The World Of The Magic

The World Of The Magic
Kemenangan..



"Kau lihat bukan kekuatan ku bahkan jauh diatasmu.. " sinis Ergus menatap tajam keponakannya yang masih berusaha berdiri sambil memegang dadanya erat dan darah segar mengalir dari mulutnya


"Walaupun kekuatan mu diatas ku, aku tetap tidak akan menyerahkan negeri ini padamu sampai titik darah penghabisan.. " seru Keisya dingin dengan senyum miring menghiasi bibirnya yang tipis berlumur darah


"Keras kepala... rasakan ini.. " teriak Ergus lalu menyerang Keisya lagi dengan gabungan kekuatan gelap


Keisya membalas serangan pamannya dengan bantuan batu safir. dia menyerap kekuatan batu safir hingga ledakan dahsyat terjadi yang menyebabkan mereka berdua terlempar jauh.


Ergus terbatuk dan memuntahkan darah hitam dari mulutnya. ternyata pamannya itu sudah tenggelam dalam kegelapan hingga darahnya pun sudah bertukar warna.


"Yang mulia, jika darah pangeran Ergus berubah warna menjadi hitam itu tandanya akan sangat sulit membawanya kembali.. " ucap batu safir itu


"Tenanglah, aku tau caranya untuk membawa paman ku pulang. ini sudah manjadi janji ku pada ayahku.. "


Keisya berjalan dengan perlahan dengan dagu terangkat angkuh. saat sampai di depan Ergus dia menatap tajam pamannya kemudian berdecak malas.


"Darahmu sudah bertukar warna menjadi hitam, kegelapan sudah memenuhi hatimu hingga tidak bisa membedakan mana yang suci dan mana yang harus kau hindari.. "


Ergus mendongak menatap Keisya dengan tatapan marah karena saat ini dia tidak dapat bergerak itulah efek samping dari kekuatan yang sudah diserap Keisya dari batu safir.


"Berhentilah berbicara, aku sangat membencimu dan ayahmu.. "


"Kau boleh membenci ayahku dan diriku, tapi asal kau tau ayahku selalu menunggu kepulangan dirimu ke istana. Tidak tau saja jika adik yang di tunggu malah ingin membunuh dirinya.. "


"Dia yang mengambil semuanya dariku, tahta, suara rakyat bahkan satu pun tak ada yang membelaku bahkan orang tua sekalipun.. " geram Ergus marah sesekali sorot matanya yang menajam dengan manik yang berubah-ubah dari emerald ke hitam


Keisya tau kalau sebenarnya masih ada rasa sayang di hati pamannya namun semua itu di tutupi oleh kebenciannya. Tugas Keisya hanya menyingkirkan kebencian itu dengan sedikit bantuan dari batu safir.


"Ayahku tidak merebut apapun darimu.." sahut Keisya tersenyum miring "Bukankah ayahku adalah putra mahkota, sudah sewajarnya ia naik tahta bukan. mengenai rakyat, bukankah kau yang membuat mereka tidak ingin membuat petisi untukmu. Sifatmu yang buruk dan selalu memperlakukan rakyat semena-mena membuat rakyat membencimu"


"Itu tidak benar, mereka selalu senang jika aku memerintah mereka.. Kau tidak tau apa-apa anak kecil.. "


"Begitu haha.. " Keisya tertawa lantang lalu menatap tajam ke arah Ergus "Kalau mereka senang karena kau perintah lalu mengapa mereka tidak memilihmu waktu itu, bahkan hanya nenek yang berpihak pada mu itu pun kau membentaknya. Kau tidak pantas menjadi seorang anak apalagi menjadi seorang Raja, benar-benar memalukan.. "


Makian demi makian Keisya lontarkan pada Ergus disertai sihir cahaya perlahan masuk ke tubuhnya tanpa di sadari olehnya. Keisya tersenyum tipis saat sihirnya perlahan sudah mulai berhadapan dengan sihir hitam dari tubuh Ergus.


"Arrrggghhh... " teriak Ergus memilukan kala uap hitam keluar dengan paksa dari tubuhnya. seolah jiwanya ikut terserap dan hilang, dia menatap sosok gadis yang menjadi keponakannya dengan mata tajam


"Apa yang telah kau lakukan padaku.. " lirih Ergus terbata-bata


"Hanya ingin memastikan kekuatan gelap pergi darimu.. " jawab Keisya dingin


Uap hitam itu keluar lalu membentuk sebuah jiwa yang menyeramkan.


Iblis.


yah, itulah yang merasuki pamannya selama ini hingga membuat perilakunya sangat buruk.


"Beraninya kau.. " suara gerakan seperti hewan itu keluar dari arah uap hitam berbentuk jiwa itu


"Aku adalah milik dari diriku sendiri, aku bukan milik mu.. " geramnya marah sayangnya dia tidak bisa menyerang Keisya karena dia hanyalah sebuah jiwa tanpa raga


Keisya yang tidak ingin berlama-lama ditambah perang ini sudah berlangsung selama 3 hari membuat Keisya lelah. dia langsung menutup matanya lalu terlihatlah kedua bola matanya yang berbeda. dimana bola mata sebelah kanan memperlihatkan wilayah white land dan sebelah kiri memperlihatkan wilayah black land. itu adalah bukti bahwa Keisya bukan hanya sekedar Ratu masa depan negeri Magical namun dia juga adalah pemilik negeri Magical ini.


"Kembalilah kepada pemilikmu jiwa yang gelap ingin menguasai dunia.. " gumam Keisya membuat jiwa itu menjerit ketakutan dan dan berubah menjadi glitter


"TIDAKKKKK.... AKU TIDAK MAUUUU... " teriaknya dan perlahan masuk ke dalam tubuh Keisya


Suasana mendadak sunyi, Keisya mengarahkan tatapan ke Ergus namun pamannya itu sedang tidak sadarkan diri. jentikan jari dari Keisya membuat waktu kembali berputar. dia juga membuka kubah pelindung hingga membuat orang-orang bisa keluar dengan leluasa jika ingin menghampirinya.


Andrew berlari dan menghampiri keisya "Kau berhutang penjelasan padaku.. " ucapnya


keisya tersenyum tipis lalu mengangguk kecil.


"Kau membuat ayah khawatir Key, bagaimana jika ibumu tau sudah pasti dia akan marah pada ayah.. " seru Raja Argus menghampiri dan memeluk putrinya


"Ibu pasti akan memakluminya ayah.. " sahut Keisya


"Kau baik-baik saja..? " tanya Alvian sambil membolak-balikan tubuh Keisya


"Apa yang kau lakukan.. " seru Keisya dingin sambil melepaskan tubuhnya dari Alvian


Alvian terdiam, dia menatap nanar Keisya yang sama sekali tidak ingin dia sentuh. hatinya kembali tertusuk pedang saat Keisya malah berjalan melewatinya sambil menggandeng tangan Andrew.


"KITA KEMBALI KE ISTANA, KEMENANGAN BERADA DI TANGAN WHITE LAND. JANGAN LUPA BAWA PANGERAN ERGUS KE ISTANA.. " teriak Keisya dengan lantang lalu dia menghilang bersama dengan Andrew dibalas dengan sorak-sorakan bahagia dari semua pasukan yang masih hidup


Arzou menepuk bahu Alvian dengan tatapan penuh semangat "Aku tau kau menyukai leader, tapi sepertinya cinta mu tidak berbalas sobat.. " bisiknya pelan


"Aku membenci pria asing itu, dia merebut leader dari kita.. " sinis Alvian


"Tapi sepertinya mereka sudah saling mengenal dari lama.. " sambung Alina yang berdiri di samping Alvian


"Sepertinya memang iya.. " sahut Arzou


Sergia hanya diam, dia tidak berniat untuk ikut berbincang dengan sahabatnya. dilihatnya semua sudah kembali pulang dengan mengendarai kuda. Sergia menatap ke arah hutan, disana terlihat werewolf coklat alias alpha Darren masih menatap ke arahnya dengan seringai.


dengan cepat dia mengalihkan pandangan ke depan dan berlalu pergi bersama Alvian dan yang lain.


"Gia ada apa.. ? " tanya Arzou yang merangkul Sergia


"Tidak apa-apa Zou, aku hanya sedikit lelah dengan perang ini.. "


Dari balik pepohonan itu terlihat Darren yang menggeram saat melihat Sergia dirangkul oleh lelaki lain. dia melolong hingga membuat para kaum human menatap ke arah hutan lebat tersebut.


Sergia mendadak melepaskan rangkulan Arzou saat mendengar lolongan itu. entah mengapa dia sangat merasa jika lolongan itu berasal dari Darren sang alpha king.


"Kemenangan yang paling di tunggu akhirnya tercapai setelah tenaga dan kekuatan kita benar-benar terkuras habis.. " seru Alina dengan tatapan berbinar menatap langit malam