. Kau tidak boleh keluar dari sini. Bagaimana jika nanti kau juga menghilang..?" seru Zou tidak menyetujui keninginan Keisya


"Aku tidak selemah itu pangeran Zou.."


"Memangnya kau ingin kemana..?" seru Alvian


"Melihat situasi di luar.."


"Itu berbahaya.." seru Sergia


"Aku bisa mengatasi itu.."


"Kau, dengan apa kau mengatasinya..?" seru Alina


"Menyamar.."


"Itu sangat berbahaya. Bagaimana jika kau ketahuan dan mereka yang membuat teror ini menangkap mu? Atau kau menghilang seperti yang lainnya..?" seru Alina marah


"Menyamar itu sangat mudah Alina.." sahut Keisya dingin


"Dan aku sudah biasa melakukannya.." sambungnya lagi.


Keisya lalu menghilang membuat keempat remaja yang mengkhawatirkan dirinya menghela nafas pelan.


"Dia sangat keras kepala.." seru Sergia


"Dasar ceroboh.." seru Zou


Keisya pov


Aku keluar dari ruang bawah tanah untuk memastikan kondisi di luar academy.


Sengaja aku menggunakan kekuatan transparan ku agar tidak ada yang menyadari kehadiran diriku di luar academy ini.


Ku tatap sepenjuru academy, tapi tidak ada yang mencurigakan. Aku mulai mengumpati perkataan si semut tadi, ku rasa dia membohongi ku soal penyihir wanita berjubah itu. Tapi aku mulai ragu, karena menurutku hewan tidak mungkin berbohong, kecuali hewan itu adalah hewan yang hidup di wilayah black land.


Aku dilema.


Aku pun memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh, dan aku berteleport menuju hutan Asanka untuk menemui Draka. Aku yakin Draka pasti tahu sesuatu.


Saat tiba di Asanka, aku melihat Draka yang sedang terbang mengelilingi desa itu dia seperti tengah mencari tahu sesuatu.


Aku menghampirinya "Apa yang kau cari Draka..?"


"Yang mulia putri, aku sedang mencari penyebab orang-orang desa menghilang.."


"Apa kau tahu sesuatu Draka..?"


"Ya yang mulia putri, tadi aku melihat ada seorang wanita berjubah hitam melemparkan bongkahan es dan mengenai warga lalu warga itu menghilang seiring dengan es yang mencair..."


Penjelasan Draka sama persis dengan si semut yang ku tanya tadi. Berarti semut itu tidak berbohong.


"La la la la...."


Suara senandung seseorang mengalihkan perhatian ku, aku mencari-cari dimana suara itu berasal. Aku menyuruh Draka untuk pergi ke hutan white land agar tidak terjadi apa-apa padanya.


Setelah Draka pergi, aku pun kembali mencari suara senandung itu, hingga aku melihat seorang wanita berjubah hitam sedang duduk di atas pohon.


Aku yang masih transparan pun mencoba mendekati, tapi seperti ada barier yang melindunginya sehingga sangat sulit untuk didekati.


"Sial..."


Kulihat wajahnya lamat-lamat, mencoba menyimpan di memori ku.


"Akhirnya aku bisa bersenang-senang dengan kristal-kristal ku ini.." seru wanita itu membuat aku terkejut


Ternyata dia yang menjadi penyebab semua ini. Rahang ku mengeras, aku tidak bisa menyerangnya. Aku harus mencari jalan lain agar bisa menyerang dirinya.


Keisya pov end


Di ruang bawah tanah tengah terjadi kehebohan karena Miss Rain yang tiba-tiba bertanya soal Keisya.


Alin, Sergia, Zou dan Alvian tidak mau buka mulut. Mereka sudah berjanji pada Keisya untuk tidak memberitahu Miss Rain tentang kemana perginya Keisya.


"Jadi kalian tidak mengetahui kemana perginya teman es kalian itu.." seru Miss Rain menatap tajam keempat remaja di depannya


Walaupun status keempat orang itu adalah putri dan pangeran, itu tidak membuat Miss Rain takut pada mereka.


Mereka merasa tertekan dengan aura Miss Rain sehingga memutuskan untuk bersuara


"Keisya pergi ke luar academy untuk mencari tahu situasi.." seru Alvian merutuki bibirnya yang berkata jujur


"Mampus, aku bisa mati jika Keisya tau aku memberi tahu Miss Rain.." batinnya


Miss Rain terkejut "Ceroboh sekali.." serunya marah


"Aku disini bi, tidak perlu marah.." seru Keisya yang tiba-tiba muncul di samping Miss Rain


"Dari mana saja kau..?" seru Miss Rain bertanya dengan marahnya


"Aku hanya berjalan-jalan.." sahut Keisya santai


"Berjalan-jalan katamu? Apa kau tidak tahu hah, di luar sana ada yang mengincar kita. Apa kau mau menjadi es dan menghilang..?"


"Tentu saja tidak.."


"Jangan bertindak ceroboh lagi atau bibi akan menghukum mu.."


Miss Rain pun pergi meninggalkan mereka. Alvian menatap Keisya ragu.


"Maaf Key, ini salah ku. Kau jadi dimarahi Miss Rain" seru Alvian lirih


"Tidak apa, ini juga salah ku.." seru Keisya datar


"Jekuatan apa yang dimiliki wanita itu.." batinnya.


"Kekuatannya bisa membuat banyak orang menghilang hanya dengan menggunakan bongkahan es.."


Selesai...


Jangan lupa vote dan comment ya gays.


Dan untuk kalian yang sudah membaca cerita ku ini


terima Kasih ya.


Merci.