The World Of The Magic

The World Of The Magic
Apa yang sebenarnya terjadi..



Kania mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menatap ke arah wanita cantik yang saat ini tersenyum dan seorang pria tampan.


"Ini dimana, bukankah aku mati karena tertembak. Lalu siapa mereka..?"


Oek... Oek... Oek...


Kania terkejut saat suaranya malah berubah menjadi tangisan bayi. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Uhh sayang apa kau merindukan ibumu..?" tanya sang Raja yang mencoba mengajak anaknya berbicara


Oek... Oek..


kembali suara itu yang terdengar saat Kania berusaha menjawab pertanyaan dari sang Raja.


"Sial, apa yang terjadi padaku..? tidak mungkin kan aku berpindah dimensi seperti di novel-novel itu." gerutu Kania kesal


"Sepertinya dia memang merindukan ibunya yang mulia Raja." seru wanita itu


"Sepertinya memang benar aku mengalami perpindahan dimensi.." lirih Kania sedih dan dia pun membayangkan wajah Andrew dan hal itu tambah membuatnya sedih


"Baiklah, jangan sedih putriku mari kita lihat keadaan ibumu dulu apakah dia sudah sadar atau belum.." sahut sang Raja saat melihat raut wajah sedih putrinya


Raja itu membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar bersama wanita cantik itu. Di atas ranjang Kania bisa melihat ada seorang wanita cantik yang berwajah pucat dengan mata terpejam dan nafas yang teratur.


"Mungkinkah wanita itu yang disebut sebagai ibuku oleh pria ini..?" batin Kania sambil menatap wanita itu dalam diam


"Ratu ku belum sadar. Ramuan yang diberikan tabib itu lama sekali bekerja.." lirih sang Raja sedih padahal dia ingin sekali melihat binar mata sang istri


Ntah kenapa saat mendengar nada sedih dari sang Raja, Kania pun turut merasakan kesedihan itu. Air mata Kania tiba-tiba saja menetes saat membayangkan wajah Mamanya di dunia modern.


Oek... Oek... Oek...


Tangisan Kania kembali terdengar disertai tangannya yang melambai-lambai minta di gendong oleh sang ibu.


"Sabar sayang ibumu belum bangun.." seru wanita cantik itu lalu mengambil Kania dari gendongan sang Raja


Bukannya berhenti menangis Kania malah tambah terisak membuat sang Raja dan wanita cantik itu panik. Di tengah kepanikan itu mereka akhirnya meletakkan Kania tepat di samping sang Ratu dan ajaibnya Kania langsung berhenti menangis.


Helaan nafas lega dari bibir sang Raja dan wanita itu membuat senyum tipis tersungging di wajah Kania. Lalu, Kania pun menggerakkan jari mungilnya hingga sebuah cahaya hijau melesat ke arah sang Ratu.


Sang Raja dan wanita itu yang menyaksikan hal tersebut di buat melongo. Bagaimana mungkin seorang bayi bisa mengeluarkan kekuatannya.


Cahaya hijau itu membungkus tubuh sang Ratu hingga tak berapa lama mata yang tadinya tertutup mulai terbuka perlahan.


Senyum Kania mengambang kala melihat sebentar lagi ibunya akan sadar.


"Aku sudah memutuskan untuk menerima kehidupanku yang sekarang dan aku berjanji akan melindungi semua orang yang ku sayang.." batin Kania dengan senyum tulusnya


"Ba.. Bagaimana mungkin.." seru Wanita itu terkejut sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya


"Putriku benar-benar jenius, masih bayi sudah bisa mengeluarkan kekuatannya.." seru sang Raja takjub


"Kau sudah sadar Azu, katakan di bagian mana yang sakit..?" tanya Raja Argus sambil mengelus rambut Ratunya


"Aku baik-baik saja yang mulia.." sahut Ratu Azusa sambil mengalihkan tatapannya pada bayi yang berada di sampingnya


"Putriku.." lirih Ratu Azusa dengan senyum bahagia dan tak lupa binar indah di matanya


"Putrimu sungguh ajaib Azu, dia sudah bisa mengeluarkannya kekuatannya.." seru wanita yang sedari tadi diam


"Apa maksud mu kak Rain..?" tanya Ratu Azusa bingung


"Tadi putrimu mengeluarkan sihir penyembuh untuk membuatmu sadar Azu.." seru Rain dengan tatapan kagumnya


"Apa..? Itu tidak mungkin kak, mana ada bayi bisa mengeluarkan kekuatannya.." sanggah Ratu Azusa dengan cepat


"Itu benar sayang aku juga melihatnya.." sahut Raja Argus


Ratu Azusa sangat terkejut dengan perkataan suami dan juga kakaknya yang mengatakan kalau putrinya sudah bisa mengeluarkan sihirnya. menurutnya itu tidak mungkin karena di dunia ini seorang anak akan menunjukkan kemampuannya saat dia sudah berusia 5 tahun.


"Sepertinya ibumu tidak percaya padamu sayang, bagaimana jika kau menunjukkannya sekali lagi.." seru sang Raja membujuk Kania dengan senyum manisnya


Seolah mengerti bayi itu kemudian mengangkat kembali jarinya dan tiba-tiba saja air yang berada di gelas melayang dan tumpah ke lantai.


Ratu Azusa menutup mulutnya tidak percaya dengan keajaiban yang dilihatnya. Putrinya yang baru saja lahir bisa mengeluarkan kekuatannya bahkan bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik.


"Bagaimana mungkin..." gumam Ratu Azusa sambil menatap putrinya dan air yang tumpah bergantian


Kania yang melihat respon seperti itu dari sang ibu hanya menatap ibunya dalam diam dan sesekali tersenyum lembut.


"Sudahlah, biarkan saja. Aku ingin tahu kalian membuat nama apa untuk keponakan ku.." seru Rain mengalihkan pembicaraan karena malas membahas kekuatan sang keponakan karena dia merasakan kalau keponakannya itu memiliki kekuatan yang besar. Dan hal itu dapat dirasakannya dari aura yang di pancarkan oleh bayi itu


"Benar yang diucapkan kak Rain yang mulia Raja, nama apa yang cocok untuk putri kita yang cantik ini..?" tanya Ratu Azusa sambil tersenyum lembut pada suaminya


"Aku sudah memikirkan ini sebelumnya tapi aku tidak tau apa kau dan kak Rain menyukainya.." seru Raja Argus sambil menatap putrinya dengan serius


"Memangnya nama seperti apa yang sudah kau siapkan..?" tanya Rain yang diangguki oleh Ratu Azusa


"Aku memberinya nama KEISYA AZURA EMERALD.." seru Raja Argus tegas


"Nama yang indah.." celetuk Rain


"Iya benar nama itu sangat indah dan sangat cocok untuk putriku.." sahut Ratu Azusa


"Baiklah sayang sekarang namamu adalah Keisya Azura Emerald. Kau adalah putri mahkota kerajaan Emerald, doa ku semoga kau bisa menjadi pemimpin yang bijaksana.." sambung Ratu Azusa sambil mengelus rambut putri Keisya


(Note: sekarang nama Kania kita ganti menjadi putri Keisya oke..)


Setelah berbincang sebentar, Rain pun beranjak pergi meninggalkan Raja dan Ratu yang sedang berbahagia dengan kelahiran putri pertama mereka.


Sedangkan putri Keisya memilih untuk menutup matanya dan tidur karena tidak ingin melihat kemesraan dari kedua orang tuanya.