The World Of The Magic

The World Of The Magic
Penasaran..



Hari ini semua murid di Academy Magica di


Perbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing karena para guru sedang rapat. Mereka diliburkan selama dua hari.


Zou dengan semangat mengemasi barangnya membuat Alvian yang melihatnya bergidik kesal.


"Kau terlalu semangat Zou.." seru Alvian


"Itu harus. Karena aku sangat merindukan ibu dan ayah ku.."


"Begitu ya..." seru Alvian singkat


Zou menatap Alvian "Kau kenapa? Apa ada masalah..?"


Zou duduk di pinggir kasur setelah dia selesai mengemasi barang-barang bawaannya.


"Tidak, hanya saja aku sedang memikirkan tentang Key.."


"Kenapa? Ah, aku tahu kau pasti mulai menyukainya ya.." goda Zou membuat wajah Alvian mendadak kaku


"Tidak. Bukan itu yang kumaksud.." seru Alvian


"Lalu.." sahut Zou mengangkat sebelah alisnya bingung


"Aku masih penasaran mengenai siapa sebenarnya Key. Apa kau tidak merasa aneh jika selama ini sebagian guru selalu memanggilnya dengan sebutan yang mulia putri sedangkan jika menyebut Alina atau Sergia mereka hanya menyebutnya dengan sebutan putri saja, tanpa embel-embel yang mulia. Apa mungkin Key itu adalah putri dari Raja Argus..?"


"Padahal kita tidak pernah sekali pun melihat Key di sekitar kerajaan yang pernah kita kunjungi sebelumnya.." seru Alvian mengungkapkan unek-uneknya


"Kau benar juga, lalu kita harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan untuk mencari tahu kebenaran tentang Key...?"


"Kita harus menyelidikinya.." seru Alvian


Mereka berdua pun keluar dari asrama dan segera menuju gerbang karena mereka yakin Sergia dan Alina sudah menunggu kedatangan mereka.


Dan benar saja kedua putri itu sudah berada disana dan tengah memasang wajah garangnya, karena mereka terlambat datang.


"Dari mana saja kalian.." seru Sergia ketus dan sesekali mata putri vampir itu berkilat merah


"Maaf kami telat, tadi ada sedikit perbincangan yang serius.." seru Zou


"Perbincangan serius? Mengenai apa..?" tanya Alina penasaran


"Nanti kami ceritakan, lebih baik sekarang kita berangkat.." seru Alvian yang dibalas anggukan setuju dari teman-temannya


***


Di balik bukit Takagama di desa Asanka, terdapat sebuah gua yang dilindungi oleh barier sihir. Tidak ada yang bisa melihat gua itu kecuali sudah mendapat tanda berupa tanda bintang di dahinya yang diberikan oleh si pemilik gua.


"Lalu apa rencana anda yang mulia putri..?" tanya Draka pada Key, saat ini mereka tengah berdiskusi di gua itu.


Gua itu merupakan markas Key dan Draka, tidak ada sihir yang mampu menembus ketahanan barier yang melindungi gua tersebut.


"Aku harus bisa masuk ke dimensi-nya


Draka.."


"Sepertinya itu ide yang buruk, bagaimana jika anda tidak bisa keluar dari dimensi itu? Lalu bagaimana jika anda tertipu dengan ucapan si penyihir kristal itu.."


"Jadi harus bagaimana? Aku harus bisa menyelamatkan semua rakyat white land Draka..."


"Aku tahu itu yang mulia putri tapi setidaknya anda harus memiliki rancana yang benar-benar matang.." sahut Draka


"Kita tidak bisa menghindar dari es-nya, itu artinya untuk saat ini kita harus membuat sebuah barier yang kuat di tiap desa agar Emma tidak bisa menembus pertahanan setiap desa.." sambung Draka


Draka memang hanya seekor naga, tapi cara berpikirnya sama seperti penyihir pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa Key selalu meminta pendapat Draka sebelum melakukan rencananya.


"Barier ya...." lirih Key


"Apa yang mulia putri tidak kembali lagi ke academy..?" tanya Draka


"Sepertinya tidak. "


"Jika aku boleh memberikan saran, sebaiknya yang mulia putri kembali ke academy.."


"Memangnya kenapa...?"


"Karena aku yakin salah satu buku di perpustakan academy itu pasti menyimpan sebuah cara untuk menghentikan Emma dan mengembalikan semua orang yang menghilang..." jelas Draka


"Astaga, kau benar Draka.." seru Key senang dia langsung memeluk Draka dengan erat


"Lepas yang mulia..." seru Draka kesal


"Tapi para putri dan pangeran itu mencurigaiku..." seru Key lagi


"Mencurigai bagaimana...?"


"Iya bibi Rain membantu mereka melacak keberadaanku dan aku yakin mereka menggunakan kristal ball. Mereka tahu aku di black land...."


"Bibi Rain benar-benar merepotkan..."seru Draka


"Iya dia memang selalu seperti itu..."


"Sebaiknya yang mulia putri kembali ke academy..."


"Baiklah, aku akan kembali..."


Key pun bertelportasi menuju academy magica, dia akan mengikuti proses belajar disana seperti biasanya.


"Academy Magica, aku kembali..." seru Key dengan senyum tipisnya


Key berjalan santai di lorong academy, dia pergi ke cafetaria, padahal waktu makan siang telah lewat tapi dia tidak peduli.


Ditariknya sebuah kursi yang berada di pojok ruangan, dia sengaja berada di sana agar kehadirannya tidak begitu mencolok.


Key menekan tombol di atas meja dan menyebutkan pesanannya, setalah itu dia harus menunggu beberapa menit.


Key memperhatikan suasana academy yang sepi, keningnya berkerut 'kemana semua orang' pikirnya.


Seorang elf mengantar pesanan Key dan meletakkannya di atas meja.


"Maaf, apa kau tahu dimana semua orang? Aku tidak menemukan teman-temanku sedari tadi..." seru Key bertanya pada elf itu


"Semua murid dipulangkan ke rumah masing-masing karena guru mengadakan rapat penting. Apa kau membolos sehingga tidak mendengar pemberitahuan...?" tanya pelayan elf itu


"Begitu ya, terimakasih. Dan ya aku membolos seharian ini..." seru Key membuat elf itu geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil  


Key memakan kue muffin yang sudah terhidang di mejanya dengan pelan dan santai. Beginilah yang dia inginkan, tidak ada yang mengganggunya.


Key melangkah menuju asramanya, dia tidak ingin pulang ke istana, padahal dia tahu jika ibunya sangat merindukan dirinya.


dihempaskan-nya badannya di atas kasur yang berukuran queen size itu, matanya memandang langit-langit kamar.


"Aku yakin mereka akan mencariku dan membantuku untuk menjaga negeri magical ini.." seru Key lalu perlahan demi perlahan matanya terpejam menuju alam mimpi.


Sementara di black land, Raja Ergus tengah berbincang dengan Emma,


"Sepertinya kau cocok untuk menggantikan posisi panglima yang telah lama kosong.." seru Raja Ergus


"Dan melihat cara kerja mu aku menjadi yakin kalau kau bisa menjadi panglima ku. Apa kau mau menjadi panglima ku..?" sambungnya


"Tentu saja yang mulia.." sahut Emma


tersenyum lebar sambil menunduk hormat


"Sudah lama aku menantikan posisi itu, dan kini posisi itu sudah menjadi milikku haha.." batin Emma tertawa


"Baiklah, mulai sekarang kau resmi menjadi panglima ku.." seru Raja Ergus


"Danzo, umumkan ini kepada seluruh rakyat black land.." sambungnya yang diangguki oleh Danzo yang menjabat sebagai jendral penyihir black land


"Saya permisi yang mulia..." sahutnya kemudian dia menghilang dalam kedipan mata


"Terima kasih untuk kepercayaan yang telah anda berikan kepada saya yang mulia.." seru Emma menyeringai


"Tentu saja, dan kuharap kerja mu kedepan tetap bagus dan tidak mengecewakan.."


"Pasti yang mulia. Saya tidak akan pernah mengecewakan anda, saya berjanji..." seru Emma


"Aku pegang janjimu Emma Delva..." seru Raja Ergus menatap tajam ke arah Emma


"Tentu saja yang mulia...."


Setelah itu Emma keluar dari ruang tahta dengan senyum sinisnya menatap pelayan yang berlalu-lalang di hadapannya sambil menunduk hormat.


"Jadi begini ya rasanya berada di posisinya Reynand...." batin Emma


Selesai....


Jangan lupa vote dan comment ya gays.