
Setelah pelajaran bersenjata selesai, Keisya memutuskan untuk pergi ke taman. Dia duduk di bawah pohon persik yang tumbuh disana lalu menutup matanya.
"Kau sendirian lagi..?" suara seseorang di belakangnya membuat Keisya membuka mata dan menolehkan kepalanya kebelakang
"Hmm.." sahutnya dengan deheman
"Mengapa tidak ikut bergabung dengan yang lainnya..?" tanya suara itu lagi
"Tidak apa-apa.." sahut Keisya dingin
"Apa kau tidak bisa mengajariku untuk mengembangkan sihirku? Seperti kau mengajari Sergia..?" tanya suara itu lagi
"Sudah ku katakan pangeran Zou, kau harus bisa mengubah sifat mu baru aku akan mengajarimu.."
Keisya kemudian menghilang dari samping Zou membuat pemuda itu menghela nafas pelan
"Mengapa susah sekali mendekatinya.." lirih Zou
Sementara itu di ruangan Miss Rain terlihat Keisya yang sedang duduk berpangku tangan sambil menatap bibinya yang sedang mengerjakan beberapa berkas data-data siswa.
"Jadi apa yang akan kamu katakan Key..?" tanya Miss Rain sambil menutup berkas terakhirnya
"Menurut mu apa Bi..?" tanya Keisya balik dengan sinis
"Tentang Reynand Nort." tebak Miss Rain
Keisya memasang sebuah pelindung di sekitar ruangan Miss Rain agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Jadi, bagaimana menurut mu tentang anak baru itu Bi..?" tanya Keisya santai
"Key, menurut bibi dia sama dengan anak baru lainnya, tidak ada yang mencurigakan. Tapi mengapa kamu beranggapan bahwa dia yang memiliki aura gelap itu..?" sahut Miss Rain sambil bertanya
"Hah, biasa saja ya. Bagaimana jika aku mengatakan kalau marganya bukan Nort. Apa yang akan kau lakukan bi..?" tanya Keisya dengan nada dingin sambil berdiri dari kursinya
"Apa maksud mu..?" tanya Miss Rain semakin tidak mengerti
"Bibi- bibi, ku kira kau peka terhadap sihir yang berada di sekitarmu tapi ternyata kau juga sama dengan yang lainnya.." sahut Keisya dengan keras
"Dia tidak memiliki sihir ilusi Key, dia hanya memiliki sihir api.." ucap Miss Rain membantah
Keisya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Miss Rain lalu mengucapkan sebuah mantra
"Bevry hom van die gabonde illusie."
Setelah mengucapkan mantra itu, Miss Rain pun terbebas dari ilusi yang sudah dibuat Reynand padanya.
"Maafkan bibi Key, bibi tidak percaya
padamu.." sesal Miss Rain
"Tidak apa, lagian bibi kan berada dalam ilusi miliknya.."
"Terima kasih sudah membebaskan bibi dari ilusi itu.."
"Ya.."
"Lalu mengenai maksud mu kalau Nort bukanlah marga aslinya, lalu siapa sebenarnya dia..?"
"Ternyata kau sudah lupa ya bi.."
"Lupa..?" ucap Miss Rain bingung mencoba mencari tahu apa maksud ucapan Keisya
"Iya bibi melupakan hal yang sangat penting. Bibi melupakan orang yang sudah merenggut kebahagian bibi dan ibu ku.." bentak Keisya dengan wajah memerah menahan emosi
"Apa maksudmu Key? Sungguh bibi tidak mengerti.."
"Namanya bukan Reynand Nort bi, melainkan Reynand Adarnort. Dia merupakan keturunan keluarga Adarnort, keluarga yang sudah membunuh kakek dan nenek ku dan mereka membuat ibu dan bibi menderita.." ucap Keisya dengan panjang setitik air mata jatuh ke pipinya tapi segera dia menghapusnya
Miss Rain terdiam, pikirannya kosong setelah mendengar nama yang membuat dia dan adiknya Azusa menderita.
Sejujurnya Miss Rain adalah sepupu dari Ratu Azusa ibunya Keisya namun sedari kecil Miss Rain sudah diasuh oleh neneknya Keisya dikarenakan kedua orang tua Miss Rain sudah meninggal. Jadi sewaktu insiden kematian kekek dan neneknya Keisya terjadi Miss Rain dan Ratu Azusa begitu menderita mereka hidup dalam tekanan keluarga Adarnort hingga akhirnya seorang pemuda bernama Dante anak buah keluarga Adarnort berkhianat. Dia membawa Ratu Azusa dan Miss Rain pergi dari rumah keluarga Adarnort.
Tapi naas, ada yang melihat Dante dan melaporkannya pada keluarga Adarnort. Dante ditangkap dan disiksa dengan begitu keji, sungguh biadab memang keluarga Adarnort ini. Miss Rain dan Ratu Azusa kala itu tidak bisa berbuat banyak, lagi pula Dante menyuruh mereka untuk pergi dan tidak usah memikirkan nasibnya.
Dengan berat hati mereka berdua pun berlari dengan sekuat tenaga, mereka tidak ingin menyia-nyiakan usaha Dante yang telah menyelamatkan mereka.
"Bi, bibi..." panggil Keisya membuyarkan lamunan Miss Rain tentang masa lalunya
"Ah iya, maaf bibi melamun.." ucap Miss Rain tersenyum hampa
"Apa? Bagaimana kau bisa tau..?" tanya Miss Rain terkejut
"Apa kau juga lupa tentang ku bi..?"
"Ah iya bibi ingat, kau adalah salah satu dari orang terpilih.." ucap Miss Rain tersenyum
"Bibi bangga padamu Key, walaupun bibi seringkali mengkhawatirkan mu tapi bibi selalu percaya pada mu.." sambungnya sambil memeluk Keisya
"Kau adalah permata hati keluarga Emerald, sungguh kami sangat menyayangimu.." batin Miss Rain
"Terima kasih bi sudah menyayangiku walaupun sifat ku sangat dingin. Dan iya aku juga menyayangi mu.." batin Keisya yang mendengar suara hati Miss Rain
Keisya melepas pelukan Miss Rain lalu menatap bibinya itu
"Aku ingin bibi hati-hati pada anak keluarga Adarnort itu, berusaha lah supaya dia tidak mengenali bibi lagi. Aku juga akan menjaga bibi dari jarak jauh.." ucap Keisya dengan nada dingin
"Baiklah terima kasih Key.." ucap miss Rain yang dibalas anggukan singkat dari Keisya
"Aku juga akan mencari tahu apa tujuan mereka mengutus Rey bersekolah disini.."
"Hati-hati Key, bibi sayang padamu.."
"Aku juga sayang pada mu bi.."
Lalu Keisya pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
Sementara di asrama terlihat Sergia yang mondar-mandir di ruang tengah, dia sedang menantikan kehadiran Keisya untuk kembali berlatih sihir.
"Tidak bisakah kau duduk Gia? Aku pusing melihat mu yang berjalan mondar-mandir seperti itu.." ucap Alina kesal karena ternganggu melihat aktivitas yang dilakukan Sergia sedari tadi
"Tidak bisa Alin, aku sedang menunggu Keisya datang.." sahut Sergia
"Sepertinya hari ini dia akan sedikit terlambat untuk menemuimu Gia.." ucap Alina
"Dia tidak pernah terlambat Alin, tidak
pernah.."
Pintu asrama pun terbuka dan terlihatlah Keisya yang berjalan dengan santainya.
"Astaga Key, kau darimana saja? Aku menunggu mu sedari tadi.." omel Sergia sambil berjalan ke arah Keisya yang memandangnya dengan datar
"Ada apa..?" tanya Keisya dingin
"Astaga kau pasti lupa, biar aku ingatkan lagi hari ini adalah jadwal aku latihan.." ucap Sergia kesal
"Maaf aku lupa, baiklah untuk hari ini kau ku liburkan.." ucap Keisya membuat Sergia menatapnya tidak percaya
"Sungguh..?" tanya Sergia sambil berjingkrak-jingkrak senang
"Iya..." ucap Keisya lalu melangkah menuju kamarnya
"Tunggu.." ucap Sergia menahan pergelangan tangan Keisya membuat gadis itu menatapnya seolah bertanya ada apa
"Tapi kenapa? Mengapa kau memberikanku hari libur? Biasanya kan tidak.." ucap Sergia bertubi-tubi
"Tidak apa, aku hanya ingin kau berlibur.." ucap Keisya kemudian masuk ke kamarnya
"Ada yang aneh.." ucap Alin berkomentar karena sedari tadi dia hanya diam mendengar obrolan singkat Sergia dan Keisya
"Maksud mu..?" tanya Sergia penasaran
"Apa kau tidak melihat matanya sedikit sembab, sepertinya dia habis menangis.." seru Alin seperti detektif
"Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikannya.." ucap Sergia yang dibalas anggukan dari Alin
"Sepertinya dia ada masalah, tapi apa ya..?" ucap Alin sambil meletakkan jari telunjuknya di dahinya khas dirinya ketika sedang berfikir
"Ntah lah Alin, mungkin kita bisa bertanya nanti setelah dia merasa sudah lebih baik.."
"Kau benar.."
Akhirnya Alin dan Sergia pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Selesai.....
Merci..