The World Of The Magic

The World Of The Magic
Ada yang aneh..



Seminggu telah berlalu, semua pasukan dari berbagai kerajaan di wilayah white land semakin semangat berlatih. Miss Rain pun terlihat memantau perkembangan setiap murid Magica academy yang akan turun ke Medan perang. Awalnya hanya para senior yang akan pergi, namun murid middle memohon agar diberi ijin untuk ikut membantu.


Mrs Amel selaku kepala sekolah pun hanya bisa mengangguk untuk memberi ijin terlebih Keisya juga sudah mengiyakan.


"Bi.." panggil Keisya menghampiri Mrs Rain yang sedang fokus melatih seorang siswa middle


"Ada apa Key..?"


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu bi.."


Seolah mengerti Mrs. Rain pun memilih mengajak Keisya ke ruangannya. Lalu setelah berada disana dia memasang perisai pelindung agar tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka.


"Jadi ada apa..?" tanya Mrs. Rain tanpa basa basi


"Aku ingin pergi ke black land lagi, aku ingin memantau pergerakan mereka.." seru Keisya tanpa melihat ke arah bibinya


"Tidak bisa, mereka sudah mengetahui kamu bisa jadi mereka akan menjebak mu disana.." tolak Mrs. Rain dengan keras


"Bi, aku bisa menjaga diriku sendiri. aku juga bisa pastikan kalau mereka tidak akan bisa menjebak ku.." sahut Keisya lalu menoleh ke arah bibinya


"Tapi Key.."


"Sudahlah bibi tinggal mencari alasan jika ayah dan ibu bertanya.. aku pergi dulu, sampai bertemu nanti bi.." seru Keisya memotong perkataan Mrs. Rain


Keisya berteleportasi ke hutan white land, disana sudah ada Draka yang menunggu bersama dengan rekannya.


"Aku akan memantau pergerakan penyihir black land bersama Draka. Jadi, aku menitipkan wilayah white land pada kalian dan mungkin aku akan datang tepat di saat perang berlangsung.." seru Keisya membuat semua rekannya terkejut mengenai keputusan sepihak itu


"Tapi leader bagaimana jika terjadi sesuatu pada leader.." seru Arzou cemas


"Tidak perlu mencemaskan keadaan ku, cukup patuhi perintahku.." sahut Keisya datar


"Baik, saya percaya pada leader.. jika begitu leader harus pulang tanpa luka dan dengan keadaan baik-baik saja.." seru Sergia sambil menundukkan kepalanya


"Gia, mengapa kamu malah setuju bagaimana jika mereka mencelakai leader..." seru Alina marah


"Aku setuju bukan tanpa alasan. selama ini leader selalu bisa menjaga dirinya sendiri dan aku percaya kali ini pun akan tetap sama. Jadi, leader jagalah kepercayaanku ini.." sahut Sergia lagi


"Tidak bisa begitu, jika leader ingin pergi maka leader harus membawa ku menemani anda.." kali ini Alvian yang bersikeras tidak memperbolehkan Keisya untuk pergi


"Tidak perlu, aku sudah memiliki Draka. dia yang akan menemani perjalanan ku, kalian hanya perlu memantau situasi di wilayah white land.."


"Tapi Leader..."


"Sudahlah Alvian biarkan leader pergi bersama Draka.." seru Sergia


"Apa maksudmu hah..? apa kau sangat ingin leader celaka.." bentak Alvian membuat Sergia menatap langsung wajahnya dengan mata yang berkilat merah


"Sudah kubilang leader akan baik-baik saja. Aku juga sangat mengkhawatirkannya tapi tidak perlu berlebihan. Yang mulia putri Keisya sangat hebat dia tidak akan mungkin mati dengan mudah.." bentak Sergia dengan marah


"Sudah cukup, kalian membuat telingaku rusak karena mendengar suara kalian.." ucap Keisya sinis "Ayo Draka kita pergi.."


"Kalian ingat dengan perkataan Dewi mimpi, jangan memaksa jika Yang mulia putri tidak mau bukan..?" lirih Sergia saat Keisya sudah tidak lagi ada di tempat dia berdiri


Alina, Arzou dan Alvian pun terdiam saat ucapan Dewi mimpi terngiang di kepala mereka.


Keisya menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. dia berjalan dengan santai sambil sesekali mencuri-curi pandang terhadap orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Dia memilih mengambil jalan pintas menuju sebuah sungai yang berada tidak jauh dari kerajaan pamannya Ergus. Namun, saat sampai di sungai itu, Keisya melihat jendral Danzo sedang duduk sambil melempar air sungai dengan batu krikil. Seolah dejavu, Keisya merasa sangat akrab dengan gaya dan cara yang dilakukan oleh jendral Danzo tersebut.


Keisya pun memilih naik ke atas pohon yang disandari oleh jendral Danzo menggunakan kekuatan sihir anginnya. dia kembali melihat jendral Danzo yang kini memasang ekspresi gelisah seolah-olah sedang memeluk beban berat.


"Ahhhh, sebenarnya dunia apa ini..." teriak jendral Danzo dengan keras


terkejut, tentu saja. seperti ada yang aneh dengan jendral Danzo ini, masa iya dia tidak mengenal dunianya sendiri. Keisya mengerutkan keningnya heran sambil memiringkan kepalanya ke samping karena masih bingung dengan perkataan jenderal Danzo.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya..?" batin Keisya bingung


"Hah, jika saja mobilku tidak menabrak pembatas jalan itu aku tidak mungkin akan berada disini.." ucapnya lagi


Lagi dan lagi hal itu mengundang tanda tanya besar pada diri Keisya mengenai siapa sebenarnya jendral Danzo ini.


"Well, kau sepertinya bingung dengan duniamu sendiri jendral.." seru Keisya yang terpaksa menunjukkan jati dirinya pada jendral Danzo


Danzo terkejut dan menoleh kebelakang. gadis berjubah hitam dengan bola mata berwarna Emerald.


"Siapa kau..?" seru jenderal Danzo sambil menodongkan pedangnya


"Santai saja, aku tidak akan mencelakai mu tapi kau harus merahasiakan keberadaan ku selama di sini.."


"Kenapa aku harus merahasiakannya..?"


"Karena aku tidak ingin ada seseorang yang tau dengan keberadaan ku disini.." ujar Keisya dengan senyum miringnya "Aku tau kau bukan dari dunia ini, siapa kau sebenarnya..?" lanjut Keisya bertanya


Danzo terkejut, dia semakin waspada dan mengeratkan pegangannya pada pedang yang kini masih berada di depan wajah Keisya.


"Siapa kau..?" tanya Danzo waspada


"Tidak sopan, seharusnya kau menjawab terlebih dahulu pertanyaan ku baru aku akan menjawab pertanyaan mu.." seru Keisya dengan mata yang menyorot tajam


"Aku jendral Danzo.."


"Haha.. kau tidak bisa berbohong padaku. jika kau jendral Danzo maka kau akan mengenal ku.."


"Katakan saja siapa dirimu jangan banyak bicara.."


Keisya pun menggunakan kekuatannya untuk mengontrol pergerakan jendral Danzo hingga pedang itu berbalik dan tersimpan rapi di balik lehernya. Bergerak sedikit saja maka pedang itu akan menggorok lehernya.


"Apa..!!!" seru Danzo terkejut dengan apa yang terjadi baru kali ini dia melihat ada yang bisa mengontrol pergerakan dirinya. selama dia berada di istana, dia belum pernah melihat kekuatan seperti ini. bahkan Emma yang merupakan ilmuwan terhebat di black land tidak dapat mengontrol pergerakan lawan kecuali monster-monsternya.


"Cepat katakan jika tidak pedang ini akan memisahkan kepala dan lehermu.." seru Keisya dingin


"Aku jendral Danzo.. jendral kerajaan black land


"Katakan dengan benar, jika tidak aku tidak akan segan-segan melakukannya.."


"Baiklah, aku akan mengatakannya.. tapi jauhkan dulu pedang itu, kau membuat ku tidak bisa bernafas.." seru Danzo terbata-bata sebenarnya dia tidak takut hanya saja dia belum mengenal dunia itu


"Namaku Adalah......"